Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ayah yang Masih Gemar Berjudi di Usia Tua

Fuad Alyzen • Sabtu, 20 Desember 2025 | 18:00 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

KEBIASAAN buruk Santo (bukan nama sebenarnya), 50, selalu membuat anaknya bersedih. Di usia yang sudah tidak muda lagi, Santo masih suka bermain judi. Kebiasaannya ini kerap membuat susah keluarga. Jika tak memiliki modal selalu minta ke anak.

Sang anak khawatir karena di usianya yang hampir lanjut usia, semestinya Santo lebih banyak beribadah.

Sejak remaja, anak Santo sebut saja bernama Liya, 29, sudah sangat tidak menyukai kebiasaan sang ayah. Terkadang dia memberanikan diri untuk mengingatkan sang ayah. Walaupun itu tidak membuat sang ayah berubah sedikitpun.

Ayah dengan ibunya, selalu kontra. Karena hasil kerja yang diperoleh dari hasil bertani, Sebagian besar digunakan untuk berjudi. Bukan hanya itu, bahkan sang ayah selalu bermabuk-mabukan.

Hingga suatu ketika, ibu Liya meninggal dunia. Saat itu Liya masih duduk di sekolah menengah ke atas. Persis saat duduk di kelas dua, sekolah Liya sudah tidak normal. Faktor ekonomilah pemicunya.

Dahulu sang ibu yang selalu menyisihkan harta. Tapi semenjak ibunya tiada, dia selalu kesulitan.

Semua keuangan diatur sang ayah. Hingga Liya memutuskan untuk berhenti. Hingga pada akhirnya, Liya  menikah di usia yang masih belum cukup matang saat itu.

Beruntung sekali Liya memiliki suami yang pengertian. Sehingga suami selalu menjadi penyempurna keluarga Liya. Walaupun pekerjaannya serabutan, namun sang suami bisa memenuhi kebutuhan.

Sakitnya lagi, sang ayah kala itu menikah dengan perempuan yang selama ini tetangga ibunya. Liya mengira sebelum ibunya meninggal, hubungan mereka sudah terkoneksi.

Akhirnya istri baru sang ayah, dibawa pulang ke rumah orang tua sang ayah. Namun bukannya berubah. Kebiasaan itu justru membuat sang ayah semakin merajarela.  

“Berkumpul sama orang mabuk-mabukan dan tetap berjudi. Saya kadang memberanikan diri menegur. Tapi itu tak digubris oleh ayah,” kata Liya sembari duduk di teras rumah, Kamis (18/12) siang.

Hingga ekonomi Liya stabil, sejak itu sang ayah selalu mendekati Liya. Bukannya ingin bertemu cucu, melainkan meminta uang. Liya yang merasa dirinya sebagai anak, tidak tega saat sang ayah meminta uang. Sebab dirinya mengira uang itu digunakan untuk kebutuhan rumah tangganya.

Karena sudah tidak satu rumah, Liya awalnya mengira mungkin ayahnya mulai tobat. Akhirnya uang dari hasil pekerjaan, selalu disalurkan ke ayah.

Hingga suatu ketika, sang ayah meminta uang terbongkar. Ternyata selama ini uangnya selalu digunakan untuk kebiasaan lama: berjudi. Itu terungkap saat sang ibu sambung bercerita.

“Kalau pekerjaan ayah bertani. Saya kira uang itu untuk kebutuhan proses penanaman dan untuk membeli kebutuhan dapur. Hasilnya biar digunakan untuk bertani lagi,” ujarnya.

Karena kebiasaannya belum pudar, ini membuat Liya bersedih. Dia takut di masa tua ayahnya, kondisi semakin buruk. Karena sampai saat itu kebiasaan itu tidak berubah.

“Dua hari yang lalu ini saya kembali menegur. Saya takut jika saya tidak ada (mati), lalu ayah seperti geladangan di jalanan itu,” ujar ibu dari dua anak ini.

Saat ini setelah disadari kebiasaannya, sang ayah selalu meminta uang. Walaupun dirinya tersadar uang itu larinya ke judi, beberapa persen akan disisihkan ke istrinya.

Liya menginginkan sang ayah berubah. Karena manusia tidak akan selalu hidup. Semuanya akan mati. Jika mati meninggalkan hal buruk, itu menurutnya, membuatnya semakin bersedih.

“Saya tidak mau (ayah) begitu. Saya hanya bisa berdoa agar dia (ayah) bertobat,” katanya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#bertaruh #lanjut usia #ayah