MARTA (nama samaran), 35, masih tak menyangka berumah tangga bakal ternyata tak selamanya indah. Wanita yang kini menjadi abdi negara itu memilih untuk tetap berstatus single parent karena dia masih merasa trauma saat hidup bersama Abdi (juga nama samaran), 37, pria yang pernah mengisi hatinya.
Saat itu Marta masih menjadi pegawai kontrak di sebuah instansi pemerintah. Sementara Abdi juga sama. Mereka berdua bertemu dalam sebuah acara. Hingga sekitar sepuluh tahun silam, mereka akhirnya menikah.
Sebelum merajut rumah tangga, Marta mengira Abdi adalah sosok yang menyenangkan. Punya rasa tanggung jawab tinggi hingga royal. “Bukan hanya saat apel saja. Ketika ke luar ke manapun, dia yang selalu keluar uang,” kenang Marta.
Saat Abdi mengajak bertemu keluarganya, Marta makin senang karena mantan suaminya itu terbilang keluarga yang cukup meski sederhana.
Ibu Abdi juga sangat perhatian dan begitu berharap Marta menjadi menantunya. “Semuanya baik tapi ternyata itu hanya di awal,” beber Marta.
Singkatnya, Marta dan Abdi menikah. Hingga saat benar-benar menjalani rumah tangga, Marta baru tahu kalau ternyata Abdi punya topeng. Di balik sifatnya, Abdi ternyata orang yang sangat perhitungan.
“Wajar kan jika sudah menikah, suami pasti menafkahi istri. Nah, di awal pernikahan, saya belum pernah diberi uang dari gajinya,” beber Marta.
Saat itu Marta merasa, mungkin Abdi sedang menabung. Dia juga semula tak menyoal karena Marta sendiri sudah berpenghasilan meski honorarium dari pekerjannya tak seberapa.
Marta juga tidak pernah meminta karena saat itu mereka hidup masih satu rumah dengan orangtua.
“Dia bekerja di Puspo, sementara saya di Bangil. Tapi hampir setiap hari dia pulang ke rumah orang tua saya di Kota Pasuruan,” kata Marta.
Hingga saat pernikahan mereka setahun, Marta hamil. Saat itulah dia mulai menilai Abdi memang punya sifat pelit.
“Bayangkan saja, untuk ngecek kehamilan saja, yang bayar dokternya itu saya. Segala kebutuhan untuk rumah tangga mulai dari makan dan lainnya, saya juga yang harus keluar,” beber Marta.
Saat kehamilan itulah Marta akhirnya mulai memberanikan diri untuk berbicara soal uang kepada Abdi. Namun, Abdi selalu bilang bahwa uangnya juga tidak cukup karena dia harus pulang dan pergi ke Puspo setiap hari untuk bekerja. Abdi beralasan, kebutuhannya juga banyak.
Alasan itu yang membuat Marta mulai marah. Hingga dia meminta Abdi menyiapkan uang untuk menyambut proses kelahiran buah hatinya.
“Dan dia hanya bilang, iya. Saya pun percaya, mungkin saat jadi bapak nanti, dia akan berubah,” kata Marta.
Hingga usia kehamilan sembilan bulan, Marta akhirnya melahirkan. Demi menekan budget, Marta memilih untuk melahirkan di bidan. Padahal saat itu dia dianjurkan supaya operasi caesar karena kondisi bayi yang sungsang.
Anehnya, walau sudah tahu ada anjuran dokter, Abdi tak merespon tinggi. “DIa njegidek dan tidak pernah menyarankan untuk segera ke rumah sakit, sesuai tanggal yang diberikan dokter,” kata Marta.
Maka Marta akhirnya melahirkan ke bidan meski akhirnya Abdi ikut mendampinginya. Putra pertama mereka akhirnya lahir dan Marta begitu bahagia. Walau hanya sebentar.
Sebab setelah melahirkan, Marta lagi-lagi dibuat terkejut ketika biaya bidan yang sebenarnya terjangkau itu, tidak dibayar oleh Abdi. “Laki-laki yang normal itu kan mestinya nyandak ya. Saat berobat dan selesai, harusnya membayar. Tetapi ini malah diam saja,” kata Marta.
Justru ayah Marta yang membayari biaya persalinan dan ketika mereka pulang, Abdi hanya tersenyum. “Seperti masa bodoh begitu. Bukan polos, tetapi seperti pelit,” kata Marta.
Marta akhirnya menanyakan ke Abdi mengapa dia tak membayar biaya persalinan. Dengan entengnya Abdi menjawab bahwa di dompetnya hanya tersisa dua lembar uang seratusan ribu.
“Tapi ini seperti bukan laki-laki pada umumnya. Kalau memang tidak punya duit, harusnya kan minimal cari cara. Entah itu jual aset atau minjam atau apalah. Lha, ini hanya diam dan seperti tak bersalah,” kata Marta.
Bahkan saat aqiqah untuk buah hatinya, lagi-lagi orangtua Marta yang harus keluar uang. Sementara Abdi dengan polosnya menyebut bahwa aqiqah sejatinya tidak perlu jika memaksakan. Kontan itu yang membuat orangtua Marta kian marah.
Hingga hari-hari dilewati Marta dengan berat. “Punya bayi itu kan pasti agak repot ya. Mulai dari makannya, beli popok hingga susu. Nah, ini saya semua yang keluar dan saat meminta ke dia, lagi-lagi alasan klasik yang keluar. Sedang tidak punya uang karena honor bekerja tidak bisa ditabung,” kenang Marta.
Marta sebenarnya mencoba mencari tahu mengapa Abdi bisa sampai sepelit itu. Termasuk bertanya ke mertuanya. Tapi jawaban mertuanya justri bikin sakit hati.
“Katanya, memang kondisi itu yang sedang dialami dia. Dan mertua juga tidak pernah membantu. Sungguh aneh karena saat menikah dulu, gaya mereka seperti orang berada,” kata Marta.
Hingga Marta akhirnya berani memutuskan untuk menggugat Abdi. Gugatan ini mulus-mulus saja sampai akta cerai dia dapatkan. Alasan suami tidak bisa memberi nafkah dan ketidakhadiran Abdi selama di pengadilan, membuat siding berjalan cepat.
Semenjak itulah Marta akhirnya membesarkan buah hatinya sendirian. Walau sebenarnya dia harus pontang-panting untuk mencari uang. Kecewanya lagi, Abdi seakan lepas dari tanggung jawab karena sepeserpun tidak pernah mengirimkan uang untuk anaknya.
Hingga Marta dibuat terkejut sekitar lima tahun lalu, dia menerima undangan yang terbungkus rapi nan wangi. DI undangan itu tertera nama Abdi yang akan menikah lagi. “Ya Allah, semoga nasibnya tidak sama denganku. Kasihan wanita itu,” kata Marta. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid