Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Nyaris Mengakhiri Hidup Karena Tekanan

Fuad Alyzen • Sabtu, 22 November 2025 | 18:10 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

JIKA dahulu tidak menemukan seorang kawan baik, Soni 41 (bukan nama sebenarnya) tidak akan hidup seperti sekarang. Dia mengalami stres luar biasa dan ingin mengakhiri hidupnya. Dia stres karena tidak memiliki apa dan siapa-siapa lagi. Semuanya berubah saat dia menemukan pasangan dan memiliki satu putra.

Semua orang di sekitar tahu bagaimana kehidupan Soni. Sejak kecil Soni memang hidup bersama neneknya. Dia bersama sang nenek yang sudah tua lantaran kedua orang tuanya meninggal dunia.

Sejak kecil, Soni selalu merasa iri kepada teman seusianya. Saat bermain, semua temannya dicari orang tuanya.

Disayang, digendong dan ditimang-timang. Pemandangan itu selalu membuat Soni menginginkan seperti mereka.

Sedangkan sang nenek yang sudah tua, tidak bisa lagi menggendong Soni saat itu. Ditambah Soni yang selalu melihat perbedaan tempat tinggalnya membuatnya selalu menginginkan hal yang sama. Namun tidak bisa.

Soni hidup di rumah yang hanya seluas 5 x 4 meter. Beralaskan tanah dan beratap jerami. “Itu rumah zaman dulu. Kata nenek, saat neneknya muda, tidak ada rumah tembok. Hanya segelintir orang yang punya rumah bertembok,” ujar Soni sembari mengenang neneknya yang sudah meninggal.

Kondisi itu dilalui Soni sampai dia berusia 18 tahun. Kehidupan Soni lantas berubah usai sang nenek meninggal dunia. Pikirannya yang labil membuatnya merasa juga tidak layak hidup setelahnya.

Saat itu juga tanah yang seharusnya diwariskan ke Soni, dikuasai saudara orang tuanya. Praktis saat itu Soni tidak memiliki apa-apa. “Di akhir usia nenek saya kala itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya harus jaga nenek di rumah,” ujarnya.

Setelah itu banyak orang yang memprovokasi Soni. Tanah ayahnya dulu telah dikuasai saudaranya. Tanpa disadari informasi itu justru menambah buruk mental Soni.

Soni muda tak bisa berpikir jernih. Tak ada saudara yang bisa ducirhati. Karena dia tidak lagi memiliki siapa-siapa. Saudara orang tua yang seharusnya merawatnya, memilih tidak menghiraukan.

Soni masih ingat, yang menemaninya hanyalah kawan masa kecilnya. Itupun saat istirahat, mereka pulang ke rumah masing-masing.

Dia kadang mendapat makanan dari tetangga. Kadang dari teman dan lainnya. Sehari-harinya Soni hanya bergantung pada orang lain. Kondisi itulah yang memperburuk kesehatan Soni. Dia mengalami stress berat.

Kondisi semakin buruk usai dua tahun kemudian. Tidak ada yang ingin membawanya ke rumah sakit. Waktu itu hanya satu yang saudara neneknya yang berkenan menampung Soni. Walau demikian Soni masih belum dibawa ke rumah sakit.

Sampai ketika Soni merasa begitu frustasi. Dia merasa hidupnya hanya jadi beban bagi orang lain. Dia merasa tidak berguna. Karena merasa tertekan, Soni sempat melangkah ke perlintasan rel kereta api (KA).

Soni masih ingat dalam kenangannya saat itu. Sore menjelang magrib, sedang hujan deras dan kondisinya sepi. Dia tinggal menunggu KA yang lewat.

Beruntung saat itu ada orang yang menyaksikan. Petani itu langsung membawa Soni keluar dari rel.

Petani itu menahan Soni sampai KA selesai melintas. Soni diberi wejangan dengan dalil agama bahwa bunuh diri adalah dosa besar. Wejangan lain yang dia terima adalah, Allah tak akan memberi ujian ci luar kemampuan hambanya.

Soni lalu tersadar. Dia lalu pulang. Sampai suatu ketika Soni bertemu dengan orang alim. Orang itulah yang menjadi teman akrab Soni. Dari kebiasaan itu Soni akhirnya selalu mendapat wejangan kehidupan.

Pelan-pelan Soni mulai bangkit. Bahkan Soni sembuh dari penyakitnya. Dia tidak lagi stress. Sang teman juga memberi pekerjaan. Soni yang bersyukur karena sudah dibuat sadar. Semenjak itu Soni rajin bersedekah ke siapapun.

Bahkan uang dari pekerjaannya pernah disedekahkan ke anak yatim dan orang tidak punya. Sebab makan sudah ditangkap perusahaannya. Sejak saat itu hidup Soni semakin membaik.

“Memang semuanya kelak akan mati. Namun mati janganlah diharapkan. Kita harus hidup di dunia untuk menabung menuju akhirat kelak. Hingga kita mati nanti, ,” jelasnya.

Sampai kini Soni sudah berumah tangga. Dia hidup bahagia bersama istrinya. Walaupun tinggal di rumah istrinya, Soni sangat bersyukur. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#bundir #stress