LAHIR tahun 1959, masa muda Herman (nama samaran), boleh dibilang mbeler. Pria asal Kota Probolinggo ini terlahir dari keluarga kurang mampu. Pendidikan pun ditempuhnya tidak sampai lulus SD. Saat remaja dan dewasa dia tidak memiliki pekerjaan yang mapan.
Di tengah tuntutan ekonomi, Herman harus mengikuti jejak temannya untuk mendapatkan penghasilan dari hasil mencuri.
Waktu itu, target sasaran yang dicuri adalah hewan peliharaan milik warga. Entah itu ayam, kambing sampai sapi.
Namun, Herman tetap memandang keluarga dan tetangga. Sehingga saat di aberaksi, lokasi yang menjadi curian tidak di sekitar rumahnya. Dia lebih sering ke luar kampungnya.
Pekerjaan haram itu dilakukan sejak sebelum menikah hingga Herman berkeluarga. Bahkan saat dia sudah memiliki anak, pekerjaan haram itu tetap dia lakoni. Satu alasannya. Dia sudah fasih dan mencuri adalah hal paling mudah untuk mendapatkan uang.
Bak peribahasa, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, Namanya apes, Herman juga merasakannya saat aksinya diketahui. Dia tertangkap oleh polisi dan Herman pun menjalani hukuman penjara selama 2 tahun.
”Saya dua kali masuk penjara karena mencuri nak. Saya lupa tahun berapa, tapi waktu itu saya baru punya anak satu,” kata Herman.
Saat berada di penjara, Herman mengaku, sempat ada rasa penyesalan dan ingin bertaubat. Itu terus ada dalam pikirannya. Keluarganya yang mengetahui kelakuannya, tetap tidak meninggalkan dirinya begitu saja.
Dari situ, dirinya berusaha untuk tidak mengulangi perbuatannya dan memilih pekerjaan yang halal. Hingga akhirnya, dirinya bebas dari tahanan.
”Alhamdulillah, keluarga, dan istri saya tetap selalu menjenguk dan menguatkan saya. Mereka juga meminta untuk taubat,” ujarnya.
Selepas bebas dari tahanan, hidup Herman tidaklah mudah. Dia berusaha mencari kerja yang halal untuk memenuhi keluarganya. Mulai dari kuli bangunan dan serabutan pun dilakukan.
Namun ternyata, penghasilan tiap harinya tidak mencukupi tuntutan ekonomi keluarganya. Skill pun dia tak punya. Belum lagi banyak tempat yang ingin ditujunya bekerja, memblacklist dirinya karena kabar akan kelakuannya sudah tersebar.
Hingga akhirnya Herman ketemu kembali ke bola ireng. Dia bertemu lagi dengan teman-teman golongan hitam. Dari situ dia diajak kembali untuk gabung.
Herman yang sudah berjanji untuk taubat, sempat menolak ajakan tersebut. Sayang imannya tidak begitu kuat. Ditambah tuntutan ekonomi keluarga.
Mau tak mau dia kembali terjerumus menjalani pekerjaan tak halal. Kembali mencuri dan harus menghidupi keluarganya dengan uang yang tak halal.
”Saya menjalani pekerjaan itu sembunyi-sembunyi dari keluarga. Jadi, pagi hari sampai sore tetap keluar rumah, pamit untuk kerja. Tapi pekerjaan asli saya malam hari itu,” ceritanya.
Selang satu tahun beraksi, Herman harus kembali berurusan dengan hukum. Dia tertangkap polisi lagi. Waktu itu bahkan lebih parah karena kakinya harus dihadiahi timah panas oleh polisi, karena dianggap hendak melarikan diri.
Herman masih ingat, saat itu dia tidak mau melawan dan lebih memilih untuk menyerah. Jika melawan, mungkin polisi sudah menembaknya hingga tewas.
Singkatnya, Herman tak bias lari. Dia ditangkap dan harus menjalani hukuman kembali dan melalui hidupunya di balik penjara.
Keluarganya yang mengetahui perbuatannya pun kecewa. Karena Herman ternyata tidak berhenti dari perbuatan kriminal.
”Meski keluarga kecewa, mereka tetap menganggap saya suami dan keluarga,” beber Herman sembari menunjukkan bekas luka tembak yang pernah dia dapatkan.
Hingga dia keluar penjara, Herman merasakan titik nol. Dia berpikir lagi. Sampai kapan dia bisa memberikan rezeki yang halal untuk keluarganya.
Herman seakan membuat resolusi. Melihat anak-anaknya yang semakin besar, Herman punya rasa malu. Dia akhirnya berjanji akan menjauhi teman-temannya yang ternyata tak pernah mengunjunginya selama dia menjalani hukuman.
Herman lalu bebas lagi. “Dari situ, saya pun memilih kerja buruh tani dan ternak nak. Sambil usaha apa saja, penting halal, supaya dapat rejeki lebih. Alhamdulillah, sampai sekarang anak-anak saya sudah berkeluarga dan punya cucu,” ungkapnya. (mas/fun)
Editor : Abdul Wahid