DI sebuah perumahan kecil pinggiran Probolinggo, dua hati bertemu dalam waktu yang salah. Edo, 34 dan Melati, 30, (keduanya bukan nama sebenarnya, Red) bukanlah pasangan muda yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali.
Mereka adalah dua jiwa lelah yang sama-sama membawa luka dan sayangnya, mereka menemukannya bukan di tempat yang semestinya.
Edo sudah menikah. Ia memiliki seorang istri dan anak perempuan berusia enam tahun yang tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota.
Sementara Melati, perempuan lembut dengan tatapan teduh adalah seorang ibu tunggal. Ia telah lama berpisah dengan suaminya dan kini hidup bersama anak semata wayangnya, Farel (bukan nama sebenarnya, Red), yang masih duduk di sekolah dasar.
Pertemuan mereka bermula dari hal sederhana. Di sebuah acara santai seorang teman. Saat itu Edo dan Melati diperkenalkan. Di hari pertemuan itu, senyum Melati menjadi awal dari kisah yang tak pernah mereka rencanakan.
“Saya nggak pernah berniat untuk jatuh cinta lagi,” kata Melati lirih saat ditemui di sebuah kafe kecil.
Tangannya gemetar memegang cangkir kopi yang sejak tadi mendingin. “Tapi setiap kali Edo bicara, entah kenapa saya merasa tenang. Dia seperti tahu apa yang saya butuhkan, perhatian, bukan sekadar belas kasihan," katanya.
Edo sendiri mengakui, pertemuannya dengan Melati membuat hidupnya terasa berbeda. “Saya cuma ingin bantu dia waktu itu. Tapi lama-lama, ada perasaan yang tumbuh. Awalnya saya lawan, tapi makin saya menolak, malah makin kuat,” ujar Edo pelan.
Hubungan itu berkembang diam-diam. Di tengah rutinitas kerja dan keluarga, Edo menyisihkan waktu untuk sekadar menemui Melati. Terkadang hanya untuk minum kopi bersama atau sekadar mendengarkan keluh kesahnya. Bagi Melati, kehadiran Edo menjadi pelipur lara setelah bertahun-tahun merasa sendiri.
“Edo bukan lelaki sempurna. Tapi dia hadir di saat saya benar-benar butuh seseorang. Saat dunia saya hancur, dia yang bantu berdiri lagi,” ucap Melati, matanya berkaca-kaca.
Namun cinta mereka bukan tanpa beban. Melati tahu Edo sudah beristri. Ia sadar betul langkahnya salah. “Saya tahu ini dosa. Tapi rasa itu tumbuh tanpa bisa saya kendalikan. Kadang saya menangis tiap malam karena merasa bersalah,” ujarnya.
Cinta yang seharusnya menguatkan justru menjebak mereka dalam rasa bersalah yang panjang. Edo kerap terhimpit antara tanggung jawab dan perasaan. “Saya sayang keluarga saya. Tapi saya juga nggak bisa bohong kalau saya mencintai Melati. Dua-duanya penting buat saya, dan itu yang bikin saya tersiksa,” katanya lirih.
Kisah mereka makin rumit ketika Melati memutuskan hubungan dengan Edi (juga bukan nama sebenarnya), pacarnya sejak lima tahun terakhir. Edi, seorang pekerja di daerah Surabaya yang selalu setia menemani, menjadi korban dari cinta yang datang di waktu yang salah.
“Saya jahat sama Edi. Dia nggak pernah salah. Tapi saya nggak bisa pura-pura bahagia kalau hati saya sudah bukan untuk dia,” tutur Melati dengan nada menyesal. “Lagi, semakin merasa bersalah saat Edi bilang akan tetap menunggu dalam diam dan tak akan melepaskan," kata Melati.
Sejak saat itu, hidup Melati terasa seperti berada di dua dunia: dunia bahagia saat bersama Edo dan dunia gelap saat menyadari cintanya tak punya tempat di mata masyarakat.
Setiap kali Edo berpamitan pulang dari rumahnya, Melati menahan tangis di balik pintu. “Dia selalu bilang, ‘Saya harus pulang, anak saya nunggu.’ Dan saya cuma bisa mengangguk. Saya sadar, saya bukan siapa-siapa,” ucapnya pelan.
Bagi Edo, kebahagiaan bersama Melati datang dengan harga yang mahal, rasa bersalah yang terus menghantui. “Kadang saya pulang dan lihat istri saya tertidur, saya merasa sangat berdosa. Tapi saya juga nggak bisa meninggalkan Melati begitu aja. Saya tahu dia sendirian,” ujarnya.
Mereka berdua sama-sama tahu bahwa hubungan itu tidak akan berakhir indah. Tapi seperti dua kapal yang terjebak badai, mereka memilih bertahan di tengah gelombang, meski tahu mungkin akan tenggelam bersama.
“Saya cuma ingin dicintai tanpa harus menyembunyikan diri,” kata Melati. “Tapi mungkin Tuhan memang nggak menulis kisah kami untuk bersatu," katanya.
Kini, hubungan mereka berjalan tanpa arah yang pasti. Edo tetap bersama keluarganya, sementara Melati berusaha perlahan melepaskan. “Saya masih sayang dia. Tapi saya sadar, cinta yang salah nggak akan membawa tenang,” katanya.
Edo pun mengaku tak lagi sering bertemu Melati. “Kami masih komunikasi, tapi saya lebih banyak diam sekarang. Saya takut kehilangan semuanya. Kadang saya ingin waktu bisa diputar ulang, biar saya nggak jatuh sejauh ini,” ujarnya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid