HIDUP Tutu (bukan nama sebenarnya), 47, begitu memilukan. Musababnya, dia tak kunjung menikah sampai usianya tua. Orang-orang sampai menyebutnya perawan tua.
Namun itu berubah usai dia dinikahi seorang laki-laki yang sudah bertahun-tahun tinggal bersamanya. Laki-laki itu adalah suami kakak perempuannya yang sudah meninggal.
Orang tua Tutu memiliki tiga anak. Semuanya perempuan. Tutu merupakan anak bungsu diantara mereka. Mereka tinggal bersama di rumah sederhananya.
Sampai dewasa tiga bersaudara itu tetap tinggal bersama. Mereka sangat akrab lantaran usianya selisih 2 sampai 3 tahun.
Sampai suatu ketika kakak pertama Tutu menikah. Tutu dan kakak keduanya yang ikut merayakan pesta pernikahan seraya berharap segera menyusul.
Setelah pernikahan itu Tutu tinggal bersama ibunya. Rumah yang juga ditempati kakak pertamanya yang berstatus pengantin baru. Kakak keduanya juga tinggal di rumah tersebut.
Suatu hari kakak keduanya dilamar. Saat pernikahan, Tutu dan kakak pertamanya juga ikut merayakan serta mendoakan pernikahan kakak keduanya.
Namun kakak kedua yang disediakan rumah sebelumnya, tinggal terpisah. Namun rumahnya tidak jauh. Hanya di depan rumah yang ditempati Tutu, orang tua dan kakak pertama serta suami.
Maka tinggalah Tutu yang belum mendapatkan jodoh. Saat itu Tutu sudah mencapai usia menikah. Dia pun berharap sama seperti kedua saudaranya. Ingin segera menikah.
Sama seperti orang tua, kedua saudara Tutu memiliki dua anak yang tidak jauh usianya. Kakak pertama memiliki dua anak laki-laki. Sementara kakak keduanya juga memiliki dua anak perempuan.
Tutu sangat berharap dinikahi seorang laki-laki. Sejak ditinggal menikah kedua saudaranya sampai ke empat keponakanannya besar, dia tak kunjung menemukan jodoh. Bahkan tidak ada laki-laki yang mendekatinya.
“Saya saat itu sudah putus asa. Pikiranku ya hidup tanpa pasangan hingga mati,” ujar Tutu sembari memijat tetangganya.
Sampai kedua orang tuanya meninggal dunia, Tutu juga belum menikah. Harapan memiliki pasangan sempat pupus. Karena dia berpikir menikah tanpa disaksikan orang tua, sangatlah sedih. Ditambah belum ada laki-laki yang mendekatinya.
Tutu makin bersedih karena kakak keduanya meninggal dunia karena penyakit. Karena perlahan orang yang disayanginya meninggalkannya.
Setelah sang adik meninggal, suami kakak keduanya ikut menyusul. Meninggal dunia menjelang anak pertama hendak menikah.
Tutu makin kesepian saat anak pertama kakak keduanya alias keponakannya, menikah. Namun setelah menikah, keponakannya ikut ke rumah suaminya dan menetap di sana.
Begitu juga anak kakak kedua yang merupakan laki-laki, juga menikah. Dia pun ikut ke rumah istrinya.
Lantaran pernikahan dan di rumah semakin sepi membuat Tutu semakin hilang harapan. Karena sampai saat itu juga belum ada laki-laki yang mendekati untuk menikahinya.
Di dua rumah itu, satu rumah di sebelah utara tinggal anak kedua kakak keduanya dengan suami. Sedangkan Tutu tinggal bersama kakak pertama dan suaminya yang kelak akan jadi suaminya.
Singkat cerita, kakak pertama Tutu juga mulai sakit-sakitan. Sampai akhirnya meninggal dunia. Maka di rumah itu hanya tinggal Tutu bersama kakak iparnya. Di rumah hanya tinggal keponakan bersama sang suami.
Setelah selesai acara satu tahunan itu, suami kakak pertamanya tak kunjung meninggalkan rumahnya. Ini sempat membuat Tutu merasa tidak enak dan selalu menghindar bila bertemu.
“Setiap tidur malam, saya ke rumah keponakan karena tidak enak dipandang tetangga,” ujarnya.
Karena itu para tetangga berinisiatif bagaimana jika Tutu menikah saja dengab kakak iparnya tersebut. Namun Tutu masih berpikir panjang, karena kakak ipar sudah berusia separo abad lebih.
Tutu yang tidak memiliki cara lain, akhirnya berpamitan ke seluruh keponakannya. Semuanya menyetujuinya. Dengan alasan daripada timbul fitnah.
Kakak ipar yang saat itu ditanya anak-anaknya atau keponakannya, juga menyetujuinya. Akhirnya Tutu bersama kakak iparnya menikah.
Kini hidup Tutu lebih nyaman dari sebelumnya. Dia lebih bahagia karena selama ini yang diinginkan adalah pasangan hidup.
“Awalnya ragu dan canggung saat saya dijodohkan. Setelah menikah tanpa ada halangan apapun. Saya tidak soal meski dapat seorang duda dan pernah jadi kakak ipar pula. Yang penting bahagia,” akunya sembari menebar senyum semringah. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid