Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Usaha Bangkrut usai Istri Tiada

Fuad Alyzen • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 19:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

ISTRI adalah wanita yang berada di balik kesuksesan suami. Kisah ini dialami Umar (bukan nama sebenarnya), 80, warga Kabupaten Probolinggo.

Seorang pengusaha mebel sukses ini bangkrut usai istri meninggal dunia. Kondisi ekonominya terpuruk. Bahkan anak-anaknya tidak bisa melanjutkan usaha orang tuanya.

Saat masih jaya, Umar begitu dikenal banyak orang hingga sekitar tahun 2000-an. Usaha mebeler membuatnya jadi orang yang terhormat. Usaha yang dia bangun sejak menikahi perempuan yang tepat.

Umar muda dulu memang menyukai furnitur berbahan kayu. Dia juga ulet dalam berdagang.

Padahal Umar dulunya adalah orang yang  pemalas. Aktivitas seharinya hanya menganggur. Tak ayal kedua orang tuanya selalu memarahinya.

Hingga suatu hari, Umar mendapat tawaran menikah oleh orang tuanya. Perempuan yang suatu saat mendorongnya menjadi pria sukses. Perempuan yang memiliki karakter penyabar dan tegas.

Singkat cerita akhirnya Umar dengan istrinya menikah. Walaupun Umar tidak memiliki pekerjaan, sang istri menerimanya.

Istrinya adalah jebolan dari pondok pesantren, memiliki prinsip bahwa semua rezeki ada yang mengatur. Walaupun suaminya tidak bekerja, ia tidak takut tidak makan.

Benar saja di awal pernikahan mereka diuji ekonomi. Kesabaran mereka pun ditaruhkan. Walaupun selama 3 tahun dengan kondisi serbakekurangan, sang istri selalu bersabar.

Hingga akhirnya Umar pun tersadar karena kesabaran sang istri. Dia harus membahagiakannya.

Menurut Umar, membahagiakan istri tidak hanya dengan kata-kata, melainkan harta. Walaupun sebenarnya sang istri tidak mengharapkan itu.

Umar yang memiliki sifat pemalas, sejak saat itu bersemangat berkreasi. Dia yang menyukai furnitur dari bahan kayu, mulai memproduksi. Apalagi saat itu pasutri ini dikaruniai satu anak laki-laki.

“Kakak (Umar, red) saya ini tersadar setelah dia kasihan sama almarhum Mbak (istri Umar, Red), karena kesabarannya seketika jadi bersemangat,” ujar adik kandung Umar sebut saja Hamida (juga bukan nama sebenarnya), 54.

Perlahan kerja kerasnya membuahkan hasil. Kursi buatan Umar ternyata disukai orang. Umar tambah bersemangat.

Usahanya perlahan berkembang. “Kalau kakak (Umar, red) curhat, istrinya mau dikasih uang berapa pun menerima. Dan tidak menuntut. Sangat menjaga ibadahnya,” ujarnya sembari menirukan gaya bicara Umar.

Usaha tidak akan menghianati hasil. Pembeli barang furnitur Umar semakin ramai. Hingga bertahun-tahun penjualan sampai ke luar Jawa.

Keberhasilan itu tak luput dari doa istri yang selalu menyertai dan mendukung. Umar pun menjadi orang terkaya di desanya. Dia menjadi orang yang hebat karena usahanya.

Umar bersama istrinya juga menunaikan ibadah haji bersama-sama. Bahkan dia menguliahkan anaknya di Yaman. Sedangkan anak kedua yang seorang perempuan, menempuh pendidikan di Kota Probolinggo.

Istri Umar juga membangun yayasan di salah satu Kecamatan Kabupaten Probolinggo. Dia sudah menikmati usahanya yang sampai membuatnya kaya raya. Umar sampai mempekerjakan puluhan orang. Mobil punya banyak. Rumah juga seperti istana.

“Saat bergelimang harta, kakak (Umar) selalu diingatkan oleh istrinya agar tidak pernah meninggalkan salat,” sampainya.

Hingga suatu ketika, istri Umar mendadak sakit parah. Selama beberapa bulan sakit sampai membuatnya meninggal dunia.

Setelah ditinggal istrinya, Umar sangat frustasi. Istri yang dicintainya lebih dulu dipanggil Tuhan. Umar tak berdaya dan alami kesedihan berkepanjangan.

“Yang kakak ingat, kesabarannya. Istiqamah membangunkan salat saat tidur. Terutama membangunkan salat subuh, suara yang indah selalu dikenang,” ujarnya.

Sejak itu, Umar mulai kesulitan untuk berpikir jernih. Pengeluaran dan pemasukan tidak stabil. Kondisi usahanya semakin menurun.

Para pekerja pun juga perlahan berkurang. Hingga sampai Umar berada di titik terendah ekonominya.

Umar sejatinya punya harapan usahanya diteruskan anaknya. Namun sifat pemalas sang ayah menurun.

Anak pertama Umar yang digadang-gadang menjadi penerus, kini hanya menjadi tukang tagih di perbankan.

Begitu pula dengan anak keduanya yang ternyata punya suami yang pengangguran. “Kakak selalu mengeluhkan. Mengapa anak-anaknya tidak meneruskan usahanya,” katanya.

Sampai kini Umar pun hidup sembari mengenang masa indah bersama istrinya. Lokasi yang dulu menjadi tempat bekerja banyak orang, kini hanya tinggal kenangan dan menjadi kandang ayam.

Hamida menyimpulkan, kakaknya hilang semangat semenjak sang istri sudah meninggal dunia. Walaupun sempat berjalan beberapa waktu, namun malah semakin bangkrut.

Umar tidak pernah memiliki sejarah kaya dari nenak moyangnya. Umar sempat membuktikan dia adalah perintis. Itu berkah dukungan dan doa almarhum istri. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#bangkrut #mebeler #istri meninggal