Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gagal Daftar Tentara karena Tak Bisa Tinggalkan Orang Tua

Fuad Alyzen • Sabtu, 27 September 2025 | 18:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

KEINGINAN Paul (bukan nama sebenarnya), 26, untuk menjadi dari tentara, begitu besar. Namun dia terhalang karena statusnya sebagai anak tunggal. Sebagai anak satu-satunya, dia tak tega melihat orang tuanya.

Sejak kecil Paul memang terpukau dengan kegagahan seorang tentara. Setiap melihat tentara. Dia selalu menirukan gaya seperti seorang prajurit negara. Mulai dari gaya pakaian bahkan gaya rambut.

Setiap desanya menggelar karnaval, dia selalu berpenampilan seorang prajurit. Mengenakan kostum doreng tentara dan mencoretkan wajahnya seperti ingin berperang.

Dengan kelengkapan bahan peledak karbit yang dimasukkan ke bambu, ditambah dihiasi dedaunan, membuatnya seperti seorang TNI.

Orang tua yang melihatnya bangga terhadap Paul. Cita-citanya menjadi seorang prajurit TNI berharap bisa tersalurkan.

Hingga setelah Paul lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Probolinggo, tekadnya masih bulat. Dia ingin mendaftar dan menjadi bagian dari militer.

“Saya ingin mendaftar. Saya tanya-tanya ke teman sekitar. Dari mereka banyak dukungan dulu,” kata Paul di rumahnya sembari minum kopi, Kamis (26/9) malam.

Dia tidak hanya punya keinginan. Tetapi Paul juga melatih fisiknya. Hampir tiap hari dia selalu melakukan latihan lari, push up. Entah itu pagi atau sore.

Dari segi fisik, tubuhnya terbiloang tinggi dan gagah. Banyak orang yang yakin Paul bisa mengejar cita-citanya menjadi seorang prajurit tentara kelak. Dan mengabdi ke negara dengan baik.

Keinginan Paul sampai ke telinga orang tuanya. Paul yang bertekat menjadi bagian dari TNI sebenarnya tidak disetujui sang ibu. Ayahnya yang hanya sebagai kuli tani dan sang ibu hanya mengurus rumah tangga, membuatnya bersedih.

Ditambah Paul merupakan anak satu-satunya. Jika kelak menjadi tentara, Paul jelas akan meninggalkan mereka. Apalagi jika mendapat penugasan dan penempatan di luar Probolinggo, Pasti mereka akan jarang bersama Paul.

Namun kedua orang tua berpura-pura tidak mengetahuinya. Walaupun sebenarnya bersedih lantaran tidak bisa memenuhi dan mendukung keinginan Paul menjadi TNI.

Saat tiba pendaftaran, Paul hendak pamit. Dia mengumpulkan kedua orang tuanya di ruang tamu rumah sederhananya itu. Paul yang berpikir akan membuat kedua orang tuanya semakin bangga ternyata justru akan membuat mereka bersedih.

Saat pamit dan menyatakan mendaftar tentara, kedua orang tuanya bahkan merunduk. Bahasa tubuh itu mengartikan jika kedua orang tuanya tidak setuju Paul menjadi tentara.

Sembari menangis sang ibu menyatakan kedua alasan tersebut. Kata Ibu, lebih baik bekerja di Probolinggo dan tinggal bersama orang tua. Khawatir nanti akan ditugaskan di tempat lain yang jauh dari sang ibu.

Seketika itu Paul terdiam. Karena alasan itu pula Paul mengurungkan niatnya mendaftar dan menjadi bagian TNI. Karena orang tua tidak menyetujuinya.

“Saya kalau masalah ekonomi tidak masalah. Tapi karena masalah anak tunggal. Semenjak itu saya berubah pikiran. Nanti siapa yang ngurus ibu. Sekarang saja ibu sudah sakit-sakiatn,” sampainya.

Pupuslah sudah harapan Paul menjadi TNI. Namun tekadnya yang berkeinginan menjadi seorang tentara, dia ingin bekerja layaknya seorang tentara. Hingga dia diterima menjadi seorang security di sebuah perusahaan.

“Yang penting sejenis lah, sama-sama menjaga keamanan,” sampainya sembari tersenyum. (zen/fun)

Editor : Fandi Armanto
#cita cita #tentara