Hati Miana (bukan nama sebenarnya), 29, merasa hancur setelah orang tuanya memilih lebih mementingkan saudara tirinya daripada dia. Orang tuanya bahkan lebih sayang adik tirinya, ketimbang dia dan kedua kakaknya karena semuanya perempuan.
SEJAK awal menikah, kedua orang tua Miana menginginkan anak laki-laki. Namun hingga memiliki tiga anak, orang tua Miana selalu melahirkan anak perempuan.
“Dulu sebelum mengangkat anak, orang tua awalnya tak masalah. Termasuk ketika melahirkan saya, yang merupakan seorang perempuan,” ujar Miana menceritakan orang tuanya.
Setelah anak pertama berusia lima tahun, ibunya kembali hamil anak kedua. Sampai saat lahiran, yang keluar lagi-lagi seorang perempuan. Padahal banyak orang yang beranggapan bahwa yang keluar nantinya anak cowok.
Setelah memiliki dua anak yang semuanya perempuan, kedua orang tuanya rehat. Miana masih ingat, orang tuanya berencana tidak memiliki anak dulu karena dikhawatirkan anak yang lahir kembali perempuan.
Entah mengapa orang tua Miana begitu berharap punya anak laki-laki. Namun dari cerita yang dia dapat, kedua orang tuanya khawatir jika saat menua nanti, jika tidak memiliki seorang anak laki-laki, tak ada yang akan meneruskan sawahnya.
“Pokoknya anak laki-laki itu impian ibu dan ayah. Ini saya dapat cerita dari bude,” sampainya.
Singkat cerita, ibunya kembali hamil anak ketiga pada tahun 1995. Mereka berharap yang keluar adalah anak laki-laki. Hingga lahirlah seorang anak di tahun 1996. Dan lagi-lagi yang keluar adalah bayi perempuan. Bayi itulah Miana.
Kedua orang tuanya sudah putus asa berjuang memiliki anak laki-laki. Kedua orang tuanya sudah menerima dan akan merawat ketiga anak perempuannya dengan baik.
Hingga saat Miana berusia 5 tahun, anak pamannya yang baru lahir berjenis kelamin laki-laki. Kedua orang tuanya langsung berencana mengadopsinya. Bahkan, sudah berencana membesarkan sepupunya itu bersama dia dan dua kakaknya.
“Jadi di rumah itu ada aku, dua kakakku, ibu, bapak, dan adik laki-laki ini,” katanya.
Waktu berjalan hingga Miana, dua kakak, dan adik angkatnya tumbuh besar. Hingga Miana mulai merasa kasih sayang orang tua terbagi.
Dia melihat ayahnya lebih memanjakan adik tirinya. Sebab, sang ayah selalu membawa adik laki-lakinya kemana pun pergi. Entah itu ke sawah ataupun saat jalan-jalan di kota.
Sang adik selalu diantar jika hendak ke mana-mana. Saat sekolah atau ketika mau bermain sekalipun. Di sinilah mulai timbul percik-percik rasa iri.
Apa sebab? Ini lantaran semenjak Miana kecil, dia merasa dirinya tidak pernah diantar. Sang ayah beralasan sekolahnya dekat dengan rumahnya. “Kalau adik sekolah di kota dan selalu diantar jemput setiap hari,” ujarnya.
Hingga kedua kakaknya berkeluarga, perasaan iri itu selalu dirasakan Miana. Miana juga tak memiliki teman karena kedua kakaknya sudah hidup dengan keluarganya masing-masing. Di rumahnya, dia hanya tinggal bersama adik tirinya. Semenjak itu pula dia makin merasa, orang tuanya pilih kasih.
Bahkan setelah dirinya menikah, yang selalu menyelesaikan pekerjaan adalah dirinya. Sedangkan adik angkatnya selalu dimanja dan berdiam diri di rumah. “Misalkan disuruh jemur jagung atau padi, adik selalu enak tidur. Padahal, sama-sama makan dari sana. Adik sudah besar,” ujarnya.
Miana pernah berontak. Pernah suatu ketika, terjadi cekcok antara dirinya bersama adik angkatnya. Bukannya malah melerai, kedua orang tuanya justru membela sang adik.
Pertengkaran itu membuat Miana sakit hati. Sebab, orang tua Miana membuang bajunya. Miana sampai diusir dan diminta untuk tidak kembali ke rumahnya.
Miana lalu pergi dan tinggal di rumah suaminya. Hingga berbulan-bulan dia tidak pernah nyambangi kedua orang tuanya. “Hanya gara-gara permasalahan itu, saya merasa hancur. Mengapa membela anak angkat daripada anak kandung,” kata Miana terheran. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid