ROJALI (bukan nama sebenarnya), 49, seakan mendapat karma. Saat masih muda, dia kerap menyombongkan diri lantaran sering mendapat pekerjaan. Tapi setelah mengalami kecelakaan kerja, rekan-rekannya makin menjauhinya.
Rojali muda memang tipe pekerja keras. Dia kerap mendapat proyek bangunan. Walau hanya sebagai tukang, garapannya tak pernah berhenti. Apalagi saat dia sudah berumah tangga. Pekerjaannya yang bagus, tidak pernah mengecewakan kliennya. Hasilnya selalu memuaskan.
Tak heran banyak orang yang hendak membangun rumah dan semacamnya, menggunakan jasa Rojali. Banyak orang yang ingin mempekerjakan Rojali.
Rojali yang memang pekerja keras dari didikan orang tuanya. Dia sangat antusias saat dirinya mendapat banyak pekerjaan. Karena selalu mendapat job, dia pun bahkan menolak saat sudah full.
“Saya belajar dari bapak. Mertua juga kuli bangunan. Dari sini saya banyak pengalaman dulu,” kata Rojali saat curhat.
Karena pekerjaannya yang bagus itulah, jasa Rojali dibutuhkan. Bahkan, dia sering menerima garapan gedung perkantoran dan semacamnya. Baik di dalam maupun di luar kota. Sehingga, membuat dia banyak mendapat rupiah.
“Dulu saat masih muda, enak-enak saja menerima job. Bahkan, semuanya saya ingin terima,” ujarnya.
Mulai dari garapan bangunan rumah, gedung perkantoran, gedung lembaga pendidikan, dan lainnya.
Bahkan, saat sepi proyek pun, dia selalu mendapat pekerjaan sampingan berupa memasang keramik, memperbaiki genting di sekitar rumahnya. Atau bahkan membangun pagar lengkap dengan taman dan kolamnya.
Pekerjaan itu kerap diterimanya saat Rojali muda. Sayang, dia jarang menggunakan jasa kawannya, sekalipun itu untuk kuli bangunan.
Dia selalu punya kuli sendiri. Padahal, di sekitar rumahnya, banyak orang-orang yang bekerja sebagai kuli bangunan.
“Di sekitar rumah (tetangga yang juga kuli bangunan) gak saya ajak. Padahal dulu teman bermain saya dan sempat bekerja bareng,” katanya.
Namun, banyaknya pekerjaan itu justru tidak membuat Rojali bersyukur. Dia mengaku berada di atas angin hanya karena masalah duniawi tersebut. Sifatnya mulai sombong.
Kejayaan itu tetap Rojali nikmati. Sampai suatu ketika, Rojali malah sombong, di saat keluarganya memperebutkan tanah. Dia lalu menyampaikan: “Tidak ada yang bisa menguasai tanah tersebut selama ada saya. Saya pun bisa membelinya,”
“Perkataan itulah yang melekat di hati saya. Saya menyesal karena membuat keluarga saya sakit hati sampai sekarang,” akunya.
Hingga suatu ketika, Rojali mengalami kecelakaan kerja. Di usia ke-37, dia terjatuh dari ketinggian 5 meter. Kecelakaan itu membuatnya harus meliburkan diri selama beberapa bulan. Sebab, bagian pinggangnya patah tulang.
Sampai setahun lebih, Rojali perlahan mulai sembuh. Namun, sudah tidak segagah dulu. Di saat dia mendapat garapan, Rojali tidak selincah dulu. Pekerjaannya juga makin lamban. Membuat dirinya sepi dari job.
Sampai bertahun-tahun kondisi itu menimpanya. Dia selalu sepi job. Bahkan, rekan kerja yang dulu sempat bersamanya, enggan mengajak atau merangkul Rojali yang sudah terpuruk.
Bertahun-tahun Rojali merenungkan nasibnya yang tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Tubuhnya tidak lagi bisa diandalkan seperti dulu. Bekerja sedikit saja langsung kambuh dan kecapekan.
“Walaupun bagus, tapi kebanyakan orang sekarang meminta cepat selesai. Itu kendala saya,” akunya.
Setelah merenung itu, dia lantas tersadar. Mungkin inilah hukum karma karena dirinya sudah sombong dan serakah. Satu-satunya, terima dan menjalaninya untuk menebus dosa.
“Saya tersadar kalau rekan kerja saya tidak menyukai. Itu karena dulu saya sombong,” imbuhnya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid