Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hingga Akhir Hayat Berpisah dengan Ibu

Inayah Maharani • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 19:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

SEJAK sekitar berusia di bawah lima tahun (balita), Lastri (nama samaran), sudah berpisah dengan sang ibu. Sang ibu adalah salah satu bangsawan Belanda yang saat masa kolonial sempat tinggal di Indonesia selama beberapa tahun. Ibunya, Emma kemudian terlibat asmara dengan sang ayah, Karno yang merupakan orang Jawa tulen. Mereka kemudian menikah hingga lahirlah Lastri.

Suatu ketika, setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, orang-orang Belanda di Indonesia pun pulang. Entah karena keinginan sendiri atau karena kondisi. Kebanyakan karena perubahan kebijakan politik saat itu. Mereka pun akhirnya berbondong-bondong pulang negara asalnya.

Berpisah dengan suami, anak atau orang terdekat yang merupaka pribumi. Ada juga yang berhasil membawa anak-anak mereka yang merupakan hasil pernikahannya dengan pribumi.

Namun Emma, adalah salah satu dari banyaknya orang Belanda yang harus berpisah dengan buah hatinya yang memiliki separo darah Indonesia itu.

Niat hati dia ingin membawa putri semata wayangnya itu pulang ke negara asalnya di Belanda. Dia pun menyampainya niatan tersebut pada sang suami, Karno.

Permintaan itu ditolak oleh Karno. Hingga Karno melakukan segala cara agar sang anak tidak dibawa ke Belanda oleh ibunya karena dia tahu bahwa dirinya tidak akan lagi bisa menjumpai putrinya tersebut.

Penolakan itu membawa amarah Emma. Mereka sempat bersitegang. Suatu ketika, hari keberangkatan Emma sudah tiba. Dia pun kembali ingin menjemput Lastri yang saat itu sedang disembunyikan oleh keluarga Karno.

Berulang kali Emma meminta agar Karno menyerahkan anaknya agar dibawa pulang. Namun saat itu, Karno menyembunyikan Lastri.

Diapun berbohong pada Emma dan mengatakan bahwa Lastri tidak bisa dijumpai sebab sedang sakit mata.

Mendengar alasan tersebut, Emma hendak menyangkal. Namun kawanan lainnya sudah mengabarkan bahwa mereka akan segera berangkat.  Dengan amarah yang meledak-ledak Emma pun mengucap sumpah.

Cerita ini diceritakan oleh Halimah, yang merupakan cicit dari Emma. Dalam setiap kesempatan, Halimah seringkali menceritakan sosok neneknya moyangnya itu meskipun dia tidak benar-benar pernah bertemu dengan Emma.

“Saya hanya mendengar cerita dari keluarga bahwa kalau Lastri tidak benar-benar sakit mata, saya bersumpah ketujuh turunannya nantinya akan buta,” kata Halimah, cucu dari Lastri yang kini tinggal di Kabupaten Probolinggo.

Beranjak dewasa, Lastri pun menikah dan punya anak. Namun dipercaya atau tidak, Lastri kemudian mengalami kebutaan tiba-tiba. Termasuk beberapa turunannya.

Namun satu yang Halimah percaya, anak cucunya tidak boleh melupakan Emma.

“Saya ceritakan biar cucu-cucu tahu, kalau nenek moyang kita dari Belanda. Siapa tahu nanti tersambung,” ujarnya.

Hingga akhir hayatnya, kata Halimah, Lastri benar-benar tidak lagi bertemu dengan sang ibu. Jarak yang jauh, saat itu hanya bisa ditempuh dengan kapal laut yang memakan waktu berhari-hari dan uang yang tidak sedikit.

Meski ingin, namun keterbatasan itu membuatnya mundur. Lastri pun tak memiliki banyak memori tentang ibunya itu. Hanya satu dua penggalan ingatan saat dia bermain dengan ibunya saat usianya masih sangat kecil.

“Mau ke Belanda saat itu bagi nenek ya tidak mungkin. Siapa yang juga yang mau ngantar ke Belanda. Kan ayahnya juga sudah pisah, jadi memori itu terkubur,” lanjut Halimah.

Halimah sendiri memang tidak mengalami kebutaan seperti sepupu-sepupunya yang lain.

Namun satu hal Halimah sadari, bahwa saudara-saudaranya yang buta itu adalah yang paling mirip dengan Emma, layaknya keturunan Belanda.

“Saudara saya yang kulitnya lebih putih, rambutnya kuning itu yang mengalami buta di usianya yang masih muda,” katanya. (ran/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Penjajahan #berpisah #belanda #kolonial