Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mau Sukses tapi Terhalang Ekonomi Ortu, saat Besar Jadi Manajer di Perusahaan

Fuad Alyzen • Sabtu, 12 Juli 2025 | 16:55 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

FAKTOR ekonomi bukan alasan yang tepat untuk tidak terus mendukung cita-cita seorang anak. Jika anaknya bersungguh-sungguh, pasti akan diberi kelancaran sampai sukses.

Begitulah nasib yang dialami Wulan (bukan nama sebenarnya), 29. Wanita asal Kabupaten Probolinggo ini dulunya sempat dihalangi mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena faktor ekonomi. Namun, Wulan memaksakan dan kini dirinya sukses jadi manajer dengan bayaran tinggi di perusahaan.

Sedari kecil, keluarga Wulan memang serba kekurangan. Orang tuanya mengandalkan pekerjaan petani, sehingga hanya mampu menyekolahkan anak sulungnya sampai tingkat SMA.

Ayah dan ibunya bahkan berencana, setelah Wulan lulus dari SMA, akan membantu urusan rumah tangga.

Atau menikahkan Wulan. Sungguh disayangkan karena sejak SD, Wulan selalu berprestasi. Dia anak yang cerdas.

Suatu ketika usai lulus, dia sangat menginginkan untuk melanjutkan pendidikannya. Karena jika hanya sampai SMA, kurang rasanya bagi dia.

“Jika hanya sampai SMA, saya akan kalah bersaing. Kalau saya cowok, waktu itu mungkin cari kerja dulu baru kuliah. Sementara saya cewek dan saya rasa tidak akan fokus,” kata Wulan saat bercerita masa lalunya.

Benar saja, ketika Wulan meminta melanjutkan pendidikan perguruan tinggi, orang tuanya malah melarangnya. Alasannya tentu saja ekonomi.

Dirinya sedih dan berpikir keras. “Andai saja ada yang membiayakan kuliah saya. Saya bisa kulih,” katanya waktu itu.

Namun, Wulan tidak mau menyerah begitu saja. Dia merasa tetap harus kuliah. Wulan lalu pergi ke pakdenya, kakak dari ayahnya. Wulan menangis meminta tolong untuk membujuk orang tuanya agar mau menguliahkannya.

Pakdenya tentu saja tersentuh dengan semangat Wulan. Dia lalu pergi ke rumah orang tua Wulan untuk meminta agar orang tuanya mengizinkan Wulan kuliah.

Tapi lagi-lagi, ayah Wulan menyebut, ekonomi jadi sandungan keluarga. Belum lagi doktrin bahwa setinggi-tinggi perempuan, toh pada akhirnya akan ke dapur juga.

“Memang ada benarnya juga kata bapak, perempuan kalau kuliah itu khawatir rusak. Selain ekonomi ya takutnya hamil di luar nikah, minum miras, dan lainnya bersama temannya. Sebutannya ayam kampus,” kata Wulan.

Namun setelah diyakinkan pakde, akhirnya orang tua Wulan mengizinkan. Sudah pasti pakde turut ikut campur dalam pendidikan Wulan. Biaya awal ditanggung olehnya.

Sampai semester dua, rezeki orang tua Wulan mengalir. Pada akhirnya biaya kuliah Wulan diambil alih. Sampai Wulan wisuda cepat di semester 7. Orang tuanya menangis haru karena bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

Wulan pun fokus menata karirnya. Dia lalu bekerja di salah satu perusahaan besar di Situbondo. Dengan gaji tinggi, Wulan meminta orang tuanya hanya duduk manis. Karena semuanya akan ditanggung olehnya.

Mulai biaya pertanian, pendidikan kedua adiknya, dan lainnya. Wulan banyak membantu ekonomi orang tuanya. Dia juga sudah bisa membayar orang untuk mengurus pertanian.

“Alhamdulillah, membuat orang tua saya senang saja saya pun senang,” ujarnya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#miskin #sukses #Tak Mampu