Mendapat Banyak Kenalan Setelah Gabung Pramuka

Inneke Agustin • Dipublikasikan Sabtu, 24 Mei 2025 | 18:45 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

DI sebuah kota kecil, hiduplah seorang gadis bernama Niana (bukan nama sebenarnya). Saat baru menginjak 15 tahun, dia sudah menorehkan banyak kisah yang tak biasa bagi remaja seusianya. Tegas, cekatan, dan penuh semangat, begitulah orang-orang mengenalnya.

Semua bermula saat ia duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Sang ibu, tanpa ragu, mengenalkannya pada kegiatan kepramukaan. Sejak saat itu, Niana jatuh cinta.

Alam, persahabatan, disiplin, dan semangat kerja sama menjadi taman bermain yang menyenangkan baginya. Ia menyusuri hutan dalam perkemahan, berlomba antarsekolah, dan berkali-kali dipercaya menjadi pemimpin regu.

"Saya juga pernah menjadi sulung. Itu julukan untuk pemimpin upacara saat giat prestasi siaga," kenangnya sambil tersenyum.

Suatu hari dia memimpin ratusan siswa SD se-kota tempatnya tinggal. Dengan langkah tegas, ia menjemput pembina dari kursi menuju lapangan apel. Sorot mata ratusan orang tertuju padanya, dan ia menikmatinya.

Dia begitu bersemangat meski momen megah itu harus diakhiri dengan mimisan hebat akibat terik matahari. Ia digotong ke ambulans, wajahnya tetap tersenyum meski seragamnya ternoda darah. “Saya memang sering mimisan kalau kepanasan,” ujarnya santai.

Waktu berjalan dan di jenjang SMP, prestasinya tak luntur. Ia didapuk sebagai Pratama, ketua pramuka tingkat penggalang.

Segala urusan organisasi ia pegang. Dari pionering, baris-berbaris, hingga keterampilan teknik seperti membidik koordinat.

“Kalau teman-teman sering meleset, saya bisa pas di titiknya. Karena di medan sebenarnya, meleset satu derajat pun bisa tersesat jauh,” katanya serius.

Tak hanya di kota sendiri, langkah Niana menjejak hingga ke Sumatera. Ia terpilih sebagai peserta Jambore Nasional di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Di sana, ia mencoba hal-hal baru.

“Saya belajar dayung, padahal enggak bisa renang. Untung ada pelampung,” katanya sambil tertawa kecil.

Ia bertukar betge—lambang khas daerah—dengan teman-teman dari seluruh Indonesia. Dunia terasa lebih luas, dan Niana siap menjelajahinya.

Kembali ke sekolah, Niana menerima anugerah tertinggi bagi seorang Penggalang: Pramuka Garuda.

Di sekolahnya, hanya dia yang meraih itu. Ia menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum dan Khusus, menaklukkan segala tantangan dengan tekun.

Saat melangkah ke SMA, cahaya bintangnya makin terang. Ia kini menjabat Pradani, pemimpin pramuka tingkat penegak.

“Saya bikin program kerja, memimpin latihan dan mengatur semua kegiatan,” katanya.

Tapi Niana bukan hanya organisator ulung. Di lomba masak giat prestasi penegak, ia meraih juara pertama. Yel-yel? Juga juara.

Puncaknya, ia terpilih mengikuti Kemah Hijau di Cibubur. Udara sejuk, tenda-tenda berbaris rapi, dan api unggun yang menghangatkan malam menjadi kenangan manis. Di sana, ia menari dan menggambar di sela-sela kegiatan.

“Enggak dilombakan sih, tapi panitia suka banget,” katanya tersipu. Saat malam api unggun, ia berbagi pengalaman menulis karya ilmiah—hal yang jarang digemari oleh remaja seusianya.

Beberapa kawan yang ia temui di sana masih menjalin komunikasi hingga kini. Dari kota kecil, Niana telah menjalin jaring kisah dan persahabatan ke pelosok negeri.

Niana adalah gambaran dari keberanian, dedikasi, dan keindahan masa muda yang terarah.

Ia tidak hanya menjadi peserta dalam tiap kegiatan, tetapi juga jiwa yang menghidupkan semangat Pramuka itu sendiri. (gus/fun)

Editor : Abdul Wahid
JAMBORE teman pramuka