Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Duda yang Memilih Besarkan Sendiri Anak Semata Wayang

Achmad Arianto • Sabtu, 19 April 2025 | 18:25 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

Rumah tangga yang sakinah mawaddah dan warohmah serta sehidup semati tentunya menjadi harapan semua pasangan suami istri. Begitu juga yang diinginkan Juned (bukan nama sebenarnya), 50, warga Kecamatan Gending. Sepeninggal istrinya ia memilih jadi duda dan orang tua tunggal bagi anak semata wayangnya.

SIANG itu Juned tampak sibuk melayani pelanggan di kios bensin dan peracangan miliknya. Satu persatu pelanggan bergantian datang membeli barang dagangannya itu. Dengan telaten Juned melayani pelanggan karena usaha yang digelutinya itu merupakan satu-satunya sumber penghasilan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Sekilas tidak ada yang berbeda dengan kehidupan Juned. Namun di balik itu semua pria yang saat ini berstatus duda ini menyimpan kisah yang menyentuh hati.

Sepeninggal istri tercinta karena sakit, dia tak berkeinginan lagi untuk membina rumah tangga baru.

Alasannya karena belum bisa move on alias terlalu cinta kepada almarhumah istri dan merasa kasihan kepada putri hasil pernikahannya.

Kisah kesetiaan Juned ini bermula saat dirinya lulus dari Madrasah Aliyah (MA) dan keluar dari pondok pesantren.

Besar di dunia pesantren membuat Juned muda memiliki jiwa pekerja keras yang cukup tinggi.

Karena itulah setelah lulus sekolah dan beberapa bulan berada di rumah, dirinya merasa bosan.

Hingga kemudian pamannya mengajaknya merantau menjadi buruh pabrik di Kabupaten Gresik.

“Saya mondok sejak lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs) sampai lulus MA. Sudah biasa dengan kesibukan mulai pagi sampai malam. Jadi ketika sudah mentas mondok terus gak ada kegiatan, merasa tidak enak. Karena itulah kemudian merantau bersama paman,” katanya.

Saat merantau itulah Juned hanya fokus untuk bekerja dan mengirim uang hasil kerjanya untuk membantu kebutuhan orang tuanya di kampung halaman yang bekerja sebagai petani.

Sementara sisa upah yang diperoleh kemudian ditabung. Karena masih sendiri upah yang diperoleh lebih dari cukup.

Bahkan dirinya juga rutin mengirimkan uang saku pada 3 adiknya yang masih tinggal bersama orang tuanya di kampung. Sementara Juned hanya pulang ke kampung halaman dua bulan sekali.

Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan swasta tersebut rupanya Juned memiliki nasib baik. Atas pengabdian dan prestasinya lalu diangkat menjadi karyawan tetap di perusahaannya bekerja.

Dengan pekerjaan yang digeluti kehidupan ekonominya semakin membaik. Namun berbanding terbalik dengan kehidupan cintanya. Karena asyik bekerja dirinya justru tidak pernah dekat dengan wanita sehingga tidak berkeinginan menikah.

Hingga akhirnya saat usianya menginjak 28 tahun. Orang tuanya di rumah memintanya untuk segera menikah. Sebab mereka telah merasa Juned siap dari segi materiil dan psikologis.

Sayangnya ketika orang tua memintanya menikah Juned berkata terus terang jika dirinya tidak memiliki calon.

“Jujur saja saat itu saya hanya sibuk bekerja. Karena ingin membahagiakan orang tua dan memenuhi kebutuhan adik-adik dirumah. Sampai tidak sempat mencari calon istri,” ucapnya.

Karena usia telah cukup dan didesak segera menikah akhirnya Juned meminta orang tuanya mencarikan jodoh untuk dirinya. Sebab ia berfikir pilihan orang tua adalah yang paling baik. Beberapa kali Juned dikenalkan dengan wanita.

Namun dirinya merasa belum cocok dan tidak melanjutkan perkenalan tersebut. Hingga akhirnya dirinya dikenalkan oleh salah satu santriwati di sebuah pondok pesantren oleh guru ngajinya.

Gayung pun bersambut perempuan tersebut rupanya pas di hati Juned. Setelah bertemu dua kali Juned langsung melamar pujaan hatinya itu.

Lamaran tersebut tak berlangsung lama, 6 bulan kemudian keduanya pun menikah. Setelah menikah Juned kemudian memboyong istrinya ke Kabupaten Gresik, tempat dia bekerja.

Kehidupan pria yang memiliki hobi burung kicau ini kemudian lebih teratur. Tinggal di rumah kontrakan sudah ada yang masak dan menata semua yang dibutuhkannya.

Setahun kemudian atau saat dirinya berusia 30 tahun, dia dikaruniai seorang putri. Kehidupannya pun semakin lengkap.

Setelah 6 tahun membina rumah tangga, petaka mulai muncul dirinya kemudian merasakan ada yang aneh pada istrinya. Istri tercintanya tersebut sering mengeluh sakit dan nyeri pada perutnya. Tetapi selalu menolak untuk diajak berobat.

Istrinya berpikir jika sakit perutnya adalah sakit biasa. Setelah 4 bulan mendengar keluhan istri yang sering merasakan sakit tersebut. Akhirnya Juned memaksa istrinya untuk periksa.

Mulanya Juned membawanya ke dokter umum tapi setelah diperiksa ada benjolan pada bagian perut istrinya itu. Kemudian menyarankan segera berobat ke dokter spesialis.

Saran itu kemudian dilakukan saat itulah diketahui bahwa tumbuh sel kanker di perut istrinya.

Bak petir menyambar di siang bolong, Juned kaget dengan vonis dokter. Seketika itulah berlinang air mata Juned yang menyesali dirinya sendiri tidak segera membawa istrinya ke dokter.

Juned tak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan agar istri tercintanya sembuh. Mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan alternatif dilakukan pada istrinya. Upaya-upaya tersebut terus dilakukan.

Sayangnya tidak membuahkan hasil, bahkan kondisi istrinya semakin memburuk. Akhirnya setahun setelah vonis kanker kemudian istrinya meninggal dunia.

“Semua pengobatan telah dilakukan tetapi mungkin sudah takdir. Istri tidak bisa diselamatkan,” tuturnya.

Juned kemudian tinggal berdua dengan putrinya yang saat ditinggal ibunya baru masuk SD. Tetapi karena kasihan kemudian ia menitipkan putrinya pada neneknya (ibu Juned, Red).

Karena dititipkan, rasa kangen pada putrinya tersebut selalu muncul. Akhirnya Juned memilih pulang kampung dua minggu sekali.

Sepeninggal istrinya itu beberapa kali orang tuanya kembali memintanya untuk mencari pasangan. Tetapi dirinya menolak. Juned mengaku jika berkenalan dengan calon pasangan selalu teringat sosok istrinya. Serta timbul rasa kasihan pada anaknya.

Saat usia juned memasuki 45 tahun, dia memutuskan untuk pulang kampung. Hasil tabungan dan pesangon selama bekerja yang diterimanya kemudian digunakan untuk membuka usaha kios bensin dan perancangan. Sementara putri dari hasil pernikahannya kini masih mondok di salah satu pesantren.

“Memilih tidak menikah lagi sebenarnya berat. Saya takut pasangan yang baru tidak bisa menyayangi anak dengan tulus. Saya masukkan putri ke pesantren sekaligus bersekolah disana agar pengetahuan agama dan akademiknya lebih baik dibandingkan orang tuanya,” pungkasnya. (ar/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#gagal move on #duda