Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Anak Bungsu yang Ambil Peran saat Orang Tua Merantau ke Tanah Papua

Fuad Alyzen • Sabtu, 22 Februari 2025 | 22:50 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

HIDUP Anji (bukan nama sebenarnya) tidak sama seperti keluarga lainnya. Biasanya setiap anak tinggal dengan ayah dan ibunya. Tapi Anji tinggal bersama neneknya hingga usianya dewasa.

Kedua Orang tua Anji bukannya meninggal dunia. Tapi ayah dan ibunya pergi merantau ke tanah Papua dan pulang hanya satu kali dalam setahun. Itu berlangsung sejak Anji baru lahir. Anji dititipkan ke neneknya karena berangkat kerja ke Papua.

Ayah dan ibunya memiliki tiga orang anak. Anji adalah anak pertama. Dua adiknya berusia agak jauh darinya. “Kami pernah tinggal bersama selama hampir setahun. Namun balik lagi ke Papua,” ujar Anji.

Saat itu, ayah dan ibunya pulang dan sempat menetap tinggal bersama ke tiga anaknya. Ayah dan ibunya memutuskan tinggal di Probolinggo lantaran kakeknya meninggal dunia. Kebetulan pula ibunya mau melahirkan adik keduanya.

Ibu dan ayahnya sebenarnya bahagia hidup di kampung halaman. Tapi Anji menyebut, kondisi ekonomi kedua orangtuanya sangat sulit.

Anji juga masih ingat, betapa hematnya kedua orangtuanya saat dia kecil. Bahkan untuk membeli baju hari raya saja, orangtuanya tak mampu.

Hingga setahun kemudian, orangtuanya memutuskan untuk kembali merantau ke tanah Papua. Sepengetahuan Anji, orang tuanya memutuskan pergi merantau karena sudah memiliki tempat tinggal. Semenjak itu Anji dan adik-adiknya tinggal bersama tante dan neneknya.

Keberangkatan kedua orang tuanya ke Papua, perlahan memperbaiki ekonomi keluarga. Orangtuanya, pasti mengirimkan uang untuk bulanan. Uang itulah yang digunakan sang nenek untuk membiayai sekolah Anji dan kebutuhan sehari-hari.

Anji juga menyadari dan tak pernah berharap kasih sayang orang tua. Dia menganggap jalan yang ditempuh kedua orang tuanya adalah demi dirinya dan anak-anaknya. Sehingga, Anji-lah yang menjadi sosok orangtua kedua, setelah tante dan neneknya.

“Saya juga tanamkan pada adik-adik saya supaya sabar. Orangtua merantau demi kita. Mereka juga berpikiran yang sama dengan saya,” beber Anji.

Selama di Papua, orangtua Anji jarang pulang. Sekalipun itu hari raya. Jelas ini semua karena tiket perjalanan  yang biayanya tak sedikit.

Anji juga sempat meminta orangtuanya, mengajak adik-adiknya untuk hidup di Papua. “Tapi adik memilih untuk tinggal di Probolinggo,” katanya.

Walau tanpa orangtua, Anji dan adik-adiknya begitu kompak. Mereka saling bekerja sama untuk kehidupannya.

Mulai jadwal siapa yang memasak dan bersih-bersih. Ini dijalani sampai Anji dan adik-adiknya menuju remaja.

Semakin dewasa, Anji berpikir agar tak melulu mengandalkan uang kiriman dari orangtua. Apapun juga, Anji harus bekerja. Dia menginginkan membuka usaha, yang membuatnya hidup mandiri.

Berbekal dari uang tabungan yang dikirim dari orang tuanyam Anji selalu menyisihkan. Jumlahnya memang tak seberapa. Mulai 300 ribu sampai 500 ribu. Uang tabungan itulah yang membuat Anji bisa membuka toko sembako.

Dia memanfaatkan tanah milik neneknya untuk membuka usaha. Bangunan toko itu selebar 7x6 meter.

Sampai kini usahanya berjalan lancar. Dia rela berwisaswasta dan tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kini took sembakonya mampu menghidupi. Bahkan dia bisa mempekerjakan empat orang tetangganya. “Ya Alhamdulillah. Saya tidak sendirian, juga dibantu adik laki-laki saya,” katanya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Merantau #papua