NAKAL itu boleh asalkan ada batasnya. Nakal juga jangan sampai merugikan orang. Dan ketika masanya sudah lewat, seseorang harus bisa jadi yang bermanfaat.
Prinsip itulah yang dipegang Asro (bukan nama sebenarnya), 34. Semasa remaja hingga muda, Asro dikenal sebagai orang yang suka buat onar. Kenakalannya dirasa tak wajar oleh anak seumuran atau tetangga-tetangganya.
Tapi semakin dewasa, Asro berubah. Dia bahkan kini pantas dianggap tokoh penting di kampungnya. Sebab dia mampu membangkitkan semangat muda untuk menjadi lebih baik. Bahkan untuk desa karena sering diundang ceramah agama.
Sejatinya Asro memang keturunan seorang tokoh agama di kampungnya, di Kabupaten Probolinggo. Ayahnya sering disebut kiai kampung dan mengajar ngaji anak-anak di rumahnya, setiap sehabis magrib.
Namun sejak kecil Asro berbeda dengan anak yang lain. Dia dikenal nakal di kampungnya. Meski ayahnya seorang tokoh dia enggan belajar. Di sekolahnya pun Asro juga anak ternakal.
Contoh kenakalannya adalah dia berani tidak mengerjakan tugas dari gurunya. Juga yang membuat tetangganya resah, ia malah sering mencuri barang milik tetangganya.
“Tidak menyangka saja, Asro ini berubah drastis,” ujar bibi Asro, Mulidah (juga bukan nama sebenarnya), 55.
Mulidah bernostalgia, keberadaan Asro dulu sangat mengganggu. Waktu kecil ketika bermain, anak se usianya selalu dibikin menangis. Entah itu dipukul tiba-tiba atau barang milik teman seusianya, dicuri.
Mulidah yang merupakan adik dari ibunya, selalu meminta maaf pada tetangganya lantaran Asro sering membuat ulah. Apalagi jika kelewatan seperti memecahkan kaca saat bermain.
“Bukan sekali mengganti kaca rusak. Sudah berkali-kali,” katanya sembari tertawa mengingat kenakalan keponakannya.
Semakin bertambah usianya, Asro malah semakin nakal. Dia masih ingat, kala itu Asro sudah sekolah menengah pertama. Di sekolahnya bukan hanya mencuri lagi. Tapi minum miras, bolos dan berkelahi. Itulah yang sering dilakukan Asro.
Dari kenakalannya, ibu dan bibinya sering dipanggil pihak sekolah. Bukannya pemanggilan karena prestasi, tapi kenakalan remaja. Guru-guru sampai mengenal orangtua Asro.
“Bolos itu sudah sering dilakukannya (Asro). Dari rumah rapi, tiba-tiba guru nelpon Asro tidak masuk sekolah,” ujarnya.
Kenakalan itu membuat Asro dicap sebagai anak tak tahu diri. Masyarakat sudah meyakini Asro jika sudah besar akan tidak jadi apa-apa. Bahkan tidak bisa meneruskan tahta ayahnya.
Meski kenalakan Asro membuat masyarakat resah, namun ayahnya sangat tenang menghadapinya. Lulus dari SMP, sang ayah mengajak Asro menempuh pendidikan di pondok pesantren.
Anehnya, walaupun Asro sering membuat malu padanya, ayahnya tidak memarahinya. Bahkan selalu membalaskan dengan kasih sayang. Waktu mengajak Asro mondok, sang ayah mengajaknya dengan sebuah candaan sembari memeluk Asro.
Kemudian mencium kening Asro sembari mengucapkan: “Semoga menjadi anak yang berguna ya kamu,”
Asro yang super nakal itu seketika nurut. Dan memutuskan untuk berada di pondok.
“Saat Asro di pondok, banyak tetangga yang senang. Karena tidak ada lagi pencurian,” ujarnya.
Asro pun mondok di salah satu ponpes di Kota Probolinggo. Asro tidak memilih pulang ke rumahnya. Itu dia lakukan sampai dia selesai menempuh pendidikan perguruan tinggi di Jember. Sampai tiga tahun di Jember, kemudian Asro pulang ke rumah.
Tentu kepulangan Asro membuat masyarakat kembali resah. Namun ternyata taka da yang tahu jika Asro sudah berubah. Dia terlihat sopan ketika menyapa warga.
Penampilannya juga berubah. Kulitnya bersih, putih dan tinggi besar. Ketampanan Asro semakin tampak, saat pulang. Dia selalu pergi ke masjid setiap melakukan salat. Bahkan kala itu Asro pun aktif di kegiatan masyarakat.
“Ya berubah drastis. Saat komunikasi ketika ada di Jember, Asro selalu menyampaikan kenakalannya,” katanya sembari menirukan komunikasinya dengan Asro.
Selain aktif di lingkungan masyarakat, Asro juga punya peran di organisasi di Kabupaten Probolinggo. Aktivitasnya selalu mengandung positif. Sampai sering diundang ceramah agama.
Bahkan Asro selalu mensedekahkan hartanya pada setiap orang yang membutuhkan. Terutama orang-orang di kampung. Asro banyak membantu pemuda di kampungnya untuk bangkit. Mulai dari mencarikan pekerjaan, modalkan bisnis dan lainnya.
Kini Asro berhasil mengubah pandangan masyarakat terhadap dirinya. Dulu yang banyak membenci, kini keberadaannya diharapkan oleh banyak orang. Asro pun berhasil meneruskan titah ayahnya.
Kata Maulidah, Asro berubah karena sang ayah. Dia pernah mendengar wejangan dari ayah Asro yang meminta agar berdoa kepada Allah saat mendidik anak. Hasilnya, biar nanti Allah yang menentukan.
“Kata kakang (ayah Asro, red) doakan saja. Yang penting berusaha mengarahkan yang terbaik. Itu saja sih, kata kakang waktu saya mengkhawatirkan Asro di pondok maupun di Jember,” katanya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid