Memiliki anak dengan masa depan yang cerah tentunya menjadi harapan setiap orang tua. Begitu juga dengan Siti, (bukan nama sebenarnya), 42. Niat mengkuliahkan anaknya Toni, (juga bukan nama sebenarnya), 20, kandas karena kuliahnya tidak tuntas sebab kena Drop Out (DO) dari tempatnya kuliah.
KEINGINAN Siti agar anaknya mengenyam pendidikan yang lebih tinggi membuatnya semangat untuk bekerja.
Wanita asal Kecamatan Gending ini bahkan rela bekerja serabutan demi menambah penghasilan untuk kiriman anaknya. Saat diminta tetangganya bekerja di sawah untuk menanam padi atau membersihkan hasil panen sawah. Siti tidak pernah menolak.
Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kecamatan Gending. Dengan upah UMR hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar kredit motor yang saat ini belum lunas. Serta kebutuhan sekolah dua anak lainnya.
“Saya punya tiga anak, Toni anak yang pertama. Jadi saya usahakan kuliah agar tidak seperti ibunya yang hanya lulusan SMP,” katanya mengawali cerita.
Siti menceritakan, Toni merupakan anak yang pintar di bidang akademik. Hal ini ini dibuktikan sejak bersekolah mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA selalu mendapatkan rangking 3 besar di kelasnya.
Bahkan karena kelebihan bidang akademik itulah saat masuk jenjang SMA dirinya masuk jurusan IPA.
Jurusan bagi sebagian anak dianggap salah satu jurusan yang keramat karena materi pelajaran yang susah. Namun bagi Toni pelajaran rumpun IPA menjadi favoritnya.
Terlebih lagi fisika dan kimia yang menjadi mata pelajaran kesukaan Toni. Rasa penasarannya pada dua mata pelajaran tersebut bahkan membuatnya menjadi kutu buku.
Setiap istirahat sekolah selalu menyempatkan diri ke perpustakaan untuk menambah wawasan keilmuan fisika dan kimia.
Tak cukup sampai di situ, Ketika mendapatkan PR atau mendapatkan kesulitan untuk mencerna materi pelajaran, Toni selalu meminta izin pada guru pelajaran untuk belajar tambahan setelah pulang sekolah.
Karena kelebihan itulah pihak sekolah juga kerap mengikutkan Toni lomba atau olimpiade antar sekolah.
“Kesukaannya pelajaran fisika dan kimia. Di rumah Toni sering bawa buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Biasanya dibaca sebelum tidur dan setelah sholat subuh,” ucap Siti.
Melihat semangat belajar anaknya itu, Siti beserta suaminya berkomitmen melanjutkan pendidikan anaknya tersebut ke jenjang sarjana.
Dengan harapan agar rasa haus akan ilmu tersalurkan. Serta agar masa depannya lebih cerah dan bekerja ditempat yang nyaman. Lebih baik daripada orang tua. Serta mampu mengatrol kedua adiknya.
Saat masuk kelas XII Toni yang pun semakin semangat belajar. Tujuannya agar nilai akhir memuaskan dan mampu masuk universitas negeri. Usahanya pun membuahkan hasil Toni lulus dengan nilai cukup baik dengan rangking 2 teratas di kelasnya.
Keberuntungannya terus berlanjut dengan nilai akademik yang memuaskan dirinya bahkan lolos masuk jurusan Kimia di Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya melalui jalur prestasi.
Hasil ini tidak hanya membuat orang tua bangga. Bahkan atas prestasi dan capaian yang diraih sekolah memberikan predikat siswa terbaik pada Toni.
“Dari awal memang sudah berkeinginan untuk kuliah. Sehingga mati-matian usaha dan ikut seleksi masuk. Puji syukur bisa masuk jalur prestasi,” tuturnya.
Perempuan berhijab ini pun melepas anak kesayangan itu pergi sekolah untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan sejuta harapan yang diinginkannya agar kelak anaknya menjadi lebih baik dalam segala hal. Siti bahkan sering menahan rindu pada anaknya itu agar Toni bisa fokus kuliah.
Berada di ibu kota membuat pantauan orang tua menjadi berkurang. Hanya nasihat dan komunikasi lewat telepon yang bisa dilakukan. Setiap pekan Siti selalu menyempatkan diri untuk menghubungi anaknya hanya sekedar menanyakan kabar.
Pada semester pertama, Toni kerap menceritakan pengalaman di kampus kepada Siti. Bahkan hal-hal baru yang dirasakan Toni selama berada di perantauan untuk menuntut ilmu selalu diceritakan pada ibunya.
Sehingga walaupun jarak secara fisik cukup jauh namun tetap terasa dekat lantaran komunikasi via telepon cukup intens. Setelah 6 bulan berkuliah rupanya hasil akademik yang diperoleh Toni cukup memuaskan dengan hasil IP cumlaude.
Keanehan mulai muncul saat Toni masuk semester kedua. Komunikasi dengan ibunya dan orang di rumah mulai berkurang.
Siti mulanya menganggap hal wajar sebab dengan bertambahnya semester maka kegiatan di kampus juga menjadi lebih banyak. Namun hasil akademik pada semester kedua ini justru IP Toni turun drastis tidak sampai 3.
Nilai yang diperoleh inilah kemudian yang membuat Siti merasa ada yang aneh pada anaknya itu.
Saat pulang kampung Siti dan suaminya mengajak duduk bersama Toni. Tujuannya agar Toni bercerita kenapa nilainya rendah.
Apakah ada masalah di lingkungannya kuliah. Atau ada hal-hal lain yang membuatnya tidak fokus untuk berkuliah.
“Sejak nilainya anjlok sudah saya tanyakan. Bahkan saya, suami, dan Toni sudah ngobrol serius. Tetapi jawaban Toni katanya tidak ada masalah apa-apa,” tuturnya.
Merasa curiga dan mencium keanehan pada anaknya itu, Siti dan suaminya kemudian datang ke kosan Toni menjenguk langsung melihat keadaannya. Saat kunjungan itu Siti tidak menemukan keanehan dan menganggap semuanya masih wajar.
Namun dia meminta tolong pada Andi (bukan nama sebenarnya) teman satu kos Toni untuk menghubunginya saat ada hal-hal penting dan perlu disampaikan. Tidak cukup sampai di situ. Saat kunjungan itu Siti juga mengunjungi Dewi (bukan nama sebenarnya), sepupu Toni yang juga berkuliah namun beda universitas.
Masuk semester ketiga Toni justru tidak memberikan hasil akademik selama satu semester yang biasanya disampaikan kepada orang tuanya itu.
Siti yang merasakan keanehan sikap Toni semakin menjadi-jadi kemudian meminta tolong Andi dan Dewi untuk mencari tahu apakah Toni benar-benar kuliah ataukah tidak.
Keduanya pun mencari tahu. Dari situlah kemudian diketahui bahwa Toni kerap membolos kuliah sehingga tidak bisa mengikuti ujian.
Andi kemudian menceritakan setiap harinya dikosan Toni memang selalu keluar malam dan pulang hampir subuh. Kemudian jarang masuk kuliah. Hal senada juga disampaikan Dewi.
Saat mengecek kehadiran kuliah diketahui bahwa Toni hampir dua minggu tidak masuk kuliah tanpa keterangan. Bahkan telah diminta untuk menghadap ke pihak kampus tidak pernah datang.
Mendengar kabar tersebut Siti menghubungi Toni. Namun karena tidak diindahkan akhirnya ia bersama suami mendatangi langsung ke kosan.
Sesampainya di kosan dan bertemu Toni mereka pun menasehati Toni agar tidak mengulangi hal yang sama. Masuk semester keempat rupanya perilaku Toni tak kunjung berubah. Hingga akhirnya Toni dikeluarkan oleh pihak kampus.
“Anak berada di perantauan memang sulit untuk melakukan pengawasan. Biasanya setiap hari saya pantau dan nasehati. Karena jauh hanya bisa menasehati tanpa memantau langsung. Toni berubah karena salah pergaulan dan salah memilih teman,” tuturnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid