Ada pepatah mengatakan bahwa jodoh harus dijemput. Hal inilah yang dilakukan Linda (nama samaran), seorang perempuan 28 tahun yang mencoba membuka hatinya pada Andre (JUGA nama samaran), duda berusia 39 tahun, yang baru dikenalnya di sebuah acara keluarga. Perjalanan cinta mereka justru membuktikan bahwa luka masa lalu bisa menjadi penghalang terbesar untuk melangkah maju.
PERTEMUAN Linda dan Andre terjadi secara tidak terduga di acara tahlilan untuk almarhumah ibu Andre. Saat itu, ayah Andre memperkenalkan Linda sebagai salah satu kerabat jauh yang ternyata masih memiliki hubungan darah. Meski awalnya enggan, Linda akhirnya menerima nomor kontak Andre atas permintaan ayahnya Andre.
“Awalnya saya tak berniat mengenal lebih jauh. Tapi, ayah Andre berharap kami saling mengenal. Dia berkata, siapa tahu kami berjodoh. Saya pun berpikir untuk mencoba, meski statusnya duda,” kenang Linda.
Andre adalah seorang pegawai honorer di sebuah instansi pemerintah. Sementara Linda bekerja di perusahaan swasta.
Meski status mereka berbeda, Linda yakin itu bukan masalah. Namun, perbedaan ini ternyata hanya permulaan dari berbagai kendala yang mereka hadapi.
Linda memulai komunikasi terlebih dahulu, meski dengan rasa malu. Andre selalu merespons pesan-pesannya, tetapi jarang menunjukkan inisiatif.
Ketika Linda mengajak bertemu untuk sekadar ngopi atau bersilaturahmi ke rumah, Andre selalu menolak dengan berbagai alasan.
“Saya merasa seperti berbicara sendiri. Padahal kami masih keluarga. Jika diajak ngobrol, dia tanggapi, tapi selebihnya terasa ada jarak,” kata Linda.
Ketika Linda mulai mempertanyakan pandangan Andre tentang pernikahan, jawaban Andre mulai mengungkap luka yang belum sembuh.
Andre mengaku lebih suka memiliki istri yang tinggal di rumah saja. Sebuah pandangan yang dipengaruhi pengalaman pahitnya.
Mantan istrinya, yang awalnya tidak bekerja, pernah dia bantu mendapatkan pekerjaan. Namun, pekerjaan itu justru menjadi awal perselingkuhan.
“Saya jelaskan bahwa selingkuh bukan soal bekerja atau tidak, tetapi soal tabiat. Banyak wanita sukses di luar sana yang tetap menjaga keluarganya. Namun, dia tampaknya tidak bisa menerima itu,” ujar Linda.
Linda mencoba memberi jeda. Selama sebulan, dia berhenti menghubungi Andre untuk menenangkan diri dan berpikir ulang. Setelah itu, Linda memberi Andre kesempatan kedua.
Dia meminta maaf atas sikapnya dan mengungkapkan bahwa bekerja adalah bagian dari kehidupannya yang sulit diubah. Andre tampak memahami, tetapi bayangan masa lalunya masih terus muncul.
Hubungan mereka semakin memburuk ketika Andre salah menafsirkan sebuah pesan ringan dari Linda. Saat Linda mengirim emotikon lucu, Andre menganggapnya terlalu "girly".
“Saya bilang, ‘Ya jangan dikirim ke temanmu yang cowok. Cukup kirim ke aku saja. Ah, kamu tidak peka.’ Maksud saya bercanda, tapi dia justru marah. Saya menduga kata-kata itu membangkitkan kenangan buruknya. Dia mendiamkan saya selama berhari-hari,” cerita Linda.
Linda akhirnya memutuskan untuk mundur. Ia merasa Andre terus membandingkannya dengan mantan istrinya, seolah dia harus menanggung trauma yang bukan miliknya.
“Ibarat seperti bertamu ke rumah yang berantakan. Tentu pemilik rumahlah yang bertanggung jawab merapikan, bukan tamunya. Begitu pula dengan trauma. Andre yang seharusnya membuka diri, bukan saya yang menyesuaikan diri dengan luka-lukanya,” kata Linda. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid