Jangan pernah merendahkan orang lain saat sedang berjaya. Karena itu akan membuatmu jatuh secara perlahan. Bahkan, sampai titik terendah.
INI seperti yang dialami Fredi (bukan nama sebenarnya), 44. Dulu banyak orang yang menjadikannya panutan. Selain tajir melintir, Fredi bisa membangun sebuah bangunan penting di desanya. Bahkan, masyarakat di sekitarnya menjadikannya ketua organisasi di sana.
Hidupnya nyaman karena orang di sekelilingnya menaruh hormat kepadanya. Sayangnya, itu malah membuatnya sombong dan merendahkan siapa pun bila di dekatnya.
Karena itu, banyak orang tak suka dan tak menganggap keberadaannya. Apalagi saat menjabat, dia sering mengganti pengurus masjid tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.
Kini, hidupnya sengsara, tidak memiliki seorang teman. Kesehariannya menjual kerupuk keliling, buatan tetangganya. Badannya hitam dan kurus kering.
Kisah ini bermula pada tahun 2010. Saat itu, Fredi bersama paman iparnya memang berniat membangun sebuah tempat ibadah masjid di desanya. Masjid itu memang sudah layak dibangun karena usianya sudah tua.
Keduanya pun datang ke sebuah perkumpulan rutinan di masjid itu. Fredi menyatakan kesanggupannya untuk membangun masjid. Alasannya masyarakat tambah banyak, sedangkan masjid ukurannya masih kecil.
Namun, pernyataan itu tidak semuanya menyetujui. Ada sebagian yang kontra dengan rencana Fredi karena dia bersama paman ipar yang merupakan keturunan yang mewakafkan tanah, jamaah di masjid tidak bisa apa-apa selain pasrah.
Rencana itu pun terus berjalan. Namun, jamaah yang kontra, malah keluar dari barisan pembangunan masjid.
Alasannya, lebih baik uang digunakan untuk kebutuhan lainnya. Sebab, bangunan masjid itu merupakan peninggalan sesepuh di desa. Daripada dibongkar, warga sebenarnya memilih untuk direnovasi.
“Bangunan tetap berjalan. Tapi kondisinya memanas,” ujar salah satu keturunan pewakaf masjid, Albab (bukan nama sebenarnya), 33.
Katanya, sebenarnya Fredi merupakan orang pendatang yang menikahi warga setempat. Statusnya merupakan mantu dari keturunan pewakaf.
Singkat cerita, bangunan berjalan dengan cepat. Banyak yang berdonasi pada bangunan tersebut. Bahkan, anggota TNI pernah menyumbangkan tenaga untuk pembangunan.
Enam tahun kemudian, bangunan masjid nan megah pun telah rampung.
Karenanya, Fredi mendapat apresiasi dari masyarakat. Karena perjuangannya beserta jajarannya, Fredi bisa membangun masjid di desanya.
“Ya kalau sesuai data, dana yang masuk rata-rata dari jemaah dan pengurus masjid. Karena ketua saja, masyarakat membaca pembangunan tersebut adalah jasanya,” sampainya.
Setelah mendapat banyak pujian itu, Fredi malah berubah. Dia menjadi sombong. Fredi sering menyatakan pada setiap orang di luar desa, pembangunan masjid karena jasanya. Itu diceritakannya tiap kali ada pertemuan.
Yang bikin kesal, Fredi sering merendahkan orang lain. Misalnya pada pengurus masjid lainnya. “Jika bukan saya, dia tidak akan jadi seperti itu dan tidak bisa jadi pengurus masjid,” ujarnya sembari menirukan ucapan Fredi.
Fredi semakin sering mencela dan merendahkan. Berbuat seenaknya saat di masjid. Saking seringnya, Fredi juga malah merendahkan kiai yang menjadi tokoh di desa. Semenjak itulah warga sudah mulai menaruh benci padanya.
Namun, itu tidak disadarinya. Dia tetap berbuat seenaknya dan sering merendahkan jemaah dan orang lain. Sampai banyak warga yang membecinya.
Hingga warga memutuskan untuk mengganti pengurus tanpa sepengetahuannya.
Saat musyawarah itu, Fredi sengaja tidak diundang bahkan dikasih tahu. Sampai terbentuk ketua yang diputuskan kepala desa setempat, kemudian didengar oleh Fredi. Fredi pun marah mendengarnya dan mengancam jemaah untuk dikeluarkan dari kepengurusan.
Masyarakat tidak takut dengan ancaman Fredi. Sekalipun saat itu muncul omongan kasar dari Fredi seraya menantang duel.
“Orang desa biasa menyelesaikan masalah pakai cara itu (duel, Red),” ujar Albab, sembari tertawa.
Dua tahun kemudian, Fredi malah ingin kembali membentuk tim pembangunan masjid di dusun lainnya. Namun, bukan pelayanan yang didapatinya. Melainkan rasa tak respect kepadanya. Karena kesombongannya itulah membuat orang menjauhinya.
Kini Fredi bekerja sebagai sales kerupuk, yang setiap harinya mengantarkan kerupuk. Kondisinya kering dan kurus.
Albab yang merupakan tokoh agama di desa menyarankan sesama manusia baik miskin, kaya, jelek, ganteng, dan lainnya, itu sebenarnya kuasa Allah. Tidak perlu selalu merendahkannya. Jangan sibuk untuk membicarakan kejelekan orang lain. Apalagi menambah karangan ceritanya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid