Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Terpaksa Kencangkan Ikat Pinggang karena Suami Ternyata Gemar Judi

Fandi Armanto • Sabtu, 28 Desember 2024 | 16:05 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Marlin (nama samaran), 21, tak pernah menyangka jika menikah itu berbeda dengan ujian sekolah. Dia hanya merasakan perasaan paling bahagia saat duduk di atas kuade. Saat menikah dengan Muklis (juga nama samaran), 30, dia baru sadar bahwa kehidupan rumah tangganya tak kalah dramastis dengan cerita sinetron.

 

PERNIKAHAN Marlin dengan Muklis sebenarnya juga karena perjodohan. Setelah lulus SMA, wanita asal Tembokrejo, Purworejo, Kota Pasuruan ini sebenarnya sudah memiliki pacar. Dia juga memilih bekerja karena dua orangtuanya tak mampu untuk menguliahkannya.

Marlin juga ikhlas dan menyadari kondisi ekonomi keluarganya. Apalagi, adik-adiknya juga masih kecil. Sehingga dengan bekerja, Marlin sedikit banyak bisa membantu isi dapur rumahnya.

Satu tujuannya saat itu. Menabung dan menunggu pacarnya yang dua tahun lebih muda darinya, melamarnya. Marlin pun giat bekerja. “Bayaran dipakai buat beli motor second. Sisanya ditabung, nyicil sedikit-sedikit kalau nanti jadi menikah,” beber perempuan berhijab itu.

Tapi rupanya, ibu Marlin tak suka jika anak sulungnya itu bekerja. Ibu Marlin menginginkannya agar dia segera  cepat menikah. Supaya, kedua orangtuanya tak punya tanggungan lagi. “Alasannya, perempuan bekerja itu buat apa. Pandangan perempuan hanya ada di dapur itu, masih besar di keluarga saya,” katanya.

Walhasil, Marlin pun didesak untuk menikah dengan pacarnya. Tentu saja Marlin belum bisa menyanggupi. Apalagi, pacarnya juga belum memiliki uang cukup untuk menggelar pesta pernikahan.

Pacar Marlin saat itu juga masih menabung dan punya tanggungan di bank karena membantu membenahi rumah orangtuanya.

Entah mengapa ibu Marlin tiba-tiba berpikir seperti di zaman Siti Nurbaya. Marlin disuruh putus dengan pacarnya. Sang ibupun gencar mencarikannya pria untuk dijodohkan. Pria itu tentu saja yang sudah bekerja.

Beberapa kali Marlin dikenalkan dengan anak teman ibunya. Tapi berkali-kali pula Marlin menolaknya.

Dia selalu punya beribu alasan untuk menolak dijodohkan. Mulai dari usia yang masih kecil, hingga mengaku orangtua pacarnya sudah bersiap untuk bertemu dengan ibu-bapaknya.

Hanya saja, berkali-kali ditagih soal rencana lamaran itu, Marlin hanya berani semoyo.  Bahkan pernah saat pacarnya datang ke rumah, ibu Marlin langsung menanyakan soal pernikahan.

Tentu saja pacar Marlin gelagapan. Karena Marlin dan pacarnya saat itu sudah punya rencana akan menikah, bila adi pacarnya sudah lulus SMP.

“Dari situlah ibu merasa tak percaya. Menyuruh saya putus, dan kembali mencarikannya jodoh,” beber Marlin.

Hingga suatu saat kemudian, ibu Marlin mengenalkannya dengan anak dari temannya. “Ibu hanya bilang, pria ini sudah cukup umur dan punya pekerjaan yang bayarannya besar di perusahannya,” kata Marlin.

Lagi-lagi, Marlin berusaha menolak. Tapi sang ibu rupanya benar-benar marah. “Sampai bilang, jika tak mau menikah, keluar saja dari rumah. Saya langsung mag deg,” kata Marlin mengenang.

Tiap malam akhirnya Marlin hanya bisa meratapi omongan ibunya. Dia takut disangka jadi anak durhaka. Pelan-pelan, hati Marlin mulai terusik. Singkatnya, dia akhirnya mau dikenalkan dengan pria yang dijodohkan oleh ibunya itu.

Pria itu tak lain adalah Muklis. Saat pertama kali mengenalnya, Marlin tentu canggung. Apalagi, usianya hampir sepuluh tahun lebih tua darinya. Dari perkenalan itulah Marlin lalu memutuskan hubungan dengan pacarnya.

Hubungannya dengan Muklis juga singkat. Enam bulan kemudian, dia menikah dengan Muklis. Pernikahannya tentu tak mengundang sang pacar karena dia khawatir sakit hati masih melekat.

Nah, setelah pesta resepsi, Marlin resmi tak tinggal lagi serumah dengan orangtuanya. Dia memilih tinggal Bersama mertuanya. Marlin juga keluar dari pekerjannya.
Saya merasa, mungkin takdirku jadi istri dan ibu rumah tangga. Bangun pagi bikin kopi dan sediakan sarapan untuk suami,” beber Marlin.

Marlin memang sudah tak berpenghasilan. Dia menerima nafkah dari suaminya. Tapi di sinilah konflik mulai terjadi.

“Sebulan dua bulan pertama, saya tak mengetahui permasalahan suami. Hingga di bulan kelima pernikahan kami, tempat kerja suami ada pengurangan jam kerja. Suami katut dan gajinya berkurang,” beber Marlin.

Celakanya lagi, dia baru mengetahui ternyata Muklis senang main slot. Sebagian gajinya bahkan ada yang harus tergerus untuk membayar pinjaman. Marlin langsung pusing dan berpikir untuk kembali bekerja.

Kondisi rumah tangganya lalu diketahui keua orangtuanya. Sang ibu ikut menyesal. Karena sejak menikah, Marlin ternyata tak pernah lagi memberikannya uang. “Tapi ibu juga tahu jika suami punya permasalahan,” beber Marlin.

Alasan itupula yang memuat sang ibu menyetujui Marlin kembali bekerja. Sang ibu menyadari kesalahannya dan kini tak bisa mengatur-ngatur Marlin lebih.

Marlin dan suaminya kini hanya bisa mengencangkan ikat pinggang. Seraya membayar hutang yang harus segera dilunasi. Sedikit demi sedikit dia mengumpulkan uang. “Minimal tak menyusahkan orangtua. Sembari menyadarkan suami suapaya tak lagi main slot yang tak halal jika diberikan ke keluarga,” beber Marlin. (fun)

 

Editor : Ronald Fernando
#rumah tangga #menikah #hemat #judi