PASANGAN suami istri (pasutri) sebut saja Ben (bukan nama sebenarnya), 39, dan Citra (juga bukan nama sebenarnya), 38, penuh perjuangan. Pasutri asal Kabupaten Probolinggo bisa kaya berkat kerja keras istri. Bahkan bias mengubah suami yang dahulu tak pernah beribadah.
Sebelum menikah, Ben dan Citra adalah pasangan yang menjalani hubungan pertemanan saat masih belia. Keduanya berpacaran saat menduduki bangku SMA.
Citra yang punya bakat merias meluangkan waktu untuk bekerja saat masih sekolah SMA dulu.
“Dulu suami yang mengantarkan, terkadang ayah,” ujarnya saat menceritakannya ke Jawa Pos Radar Bromo.
Singkat cerita, keduanya usai lulus dari SMA, menikah. Kedua orang tuanya sepakat Ben dan Citra menjalin hubungan rumah tanggasaat usianya mereka muda.
Setelah menikah, Citra tidak diperbolehkan bekerja lagi oleh Ben sebagai perias manten. Sebab yang akan mencari nafkah adalah suaminya.
Waktu itu sang suami bekerja di perusahaan swasta, di sebuah pabrik dekat rumahnya.
Meski suaminya sedang bekerja mencari nafkah, ada suatu hal yang tidak disukai Citra. Suaminya jarang mengerjakan salat.
Citra sudah menyarankan agar suaminya mengerjakan salat. Namun alasannya sedang sibuk bekerja.
Sebab memang suaminya berangkat kerja pada pagi hari, malam baru pulang. Kadang lembur hingga dini hari.
“Itu yang menjadi alasan suamiku tidak salat. Bahkan sebelum menikah, tidak pernah mengerjakan salat,” ujarnya.
Suatu ketika, ekonomi pasangan ini alami pasang surut. Selama 4 tahun bekerja, Ben di-PHK oleh perusahaan. Alhasil, setiap harinya kebutuhan hidup keluarganya tidak ada pemasukan. Padahal waktu itu Citra sedang hamil anak pertamanya. Terpaksa untuk mencukupi kebutuhan sampai melahirkan, Ben menggunakan uang dari hasil hutang yang meminjam ke teman-temannya.
Belum lagi biaya setelah melahirkan. Biaya itu diperoleh juga dari hasil ngutang ke teman-temannya.
Kondisinya itu bertahan sampai bertahun-tahun. Malah Ben yang memiliki hutang sampai diketahui puluhan juta, sempat dikejar orang yang menagihnya.
“Hidup saya sampai berada pada titik terendah. Karena saya dan suami dihina oleh orang-orang,” ujarnya.
Akhirnya Citra memberanikan diri meminta suaminya untuk mengerjakan salat. Namun tetap titah itu dibantah oleh suaminya.
Justru Ben berkata, “Iya saya mau salat, asalkan kamu yang mencari uang,” ujarnya sembari menirukan ucap suami.
Citra yang memiliki bakat perias, akhirnya kembali terjun ke dunia jasa itu. Mulanya, dia menerima jasa merias ke wisudawati di kampus-kampus hingga pernikahan. Namun awalnya tidak mudah. Untuk menarik perhatian pelanggan sangat sulit.
Setelah enam bulan lamanya, akhirnya Citra menerima tawaran dari seseorang. Waktu itu masih menjadi anak buah. Bertahun-tahun dia selalu dibawah kendali para bos perias.
Perlahan, bakatnya sebagai perias mulai disukai orang. Waktu itu Citra menerima jasa perias mahasiswi yang sedang wisuda.
Walaupun tengah malam Citra, rela meluangkannya untuk menghasilkan cuan. “Jarang tidur, karena masih merawat anak, melayani suami dan target melunasi hutang,” sampainya.
Lambat laun banyak orang yang tertarik pada jasa Citra. Mulai acara pernikahan, karnaval, wisudawan dan lainnya. Enam tahun kemudian Citra akhirnya bisa melunasi hutangnya.
Semenjak itu dia hanya fokus untuk menabung dan menafkahi keluarganya. Sedangkan suaminya hanya mengantarkan istri saat sedang merias.
Pekerjaan itu semakin ditekuninya. Perlahan Citra bisa membeli tenda pernikahan, catering pernikahan, kursi tamu pernikahan, sampai baju dan dekor pernikahan. Dia berhasil meraup keuntungan dari penyewaan barang-barang pernikahan.
“Alhamdulillah, setelah itu suami mulai rutin mengerjakan salat. Setelah selama 20 tahun jarang,” katanya sembari melihat senyum suaminya.
Sampai akhirnya Citra bisa membeli mobil yang terbilang mewah untuk ukuran keluarga di Indonesia. Kendaraan itu digunakannya untuk keperluan saat menerima jasa rias. Sebab dari dulu kendaraan menyewa.
Bukan hanya mobil. Kemudian membeli truk untuk kebutuhan barang-barang pernikahan. Citra lalu dikenal menjadi bos rias dan berhasil mengubah hidupnya menjadi lebih nyaman.
Sementara suaminya hanya bisa membantu pekerjaan istrinya. Bahkan dari pekerjaannya bisa membangun rumah.
Di sisi lain, Ben mengaku dulu ia selalu berpikir bahwa mendapat uang bisa diperoleh dengan cara instan. Namun itu salah. Sebab, untuk memperolehnya, memang harus disertai doa dan usaha.
Ben juga sempat meragukan istrinya, karena pekerjaan ini hasilnya sangatlah tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jika tidak ada job, ya tidak memiliki uang. Namun jika ditekuni pasti ada jalan.
Hingga Ben teringat akan petuah seorang kiai yang memintanya berdoa dan meminta pada yang maha kaya.
“Ini yang saya rasakan. Dari yang dulunya terpuruk karena selalu ditagih hutang, sekarang Alhamdulillah kami dititipkan pekerjaan yang sangat mulia,” sampainya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid