MASA remaja seharusnya menjadi masa yang membahagiakan dengan banyaknya prestasi yang terukir. Tapi kondisi berbeda dialami Nia, 15 (bukan nama sebenarnya). Masa remaja salah satu siswi sekolah menengah pertama justru diwarnai dengan pergaulan bebas.
Nia yang punya paras wajah cantik ini, kebablasan. Betapa tidak, dia memiliki pacar yang 3 tahun lebih tua daripada dirinya, sering diajak hangout. Biasanya mereka pergi ketika jam-jam sekolah.
Ya, Nia memilih bolos sekolah dan pergi dengan pacarnya sebut saja Salim, 18. “Ya kami bersenang-senang dan mabuk bersama di rumah pacar saya. Kadang pacar saya juga membawa teman-temannya juga,” tuturnya.
Suatu ketika, Nia yang sudah mabuk pun melampaui batas pacarannya. Ia berhubungan layaknya suami istri dengan Salim. Tak hanya berdua dengan Salim.
Nia pun digilir dengan teman-teman Salim lainnya. Meski demikian Nia tak berat hati, bahkan mereka sudah melakukan hal tersebut beberapa kali.
“Hingga akhirnya saya hamil. Kakak dan orang tua saya marah besar. Kakak saya mengutarakan bahwa ia malu memiliki adik seperti saya. Sementara orang tua saya mendesak dan bertanya siapa ayah dari anak saya. Saya pun bingung, tak tahu siapa ayahnya,” katanya.
Akibat tindakan Nia tersebut, sang Kakak yang bernama Rosi (bukan nama sebenarnya) tiap hari makin kurus.
“Ia kepikiran. Memang kakakku sangat berharap aku menjadi seseorang yang sukses. Bisa menjadi kebanggaan keluarga dan mengangkat martabat keluarga kami yang sederhana ini. Tapi aku mengecewakannya. Hingga puncaknya, kakakku pun sakit dan akhirnya meninggal dunia,” ujarnya.
Sementara Ayah Nia terus-terusan mencari cara agar aib tersebut tak menyebar ke telinga para tetangga. Mulanya ia meminta Nia untuk mengakui siapa ayah dari bayi tersebut. Sang ayah ingin meminta pertanggungjawaban dari pria itu.
“Saya yang kebingungan akhirnya lebih memilih meminta pertanggungjawaban dari pacar saya, Salim. Saya antar ayah saya ke rumahnya,” terang Nia.
Namun setelah ayahnya tahu bahwa rumah Salim berada di desa, sang ayah mendadak berubah dengan tujuan awalnya. Saat melihat rumah Salim yang sederhana, sang ayah urung meminta Salim untuk menikahi anaknya tersebut.
“Ayah tidak mau karena dia bukan berasal dari keluarga berada. Jadi dia mencari cara lain untuk menyelesaikan permasalahanku itu,” katanya.
Tak habis pikir, ayah Nia malah menyuruhnya untuk menggugurkan bayi tersebut. Nia yang tak bisa melawan perintah orang tuanya itu, menurut saja. Mulai dari obat, ramuan herbal, hingga terakhir menggunakan metode urut. Semua Nia jajaki.
“Tapi entahlah, bayi itu begitu kuat hingga semua percobaan itu gagal. Aku tetap mengandungnya. Bahkan aku melahirkan sesaat setelah ujian nasional digelar. Untungnya tidak ada yang menyadari perbedaan bentuk tubuhku. Entah orang-orang itu tak tahu, atau pura-pura tak tahu,” ujarnya.
Bayi perempuan tersebut diberi nama Citra (bukan nama sebenarnya). Sayangnya, perlakuan Nia dan ayahnya pada bayi selama masa hamil, nyatanya membawa dampak negatif pada sang bayi yang dilahirkan. Ia menderita kelainan.
“Akhirnya anak itu diakui sebagai anak oleh orang tuaku. Jadilah dia adikku. Padahal dia adalah anakku. Dia dirawat oleh orang tuaku, dan akupun menyembunyikan identitas aslinya dari siapapun. Sementara setelah melahirkannya, aku tetap melanjutkan sekolah ke sekolah menengah kejuruan,” kata Nia.
Setelah kejadian itu, ia putus dengan Salim. Namun setelah masuk SMK, Nia kembali memiliki pacar baru. Doni (bukan nama sebenarnya), namanya. Untuk kedua kalinya, Nia kembali terjerumus ke pergaulan bebas. Ia kembali hamil.
“Bedanya, kali ini ayahku mau merestui Doni untuk menikahiku. Ini karena Doni berbeda dengan Salim. Ia berasal dari keluarga yang tergolong mampu. Bahkan belum-belum, Doni sudah memberi keluargaku banyak harta benda. Motornya sering dipinjamkan untuk keperluan ayahku. Maklum motor ayahku hanya motor butut, sementara milik Doni motor zaman now,” ungkap Nia.
Singkatnya, Doni dan Nia akhirnya berjodoh. “Hingga hari pernikahan kami tiba, bahkan hingga saat ini pun Doni tak mengetahui apa-apa tentang cerita masa laluku. Bahkan ia masih berpikir bahwa Citra memang benar-benar adikku. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid