Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Empat Bersaudara di Leces Probolinggo yang Alami Tunanetra sejak Kecil

radar bromo • Sabtu, 26 Oktober 2024 | 17:05 WIB
TETAP BAHAGIA: Satu keluarga yang mengalami tuna netra di Desa Tigasan Wetan. Walau punya keterbatasan, mereka saling support.
TETAP BAHAGIA: Satu keluarga yang mengalami tuna netra di Desa Tigasan Wetan. Walau punya keterbatasan, mereka saling support.

KELUARGA tunanetra di Kecamatan Leces bikin hati teriris. Betapa tidak, empat bersaudara tidak dapat melihat sejak lahir. Mereka adalah Nisam, Nima, Miarni dan Siami, warga Desa Tigasan Wetan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Kisah mereka sempat menjadi perhatian pemerintah.

Satu keluarga itu adalah Nisam, 50. Ia merupakan saudara tertua. Kemudian, adiknya Miarni, 47, Nima, 44, dan Siami, 40. Mereka tinggal dalam satu rumah bersama keponakan dan cucunya yang tidak mengalami tunanetra di Dusun Pasar Arah.

Saat ini Nisam dan dua adiknya yaitu Miarni dan Siami tinggal satu rumah.  Sedangkan Nima ikut tinggal bersama anaknya di Bali. 

Mereka bertiga hidup bersama satu rumah dengan sang keponakan bernama Nasi, 31, serta suami dan dua anak Nasi. Sehingga satu rumah ditinggali tujuh anggota keluarga.

Nasi adalah anak dari saudara mereka yang bernama Biani,  Namun Biani telah lebih dulu menghadap yang maha kuasa. Dari lima bersaudara ini, hanya Biani yang memiliki penglihatan yang normal. Sehingga Biani yang dahulu sempat merawat saudara-saudaranya. Sepeninggal sang ibu, Nasi mengambil alih tanggung jawab ibunya dalam mengurus paman dan bibinya ini.

Tidak diketahui persis apa yang membuat empat bersaudara ini memiliki keterbatasan penglihatan sedari lahir.

Mereka hanya berkeyakinan apa yang menimpa mereka ini adalah takdir Tuhan. Pasalnya, ayah dan ibu mereka dulunya memiliki penglihatan yang normal sehingga bukan berasal dari keturunan.

"Dari kecil memang tidak bisa melihat. Hanya ibunya Nasi (Biani, red) yang bisa. Mungkin memang takdir Tuhan ya mbak. Ayah ibu kami dulunya juga normal," terang Nisam.

Sebagai anak pertama laki-laki, Nisam adalah tulang punggung bagi adik-adiknya. Meski tidak dapat melihat, Nisam dianugerahi kemampuan bisa memijat serta banyak orang yang suka dengan keahliannya ini. Dari memijat inilah, sumber pendapatan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat Nisam sedang bekerja, kedua adiknya yaitu Miarni dan Siami bertugas memasak dan mencari rumput untuk sapi mereka. Untuk menambah pendapatan, mereka sekeluarga memelihara sapi. Tapi sapi itu bukan milik mereka. Melainkan milik orang.

Nantinya ketika sudah besar, sapi itu dijual. Mereka akan mendapat setengah dari profit penjualan.

Ketiganya mengaku tidak kesulitan untuk menjalani aktivitas sehari-hari seperti mencuci, memasak, atau ke ladang. 

"Ke sawah kadang-kadang, nyari rumput buat sapi. Soalnya mau kerja apa? Tidak bisa melihat," kata Miarni.

Karena keterbatasan ini, mereka bertiga memutuskan untuk tidak menikah. Dulunya Siami, sang bungsu pernah menjalin hubungan pernikahan. Sampai suatu saat suaminya izin pergi bekerja ke luar kota dan tidak pernah kembali lagi. Semenjak itu ia memutuskan tidak ingin menjalin hubungan lagi.

"Pernah nikah. Hanya 7 bulan, terus kerja ke luar kota dan tidak pernah balik lagi, tidak tahu kemana," katanya.

Sedangkan Nisam mengaku, alasan ia tidak menikah adalah sebab merasa tidak mampu menafkahi istrinya dengan kondisinya ini.

"Mau dikasih makan apa? Saya cuma bisa mijat, tidak bisa kerja yang lain karena tidak bisa melihat" katanya.

Sama halnya dengan Miarni, ia mengaku memang tidak ingin menikah. Keterbatasan yang ia miliki membuatnya tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Menurutnya yang terpenting saat ini adalah bisa hidup dengan baik bersama saudara-saudaranya.

"Mikirin mau nikah, ini saja saya tidak bisa apa-apa. Jadi, sudah begini saja" ujar Miarni.

Tidak menyerah dalam hidup, bagi mereka bertiga,  keluarga adalah yang paling utama. Kemana-mana harus selalu bersama.

Sebagai sang kakak, Nisam yang lebih berani. Bisa menghidupkan kompor, bisa menuntun adiknya menyeberang, serta menghidupi adik-adiknya. Miarni penakut.

Kalau nyebrang takut ditabrak. Jadi, biasanya sama saya. Kalau sekitar sini masih hapal jalannya.  Kalau jauh baru minta antar Nasi," terang Nisam.

Sepeninggal ayah dan ibunya, mereka harus mensupport satu sama lain. Meski tinggal dengan Nasi, mereka mengaku tidak ingin menyusahkan keponakan yang sudah berkeluarga. Terutama dalam hal finansial.

"Ya kalau pengen punya uang ,ya mijat. Dari uang mijat itulah kami makan bareng-bareng," kata mereka.

Kondisi satu keluarga tunanetra ini, pernah mendapat perhatian pemerintah. Mereka berempat pernah mendapat pemeriksaan gratis dan akan dirujuk ke Surabaya untuk tindakan operasi.

Namun, kata dokter setelah tindakan operasi pun mereka tetap tidak dapat melihat sepenuhnya, sehingga niat itu diurungkan.

"Sudah dibawa ke Wonolangan, tapi kata dokter tetap tidak dapat melihat 100 persen. Jadi, ya sudah mereka tidak mau. Mungkin memang sudah tidak bisa sembuh mbak, tidak apa-apa begini saja," kata Nasi sembari diiyakan Miarni.

Spirit hidup tiga bersaudara ini patut diacungi jempol. Meski dibatasi dengan keadaan tidak lantas membuat mereka hidup dalam keputusasaan. Bagi mereka, dapat tidur nyaman dan bisa makan bersama keluarga, sudah cukup.

"Alhamdulillah bisa mijat ini sudah cukup dikasih Tuhan. Yang penting tidak khawatir tidak bisa makan," ujar Nisam.

Selama ini, mereka juga telah beberapa kali mendapat bantuan dari pemerintah. Baik bantuan uang tunai atau bahan makanan,  meski tidak rutin setiap bulan. Pemerintah juga memfasilitasi mereka kamar mandi agar memiliki sanitasi yang baik.

"Bantuan ada tiap tiga bulan kalau tidak salah, ya kadang ada kadang ndak ada. Tapi kemarin dibuatkan kamar mandi di belakang rumah," jelas Nasi. (mg/fun)

Editor : Abdul Wahid
#buta #tuna netra