Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ngakunya Healing, Ternyata Istri Check In dengan Pria Lain

Inneke Agustin • Sabtu, 21 September 2024 | 19:45 WIB

 

 

ILUSTRASI LOVE STORY
ILUSTRASI LOVE STORY

Memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah adalah impian setiap pasangan. Namun, harapan ini harus kandas bagi Puji, 27, dan Budi, 28 (bukan nama asli), setelah tiga tahun berlayar bersama dalam bahtera rumah tangga mereka.

 

MASALAH ini bermula ketika Budi, yang sebelumnya dikenal sebagai suami yang menghargai privasi istrinya, secara tidak sengaja mengutak-atik handphone Puji. Dia kaget bukan kepalang.

Budi menjelaskan bahwa ia bukanlah tipe orang yang ingin tahu urusan pribadi istrinya. Ia selalu menghargai privasi Puji, dan menganggap itu sebagai hak istrinya.

Namun, lama-kelamaan Budi merasa ada yang berubah dalam sikap Puji dan rasa curiga pun mulai muncul. Saat Puji sedang beraktivitas di dapur, Budi memutuskan untuk membuka handphone Puji yang tidak dipassword.

Betapa terkejutnya Budi ketika menemukan foto-foto Puji bersama seorang pria lain di dalam kamar hotel. Foto-foto tersebut dilengkapi dengan bukti pemesanan hotel yang atas nama Puji, serta chat yang menunjukkan adanya janji temu.

“Bukan hanya foto di dalam kamar, namun juga bukti booking hotel tersebut memang atas nama istri saya. Ada chat janjiannya juga ada. Ketika saya ingat-ingat tanggal di pemesanan tersebut adalah tanggal dimana istri saya pamit untuk healing ke luar kota sendirian,” katanya.

Menurut Budi, istrinya itu memang sering meminta izin untuk quality time sendirian ke luar kota. Budi pun tak pernah berpikir aneh-aneh terhadap istrinya. Ia mengira istrinya tersebut memang ingin jalan-jalan sendirian tanpa ditemani olehnya.

“Saya pikir itu hal yang wajar. Sebab istri saya juga sedang menderita sebuah penyakit anxiety. Saya kira dia memang butuh me time, jadi ya saya izinkan. Tapi ternyata kesempatan itu ia gunakan untuk seperti ini. Baru di saat itu saya pun merasa bersalah sebagai suami tidak bisa menjaganya dengan baik,” jelas Budi.

Amarah dan rasa sakit hati Budi mencampur aduk dalam dirinya. Ia merasa dikhianati sekaligus menyesal telah memberi izin kepada Puji. Dengan bukti-bukti yang telah disimpan di handphonenya, Budi memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Puji tentang pria dalam foto tersebut.

“Hingga akhirnya kesabaran saya pun runtuh. Saya memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut pada Puji. Saya tanya siapa lelaki di dalam foto tersebut. Sebelumnya bukti-bukti tersebut memang sudah saya transfer ke HP pribadi saya untuk saya simpan,” tuturnya.

Anehnya, Puji tak langsung meminta maaf atas kesalahannya tersebut. Ia malah marah balik kepada Budi atas kelancangannya mengecek gawai miliknya.

“Puji bilang ini juga salah saya yang tidak peduli padanya. Padahal selama dia menderita sakit anxiety tersebut, tak pernah sekalipun saya menelantarkan dia. Meski saya tahu mungkin penghasilan saya minim, namun saya berusaha apapun yang ia minta saya penuhi. Termasuk biaya pengobatannya,” kata Budi.

Puji berkelit bahwa lelaki di foto tersebut adalah saudara sepupunya. Namun Budi tak percaya. Menurutnya, bila saudara sepupu tak perlu hingga tidur di hotel. “Kalau memang saudara harusnya tidur saja di rumah saudaranya. Kenapa harus di hotel? Kan saya pikir tidak mungkin bahwa saudara seperti itu,” katanya.

Budi pun tetap mececar Puji dengan pertanyaan yang sama. Berharap Puji mau jujur. Namun ia malah mendapat tamparan keras di pipinya.

“Saya ditampar istri sendiri. Hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Handphone saya juga dibanting olehnya, untung tidak rusak. Sejak saat itu saya memilih untuk pisah rumah,” katanya.

Setelah perpisahan, Budi mengetahui bahwa Puji sering diantar jemput oleh pria lain, dan belakangan Puji pun mulai menjalin hubungan dengan pria tersebut. Sementara itu, Puji sudah mengajukan gugatan cerai kepada Budi.

Proses perceraian mereka menjadi cukup rumit. Puji meminta berbagai macam persyaratan. Seperti motor untuk berangkat kerja, nafkah materiil, dan pembayaran cicilan rumah.

Budi mencoba memenuhi beberapa permintaan, seperti membeli motor bekas dan memenuhi nafkah materiil selama tiga bulan sesuai ketentuan pengadilan.

“Beberapa ada yang saya kabulkan, namun sebagian saya tolak. Motor sudah saya belikan meski bekas. Nafkah materil memang diatur oleh pengadilan saat itu 3 bulan, juga sudah saya penuhi,” katanya.

Selebihnya dia tidak memberi nafkah materil lagi. Mengingat mereka berdua belum memiliki anak. “Sementara terkait perumahan, saya terus terang mengatakan bahwa saya tidak mampu meneruskan cicilan tersebut. Bila Puji ingin tetap tinggal disana, dia harus membayar menggunakan usahanya sendiri,” jelas Budi. (gus/fun)

Editor : Abdul Wahid
#istri selingkuh #Cek in