SYRA (bukan nama sebenarnya) sejak menikah selalu dimanja suaminya. Bahkan dia tak pernah mengurus pekerjaan rumah saat suami sedang bekerja. Semuanya berubah tatkala sangh suami sudah tiada. Dia harus memulai kehidupan sulit tanpa suami.
Bukan tanpa alasan mengapa Syra manja. Sebabnya, Syra sejak kecil memang selalu dimanja. Sejak kecil Syra diratukan oleh orang tuanya. Inilah yang menimbulkan dampak buruk terhadap emosionalnya.
Ketika dia menikah tahun 1989, Syra mendapatkan sesosok laki-laki yang begitu mencintainya.
Lelaki itu yang kebetulan lulusan pondok pesantren. Lelaki yang sudah terlatih mandiri sejak kecil.
Dia menikahi Syra lantaran dijodohkan orang tuanya. Waktu itu juga keluarga termasuk kedua orang tua Syra menyetujuinya. Karena lelaki yang akan menikahinya dikenal baik dan pekerja keras.
“Pintar mimpin saat acara keagamaan, kerja sawah bisa, rumah tangga dan lainnya,” kata Syra saat curhat.
Syra langsung menerima lamaran calon suaminya itu. Sebab katanya, calon suaminya waktu itu selain putih juga bersih. Tampan dan dermawan. Sangat rajin bekerja.
Akhirnya keduanya menikah dengan perayaan yang besar. Mengundang ribuan orang untuk mendoakan pernikahannya. “Modalnya kebetulan dari panen tanaman waktu itu dan juga penjualan ternak sapi,” ujarnya.
Setelah melakukan acara pernikahan itu, orang tua Syra perlahan melepaskan pengawasannya terhadap anaknya tersebut, meski keduanya tinggal di rumah Syra. Sebab mereka mempercayakan penuh ke suaminya.
Sebulan setelah pernikahan, suami Syra dibuat kaget sikap istrinya yang masih kekanakan. Namun lantaran kebiasaannya di dunia pesantren, itu bukanlah hal yang sulit baginya.
Betapa manjanya Syra karena pekerjaan rumah seperti nyuci, nyiapkan makanan, membersihkan rumah dan lainnya, tidak pernah dilakukan. Dia pikir orangtuanya yang akan menyiapkan semuanya.
Saat lapar pun, Syra pergi ke rumah orangtuanya. Dia makan bersama di sana tanpa sepengetahuan suami.
Alhasil suami pulang kerja rumah berantakan dan tidak makanan. Padahal pas awal-awal suami ingin merasakan hasil masakannya.
Sejak saat itu suaminya sebelum berangkat kerja, mengerjakan pekerjaan rumah lebih dulu. Mulai makan, membersihkan rumah hingga memasan.
“Saya bangun tiba-tiba bersih dan sudah siap makanan. Suami bangun jam 3, saya jam 5 karna dibangunin suami,” jelasnya.
Suami yang tidak memperdulikan pribadi istrinya, terus saja mengerjakan pekerjaan rumah. Istrinya hanya melayani suami saat di ranjang. Itu dilakukannya sampai kedua pasangan ini dikaruniai 3 anak.
Celakanya, kelakuan buruk ini terjadi sampai kedua orang tua Syra sudah meninggal dunia. Perilakunya tidak berubah.
“Tapi almarhum suami saya tidak pernah memarahi saya. Yang ada semua pekerjaan beres. Padahal anak sudah 3,” ucapnya dengan tatapan kosong sembari meneteskan air mata.
Hingga suatu ketika suaminya mulai sakit-sakitan. Di usia 50 tahun lebih suaminya yang sudah mulai keriput itu, menderita penyakit yang membuat dirinya harus diopname di rumah sakit.
Seminggu kemudian suaminya meninggal dunia pada tahun 2023 lalu. Sebulan setelah kematian dirinya sudah merasakan kehilangan sosok yang menjadi suami sekaligus orangtuaya.
Bahkan tiga anak yang dibesarkan tidak ada yang peduli ke Syra, lantaran semuanya sibuk dengan pribadinya. Anak pertama dengan keluarganya di Malang, anak kedua sibuk dengan pekerjaan jadi manajer di sebuah perusahaan. Sedangkan anak ketiga memilih menempuh pendidikan di pondok.
Apa yang harus dilakukannya itu terasa sangat berat. Sebab makanan yang ia masak, tidak senyaman masakan ortu dan suaminya. Baju yang tinggal pakai, kini harus mencucinya sendiri. Begitupun rumah.
“Kadang kalau tidak dicuci sampai menumpuk. Tidak ada lagi baju yang dipakai, terpaksa nyuci sendiri. Capek,” katanya sembari menangis.
Tak ingin rasanya menikah lagi, meski sudah banyak yang melamarnya. Sebab dia terngiang almarhum suaminya. Dia mencoba meneruskannya walaupun itu berat baginya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid