Alex (bukan nama sebenarnya) didorong orang tuanya untuk menikah. Sebab usianya hamper kepala tiga dan orang tuanya tidak mau dia jadi bujang lapuk. Alex tak menyangka, jodohnya ternyata anak dari kawannya yang sama-sama penggemar judi.
SEJAK masih remaja Alex memang pandai bergaul. Kawannya berasal dari mana saja, termasuk dengan orang yang lebih tua.
Termasuk mertuanya sendiri yang sebut saja namanya Riko, 49. Keduanya sangat akrab karena mereka gemar berjudi bola. Bahkan keduanya kerap ke lokasi karaoke menyewa biduan bersama.
Semuanya bermula saat Alex lulus dari sekolah menengah pertama (SMP). Dia menganggur lantaran faktor ekonomi, dia tidak melanjutkan sekolahnya.
Ia pun sering nongkrong di salah satu warung kopi di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.
Alex dan Riko sebenarnya sama-sama warga asli Kecamatan Sumberasih. Kumpul di lingkungan orang terbiasa berjudi membuat Alex tergiur. Malah berbaur dan semakin tertarik.
Meski begitu, Alex tidak pernah menggunakan uang dari ortunya. Ia mau bekerja serabutan demi bisa bermain judi. Cara yang dianggapnya ampuh untuk melipatgandakan uangnya.
“Saat masih remaja kerja bantu panen tanaman. Menanam juga. Hasilnya lumayan bisa buat beli kebutuhan,” kata Alex.
Alex yang selalu membawa hoki, membuat Riko senang dengannya. Hingga Riko sering mengajak Alex di setiap praktik judi.
Entah itu judi kartu, atau mencari lawan bersama bertaruh sepakbola. Maklum saat itu judi online belum setenar sekarang.
“Bukan hanya satu judi. Sepak bola pun. Apalagi saat piala dunia atau ajang Euero jadi sasaran empuk para penjudi,” katanya.
Nah kala itu setiap ada momen sepak bola, keduanya bekerjasama. Alex yang mencarikan lawan untuk Riko. Meski uangnya lebih banyak Riko, mereka tetap akrab.
Kekompakan ini dilakukan keduanya selama bertahun-tahun. Main judi sepak bola, terhidung sejak World Cup 2010. Saat Spanyol menjadi juara. Di momen itu, keduanya kalah hingga jutaan rupiah.
Namun kekalahan itu tidak membuatnya kapok. Keduanya terus bekerjasama memburu judi untuk terus berjudi. “Kadang kalah dan kadang menang. Ya begitu. Bawaannya panas. Ingin main terus,” tandasnya.
Setelah lama berbaur di dunia perjudian, orang tua mendadak memintanya menikah. Sebab usianya nyaris menjadi bujang lapuk yang khawatir di usia tuanya merana.
Orangtua Alex wajar saja menyuruhnya menikah. Sebab Alex yang rajin bekerja, tapi tak pernah punya apa-apa. Orang tuanya yakin Alex bisa lebih sejahtera bila menikahg.
Alex yang diminta untuk menikah, meng iyakan permintaan orang tuanya. Orang tuanya gembira. Mereka lantas mencarikan perempuan untuk Alex nikahi.
Namun dari lima perempuan yang dijodohkan untuk Asem, selalu gagal. Bahkan satu diantaranya pernah sampai tahap tunangan.
Hingga orang tua Alex mengetahui, ada tetangga mereka yakni Riko, memiliki anak perempuan.
Tanpa sepengatahuan Alex, orangtuanya menanyakannya ke tetangga Riko. Orang tua Alex tak pernah tahu, jika Riko adalah orang yang selalu judi bersama anaknya.
“Orang tua saya tidak tahu. Hanya saya sudah punya penghasilan. Mertua saya (Riko) juga. Pekerjaannya tidak tahu,” jelasnya.
Orang tua Alex mulai memberanikan diri. Berbicara empat mata dengan orang dalam, yakni saudaranya Riko. Percakapan yang positif itu membuat orang tua Alex tambah semangat.
Hanya saudara Riko yang mengetahui bahwa ada lelaki yang akan melamar anaknya. Tapi Riko juga tak pernah tahu bahwa yang akan melamar anaknya adalah Alex, teman yang kerap mendampinginya tiap kali bertaruh.
Hingga Alex pun tahu bahwa dia akan dijodohkan dengan anak Riko. Alex sebenarnya suka, karena anak Riko punya paras ayu. Cuma dia khawatir Riko akan menerimanya.
“Saya mau takutnya mertua saya (Riko, red) yang tidak mau waktu itu. Apalagi calon istri waktu itu, baru habis pulang dari pondok,” ujarnya.
Namun jodoh memang tidak akan kemana. Bersama orangtuanya, Alex datang ke rumah Riko. Nah, di situlah dia bertemu dengan Riko. Kontan saja Riko hanya tersenyum. “Waktu itu belum diiyakan,” katanya.
Hingga akhirnya keluarga Riko menerima Alex. Alex fditerima keluarga Riko karena dinilai sabar, lemah lembut dan penurut.
Singkat cerita akhirnya Alex menikahi anak Riko. Temannya yang menyaksikan waktu itu terharu namun bercampur lucu. Sebab mereka mengetahui Alex dan Riko kerap bekerjasama main judi.
Setelah pernikahan, ada hikmah yang terjadi. Riko dan Alex yang dulu akrab karena judi, jadi malu sendiri. Bahkan sempat tak bertutur sapa.
Tapi alasan inilah yang akhirnya membuat keduanya berhenti bermain judi. Riko malu terdengar mantunya. Begitupun sebaliknya.
Alex yang mulai bekerja di salah satu perusahaan pabrik kayu di Kota Probolinggo, juga sudah lama meninggalkan judi. Riko juga sama, dia malah sukses jadi pedagang jagung. Dari uang halal itu keduanya menafkahi keluarganya.
“Meski satu rumah, sampai sekarang mau tutur sapa masih malu. Bahkan terbilang jarang. Ya karena malu itu,” katanya sembari tertawa.
Kini Alex sudah dikarunia anak perempuan cantik. Usianya sudah 3 tahun. “Alhamdulillah, ini jalanku dari yang maha kuasa agar berhenti berjudi. Karena selain malu ke mertua, saya tidak mau menafkahi anak dan istri dari uang haram,” katanya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid