Jeki (bukan nama sebenarnya) dikenal pemuda yang hobi mengkonsumsi minuman keras (miras). Teman-temannya bahkan menjulukinya dewa mabok. Dia baru berhenti menjadi peminum dan tobat setelah divonis penyakit lambung yang membuatnya sering muntah darah.
SEORANG pemuda menggunakan peci hitam terlihat santai di rumahnya di Kecamatan Maron.
Pagi menjelang siang itu ditemani secangkir teh ia memainkan sebuah HP dalam genggaman. Itulah aktivitas Jeki, 32, saat libur bekerja.
Tidak banyak yang tahu kehidupan kelam darinya. Sebelum menjalani kehidupan normal saat ini. Dirinya pernah terjerumus pada pergaulan negatif menjadi peminum.
Jeki menceritakan bahwa dirinya mulai mengenal miras sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Bersama teman sebayanya sering menyisihkan uang sakunya kemudian patungan untuk membeli sebotol miras.
Aktivitas tersebut sering dilakukannya baik saat pulang sekolah ataupun akhir pekan.
Seringnya mengkonsumsi miras ini kemudian menjadi kebiasaan. Karena itulah saat tidak membeli miras terasa ada yang aneh dalam hidupnya.
“Mulai SMA sudah kenal miras. Mulanya hanya melihat kakak kelas dan teman sebaya minum. Akhirnya tertarik untuk mencobanya, dari situlah kemudian menjadi kebiasaan,” katanya mengawali cerita.
Mulanya pria yang menyukai musik reggae ini mengkonsumsi miras dengan kadar alkohol yang rendah.
Setelah berbulan-bulan mengkonsumsi minuman tersebut, rupanya tubuhnya menjadi lebih kebal dan tidak mudah mabuk.
Perlahan kemudian ia mencoba miras dengan kadar alkohol yang tinggi. Tidak cukup sampai disitu ia juga mencoba miras oplosan agar efek mabuknya lebih terasa.
Jeki bilang DIA mengkonsumsi miras dilakukan bukan karena ada masalah keluarga atau anak broken home. Melainkan dirinya gengsi dengan teman nongkrongnya yang memang tukang mabuk. Dari circle-nya itu dirinya kemudian menjadi sosok yang jago minum.
Setiap ada kegiatan nongkrong yang ditemani miras dirinya pasti datang. Bukan hanya datang dengan tangan kosong tetapi dirinya pasti membawa tambahan miras yang diminum bergantian dengan rekan-rekannya.
Semakin kuat minum dan tidak mudah mabuk maka akan lebih disegani.
Saking pintarnya Jeki menyimpan kebiasaannya mengkonsumsi miras. Kedua orangtua dan saudara di rumah tidak mengetahui kebiasaan buruknya itu.
Sebab saat mabuk dirinya tidak pulang ke rumah sampai benar-benar sudah sadar. Sehingga tidak ada yang mencurigainya.
Sesekali ada aduan dan laporan yang disampaikan kepada keluarganya. Namun saat ditanya Jeki selalu berkilah sebab memang tidak ada tanda-tanda telah mengkonsumsi miras.
“Bisa dibilang saat ada acara minum, saya pasti dikabari dan saya pasti bawa tambahan miras. Itu dinikmati bersama, setiap anak minum satu gelas digilir sampai minuman habis. Selesai minum saya tidak pulang sampai benar-benar sadar,” bebernya.
Bertahun-tahun aktivitas itu dilakukan puncaknya saat menginjak usia 29 tahun Jeki mulai merasakan ada yang tidak beres dengan lambungnya. Setiap makan terutama yang bertekstur kasar, dirinya selalu muntah.
Mulanya ia mengira bahwa dirinya terkena penyakit maag. Keluarga di rumahnya pun mulai bingung dengan penyakit yang diderita oleh Jeki.
Setiap merasa sakit pada lambungnya kemudian ia meminta dibelikan obat maag yang dijual di pasaran.
Awalnya obat yang diminum tersebut manjur. Namun setelah beberapa pekan mengkonsumsi obat tersebut, saat makan muntah kembali terjadi. Bahkan menjadi lebih parah.
Tidak ada satu makanan pun yang bisa dimakan. Sebab setiap makanan yang telah ditelan, lambung seolah-olah menolaknya kemudian muntah.
“Saat saya sakit, keluarga berpikir jika sakit ini dikirim oleh orang yang membenci saya. Karena itu pengobatan dilakukan secara nonmedis. Namun tidak ada hasilnya,” tuturnya.
Semenjak itulah hari-hari kelam menggelayut dalam hati dan pikiran Jeki. Tubuhnya semakin kurus karena lambung hanya bisa diisi oleh cairan dengan cara diminum.
Kondisi tersebut semakin memburuk sebab beberapa kali perutnya mual kemudian muntah disertai darah.
Seketika itulah Jeki berpikir bahwa umurnya tidak panjang lagi. Seolah mendapatkan teguran saat itulah dia pun meminta maaf kepada kedua orang tua dan saudaranya bahwa sebelum sakit memang memiliki hobi mengkonsumsi miras.
Pengakuan itu membuat ibunya seakan tersambar petir. Hingga akhirnya keluarga memutuskan untuk memeriksakan kondisinya pada dokter.
Saat tiba di rumah sakit, dokter langsung memvonis bahwa lambung Jeki telah rusak.
Tapi masih bisa dipulihkan dengan cara mengkonsumsi obat dan melakukan terapi. Upaya ini tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama.
Dengan sabar setiap tahapan pengobatan dilakukannya. Seakan mendapatkan mukjizat lambung Jeki berangsur-angsur pulih.
Makanan yang semula hanya berupa cairan. Perlahan lambung sudah bisa menerima makanan berupa bubur.
Berbulan-bulan ia mengkonsumsi bubur hingga akhirnya dokter menyarankannya mencoba makan-makanan normal.
Perlahan pola makannya pun kembali normal hingga kondisi kesehatan jeki benar-benar pulih.
Kini Jeki menyadari bahwa kebiasaan mabuk membawanya ke pintu kematian. Setelah melakukan pengobatan medis dan menjaga pola makan selama 1,5 tahun kondisinya pun kembali pulih.
Kendati demikian dirinya tetap harus menjaga pola makan agar kondisi lambungnya tetap terjaga.
“Kebiasaan minum miras dampaknya negatifnya bisa dirasakan di kemudian hari. Kalau belum mengalami, tidak mungkin mengindahkan bahwa minum miras dampaknya luar biasa. Setelah sembuh saya sudah tidak pernah menyentuh setetes pun miras dan memang saya jauhi,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid