TAK mujur nasib Asep (bukan nama asli), niat hati meminang Sri (juga bukan nama sebenarnya) untuk dijadikan pendamping hingga akhir hayat, di tengah perjalanan rumah tangganya, niat itu harus putus lantaran ditinggal Sri. Sri jengah dengan kelakuan Asep yang tidak memberi perhatian cukup bagi keluarganya.
Di usianya yang tak sampai setengah abad atau 40 tahun, asep galau. Selama 5 tahun belakangan yang memikirkan kesalahannya terhadap Sri.
“Sampai saat ini, masih ingat. Mantan istri ini minggat dengan alasan saya terlalu sibuk bekerja,” katanya.
Sejatinya, ia tak habis pikir peluh yang dikeluarkan oleh Asep merupakan suatu bentuk kasih sayang terhadap istri.
Ia rela bekerja hingga larut malam. Bahkan, berhari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Saya seorang sopir. Kerja memang jamnya tidak menentu. Bahkan, kadang berhari-hari baru pulang. Sebenarnya maklum bilang kurang kasih sayang atau perhatian. Tapi, ini untuk dia (Sri, red),” ujarnya.
Hanya kemampuan mengemudi inilah yang membuat Asep harus rela bekerja tanpa mengenal waktu. Dari menjadi sopir dia bisa memberikan nafkah untuk keluarga. Alasan itu membuat Asep terus fokus untuk bekerja dan bekerja.
Selama menjadi sopir, Asep memang menyadari bahwa dia kerap meninggalkan keluarganya.
Dia hanya punya waktu sebentar saat libur. Itu pun biasanya dia pakai hanya untuk istirahat, bila ada di rumah.
Asep sebenarnya juga tidak nakal, seperti anggapan orang terhadap sopir. Dia tidak senang dengan stigma sopir yang kerap sudi mampir. Alias jajan karena sering pergi ke luar kota.
Asep mengaku sangat setia dengan sang istri. Terlbih saat dia mengingat bagaimana upayanya mendapatkan hati Sri, sebelum menjadikannya sebagai istri.
Hatinya sangat teriris tatkala ia mengingat masa-masanya bersama istri saat masih pacaran dulu. Berjanji sehidup semati. Namun, nyatanya ditinggal pergi.
“Ingat saat masih pacaran janji-janji yang kami bangun berdua, akhirnya hanya tinggal janji karena kurangnya perhatian,” ujarnya.
Hati Asep sangat terluka. Dia kecewa terhadap dirinya sendiri dan mantan istrinya.
Untuk membuka hati ya saat ini sangat hati-hati. Tak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
“Lima tahun ini belum berani untuk mendekati atau mencari yang lain. Mantan istri merupakan masa lalu yang sangat memberikan pengalaman pahit. Sehingga, lebih hati-hati,”ujarnya.
Buah hati yang dibawa oleh istri, sesekali dijenguk oleh Asep. Meski hanya untuk memberi rezeki yang tak seberapa.
Dia memang rutin menjenguk anaknya. Asep masih punya tanggung jawab terhadap anaknya.
“Namanya anak merupakan darah daging. Dengan mantan istri masih sesekali bertemu. Namun, sudah tak seperti dulu karena dia sudah memiliki belahan hati lain atau menikah lagi,” ujarnya.
Jika misalnya waktu bisa diulang, Asep menyebutkan jika dirinya akan memperbaiki segala kesalahan. Meskipun sesekali dia berpikir jika kesalahan itu bukan hanya dibuat olehnya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Masa depan yang diimpikan semakin kabur.
“Andai saja waktu bisa berputar. Tentu keluarga menjadi prioritas. Mengedepankan ego dalam sebuah hubungan sangat riskan. Gejolak permasalahan rentan terjadi. Mengalah bukan berarti kalah, namun mengalah untuk kebaikan. Mungkin hal itu yang akan dilakukan. Andaikan waktu bisa terulang kembali,” katanya. (mu/fun)
Editor : Jawanto Arifin