KELUARGA Misna (bukan nama sebenarnya), 49, dikenal sebagai raja utang di desanya di Kabupaten Probolinggo. Hampir semua saudara sepupunya terlilit utang. Jumlahnya tidak sedikit pula. Penyebabnya lantaran orang tuanya tidak membayar utang sampai mati.
Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Pepatah ini yang dilontarkan Misna pada keluarganya. Gara-gara utang, ia rela sampai bertengkar dengan keluarganya.
Sejatinya Misna memiliki keluarga besar. Misna adalah dua bersaudara. Ibunya meninggal lebih dahulu. Ibu Misna memiliki adik kandung yang juga lama meninggal dunia.
Nah, adik kandung ibu Misna, memiliki empat orang anak. Sebut saja namanya Warsi, yang meninggalkan utang saat kematiannya.
Celakanya, sampai saat ini ahli waris Warsi, belum membayar utang itu.
“Dulu utang emas. Beberapa ringgit yang dipinjam,” ujar Misna mengenang cerita kelam itu.
Kata Misna, permasalahannya diantara saudaranya, semuanya memiliki utang yang tidak sedikit.
Boleh dibilang, keluarganya terlalu berani berutang namun tidak bisa membayarnya.
Seperti utang saudaranya padanya. Pernah dia dipinjami duit sebanyak Rp 30 oleh saudaranya dulu. Dipinjam untuk keperluan hajatan pernikahan anaknya.
Lantaran masih keluarga, Misna tentu saja mau meminjamkan uang pada sepupunya itu. Duit itu memang perlu untuk menggelar resepsi pernikahan pada tahun 2019 lalu.
Dari sinilah permasalahan mulai muncul. Tepat ketika saudaranya meleset lantaran belum membayar utangnya. “Pernah mencoba menagihnya. Namun malah menantang carok,” katanya.
Padahal yang namanya utang ya harus dibayar. Misna juga sudah menggunakan berbagai cara.
Mulai dari menyindir halus sampai menagih dengan nada tinggi. Sebab, jumlah puluhan juta itu sangat diperlukan olehnya.
Dasar apes. Belum bisa kesampaian membayar utang, saudara kandung yang berutang kepadanya, meninggal dunia.
Misna sebenarnya masih tak ikhlas. Mau menagih ke anak sepupunya, juga tak mungkin. Karena anak sepupunya juga orang yang baru berkeluarga.
Misna makin kaget karena ternyata, almarhum sepupunya itu juga berutang pada orang selain.
Bahkan bukan hanya kepada satu orang. Nominalnya juga puluhan juta. Dengar-dengar dari tetangga, utang-utang tersebut belum juga dibayar.
Makin kaget lagi, bukan hanya almarhum sepupunya saja yang berutang. Ketiga adik-adiknya juga terlilit utang. Nominalnya juga tidak sedikit.
Utang-utang itu kini jadi warisan yang efeknya sangat terasa pada anak-anak sepupunya atau keponakannya.
Kata Misna, salah satu dari anak sepupunya itu, kini memiliki menantu yang selalu membawa kabur uang orang. Bahkan barang berharga milik mertuanya ikut dijual.
Ada pula keponakannya yang selalu tertimpa masalah. Bahkan sering konflik orang lain dan lagi-lagi berhubungan dengan utang. Ada yang selalu bertengkar dengan rumah tangganya. Faktornya lantaran ekonomi.
Misna memang tak bia mengiklaskan utang yang dibawa mati oleh sepupunya. Makanya dia berprinsip, jika misalkan memiliki utang segeralah dibayar. Sebab jika utang dibawa mati, efeknya pada turunannya
Tetangga Misna, Sunar (juga bukan nama sebenarnya), 50, juga senada soal almarhum sepupu Misna.
Sebab, kelakuan sepupu Misna yang rakus akan harta, terlihat saat masih hidup. Saking rakusnya, tanah milik tetangganya saja digeser, digunakan untuk keperluan pribadinya.
“Meski tidak banyak, masa tidak malu, dia berdiri ditanah siapa?,” kata Sunar. Sehingga dia heran jika keponakan Misna, hidupnya selalu tak tenang.
Menurutnya, cerita tentang sepupu Misna, hampir semua orang mengetahuinya. Gaya hidup yang berlebih, menjadi penyebabnya. “Semoga di alam kubur, tidak disiksa. Apalagi banyak yang diutangi, sampai saat ini belum ikhlas. Naudubillah…” kata Sunar. (zen/fun)
Editor : Jawanto Arifin