Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Difabel Sejak Lahir tapi Tidak Pernah Ingin Mengemis dan Dikasihani

Ronald Fernando • Sabtu, 16 Maret 2024 | 17:30 WIB
PUNYA PRINSIP: Sulhan menjual bantal dengan sepeda khususnya.
PUNYA PRINSIP: Sulhan menjual bantal dengan sepeda khususnya.

Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Walaupun memiliki keterbatasan fisik, jangan jadikan itu sebagai kendala. Apalagi untuk melakukan aktitas sehari-hari.

 

INILAH prinsip yang dipegang teguh Muhammad Sulhan, 37, warga Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Sejak lahir dia sudah menyandang difabel. Dia tak memiliki tangan dan kaki yang sempurna.

Tapi dengan keterbatasannya itu, Sulkan tak ingin dikasihani. Dia rela mencari nafkah dengan menjadi penjual bantal dan guling keliling. Selain itu dia juga menerima service kasur.

Setiap hari dia berangkat mencari rezeki mulai pukul 05.00 sampai 12.00. Berkeliling Kota Probolinggo.

Rutenya, biasanya dimulai dari Alun-alun, menuju stadion, kemudian menuju taman maramis.

Sudah sejak 2006 dia melakoni ini. Dengan sepeda pancal yang sudah dimodifikasi di bagian depannya, Sulhan sudah fasih.

Sepeda pancalnya tak berbeda jauh dengan sepeda konvensional. Hanya saja ada pedal yang juga berfungsi sebagai setirnya.

PUNYA PRINSIP: Sulhan menjual bantal dengan sepeda khususnya.
PUNYA PRINSIP: Sulhan menjual bantal dengan sepeda khususnya.

Di bagian belakang ada tempat penyangga bantal serta memiliki tiga roda.

Sepeda itu ia dapatkan dari hasil sekolah khusus difabel daerah Bangil, Kabupaten Pasuruan.

Di sekolah, ia belajar keterampilan khusus yakni jurusan menjahit selama setahun. Setelah lulus dan ingin melanjutkan usaha, dia diberikan fasilitas sesuai kebutuhannya.

Ia memulai usahanya berjualan bantal dan guling keliling. Banyak tantangan yang ia dapatkan, seperti bantal yang jarang laku, dan bahkan diejek oleh orang.

Pengalaman yang terkesan pada tahun pertama, ia mendapatkan ejekan dari orang yang tidak dikenal.

Orang tersebut merendahkan Sulhan. Bahkan Sulhan disuruh mengemis daripada bekerja.

Tapi ejekan itu menjadi cambuk bagi Sulhan. Dia tak mutung apalagi patah aang. Dia sudah memiliki prinsip, lebih baik tangan di atas dari pada tangan dibawah. Itu pula yang dijarkan oleh orang tuanya.

“Kalau misal saya mau minta-minta, pasti saya akan banyak uang dengan mudah. Tapi saya menolak hal itu, lebih baik saya jualan bantal. Laku atau tidak laku yang penting halal dan menjaga harga diri,” katanya.

Saat malam hari selepas mencari rezeki, dia kerap memiliki waktu kosong. Biasanya untuk mengisi kekosongan, Sulhan lebih memilih mengisi kegiatan religius.

Salah satunya mengikuti majelis salawatan yang menjadi hobinya.

Salah satu majelis selawatan yang populer di Kota Probolinggo, yang berasal dari salah satu pondok pesantren di Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Setiap majelis salawatannya yang diadakan di daerah Kota Probolinggo, Sulhan tidak pernah absen untuk hadir.

Bahkan ia sudah  kenal baik dengan munsyid majelis selawatan favoritnya.

PUNYA PRINSIP: Sulhan menjual bantal dengan sepeda khususnya.
PUNYA PRINSIP: Sulhan menjual bantal dengan sepeda khususnya.

Sulhan juga sering diajak untuk naik ke atas panggung oleh munsyid. Akan tetapi ia merasa malu. Ia bukan malu dengan kekurangannya. Tapi karena merasa belum pantas.

“Dari pada malam hari saya kosong, lebih baik saya ke majelis. Siapa tahu melalui itu bisa diampuni dosa saya, dan di terima segala amal,” katanya.

Saat ini Sulhan adalah seorang ayah yang memiliki satu anak dan satu istri. Sang istri juga merupakan seorang difabel sejak lahir. Istrinya juga alumni satu sekolah khusus di Bangil.

Awal mula pertemuan dengan sang istri, di agenda reuni sekolah khusus sekitar tahun 2006. Ia tertarik dengan istrinya dan langsung meminta nomor HP.

Selang sepuluh hari setelah berkenalan, Sulhan langsung menyatakan ingin menikahinya.

Bahkan Sulhan yang mendapat permintaan untuk segera melamar calon istrinya waktu itu. Sulhan langsung mengiyakan.

Proses pernikahan juga sederhana. “Saat proses lamaran, langsung dilanjut dengan pernilkahan,” katanya. (mg2/fun)

Editor : Ronald Fernando
#difabel