Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Enggan Tinggal di Rumah Masa Kecil karena Ilmu Sihir

Fuad Alyzen • Sabtu, 9 Maret 2024 | 19:10 WIB
Photo
Photo

Persoalan warisan acapkali jadi ajang rebutan. Bahkan keluarga yang tadinya utuh, bisa tercerai berai. Bila ada intrik dendam, cara-cara jahat pun bisa dilakukan. Seperti yang dialami keluarga dari Probolinggo ini.

 

MUS (bukan nama sebenarnya), 45,  masih ingat saat dia kecil, keluarganya ada banyak. Dia memiliki kakak dan adik.

Tetapi saat terjadi rebutan lahan antar saudara dari orangtuanya, banyak keluarganya yang meninggal dengan misterius. Katanya, mati tak wajar. Seperti terkena ilmu hitam.

Anehnya, keluarganya banyak yang meninggal saat tinggal di salah satu rumah yang menjadi lahan rebutan.

Sudah empat orang keluarganya yang meninggal. Sehingga kini tak ada yang berani tinggal di rumah yang sempat didiami orangtuanya tersebut.

 

 

Sebelum pengalaman buruk tersebut, hiduplah sepasang suami istri. Sebut saja namanya Sutris (bukan nama sebenarnya), 68,  dan istrinya Mina (juga bukan nama sebenarnya), 65.

Mereka memiliki enam orang anak dan tinggal di rumah berukuran 9 x 6 meter. Dan Mus adalah anak kedua dari pasutri ini.

Di rumah tersebut, tepatnya di Kota Probolinggo, mereka hidup tentram bersama keluarganya.

Setiap kumpul bersama, bercanda ria. Mereka sekeluarga dikenal baik. Sebab selain rajin membantu antar sesama, mereka juga rajin beribadah. Pasutri Sutris dan Mina dikenal penolong.

Tetapi dasar sifat manusia, terkadang ada yang tidak suka dengan kebahagaiaan tersebut.

Apalagi sejak banyak anak-anak Sutris yang meninggal dunia dengan cara tak wajar.

“Soalnya tidak biasa matinya. Masa semua matinya dengan ciri-ciri yang sama,” ujar Mus yang saat ini tinggal bersama suaminya di Kabupaten Probolinggo.

Kisah ini dimulai dari ayahnya yang mengalami sakit. Saat itu beberapa kali ayahnya dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. Hingga akhirnya meninggal dunia.

Mus dan keluarganya tak mengira ayahnya terkena ilmu sihir. “Sebab selama ini tidak pernah mengeluh sakit.

 

 

Suka olahraga. Bahkan kerap membantu ibu. Tetangga sekitar juga kerap ditolong, hingga mengisi salat lima waktu di masjid sekitar rumah,” beber Mus.

Tiba-tiba tubuh ayahnya badannya perlahan kurus. Sampai kulit perut seperti menyentuh kulit pinggang dibagian belakang. Saking kurusnya, matanya seperti berlubang.

“Waktu itu saya mengira ayah sakit. Kemudian meninggal. Waktu dimaklumi karena usianya sudah lanjut usia,” ujarnya.

Sebelum sakit, ayahnya pernah bercerita mimpi buruk. Ada seseorang tak dikenal, yang mengubur bangkai hewan di sekitar rumahnya.

Orang itu menaburkan bunga. Dari isu awal mula dia menduga ayahnya terkena sihir.

Hingga nasib nahas juga dialami ibunya, Mina. Sebelum meninggal dengan badan yang kurus krempeng, ibunya juga menyampaikan mimpinya sebelum sakit dan meninggal.

Ternyata apa yang diceritakan sama. Ada orang tak dikenal, mengubur bangkai hewan di sekitar rumahnya.

Waktu itu Mus masih belum curiga. Ibunya meninggal masih diduga lantaran menderita penyakit.

 

 

“Anehnya respon dokter waktu perawatan tidak ada penyakit yang membahayakan,” bebernya.

Hingga kemudian adik bungsu nomor enam juga mengalami hal yang sama. Waktu itu tahun 2009. Adiknya meninggal dengan ciri yang sama dengan kedua orangtuanya.

Akhirnya dirinya bersama adik dan kakaknya mencari tahu. Konsultasi dengan orang yang paham spiritual.

Semua yang dikonsultasikan, responnya sama. Orang tersebut menyebut bahwa keluarganya terkena santet. Mus bercerita, ilmu hitam itu dibuat dari keluarganya sendiri.

“Dari sana saya menyimpulkan mungkin lahan rumah yang dihuni selama ini, tidak disetujui untuk ditinggali keluarga saya,” ujarnya.

Akhirnya dia bersama lima bersaudara yang sudah ditinggal ayah ibu dan adik bungsunya, memilih meninggalkan rumah. Anak pertama, kedua dan keempat tinggal di rumah suaminya.

Sedangkan anak ketiga dan kelima merantau ke Bali untuk mengais rezeki.

Entah percaya atau tidak. Selama beberapa tahun, Mus, kakak dan adik-adiknya  tidak pernah terkena penyakit yang sama menimpa keluarganya. Semuanya baik-baik saja.

Mus masih setengah yakin bahwa keluarganya benar-benar disantet. Sebab beberapa orang yang paham spiritual, responnya disantet saudaranya sendiri.

 

 

Mus dan keluarganya sebenarnya hendak melupakan kejadian itu. Supaya tidak terjadi saling tuding di antara keluarga besarnya.

Hingga sekitar tahun 2017, adiknya yang dari Bali, pulang ke Probolinggo. Adiknya ingin membangun rumah dari hasil pekerjaannya.

Karena masih ingin membangun rumah, sang adik akhirnya tinggal di rumah yang sempat mereka diami bersama. Yakni rumah yang katanya menjadi lahan rebutan.

Hingga belum sebulan tinggal, adiknya juga mengalami mimpi. Kemudian sakit. Sama persis dengan ayah, ibu dan adiknya yang adik bungsunya.

Sang adik yang sakit lalu rumah sakit untuk perawatan. Satu minggu kemudian meninggal dunia.

Seketika itu, Mus kembali teringat kejadian sebelumnya. Ayah, ibu, adik bungsu dan adik nomor limanya, meninggal tidak wajar.

Kini sudah beberapa tahun, rumah tersebut tidak dihuni. Rumah itu menjadi momok. Tak ada yang berani tinggal.

Bahkan Anak dari Mus yang baru berkeluarga dan sempat tinggal bersama istrinya di rumah tersebut, tidak dia izinkan. Dia khawatir, nasib serupa juga dialami anaknya.

 

 

“Saya sampai bangunkan rumah untuk anak saya. Takut alami hal sama,” katanya sembari menunjukan rumah barunya.

Kini keluarga Sutris dan Mina, tinggal menyisakan anak pertama, Mus, anak ketiga dan anak keempat.

Mereka semua berkeluarga yang tinggal dirumah pasangannya masing-masing di Kabupaten Probolingo. Mereka rela meninggalkan rumah masa kecilnya bersama orangtuanya.

“Kami hanya mampir ke rumah untuk mendoakan kematian ayah ibu dan adik-adik saya. Tapi tidak pernah sampai tinggal,” kata Mus yang saat itu diiyakan oleh adik-adiknya. (zen/fun)

Editor : Ronald Fernando
#warisan #ilmu santet