Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Choirul Umam Masduqi yang Pernah Rasakan Sepinya Wisata Bromo dan Jip yang Masuk ke Jurang

Arif Mashudi • Sabtu, 17 Februari 2024 | 16:10 WIB
BANYAK COBAAN: Choirul Umam (paling kiri) bersama kliennya saat mengantar ke Bromo. 
BANYAK COBAAN: Choirul Umam (paling kiri) bersama kliennya saat mengantar ke Bromo. 

TIDAK mudah bagi pelaku wisata untuk bertahan. Apalagi saat pandemi pernah datang. Ini yang dialami Choirul Umam Masduqi. Tapi dia berusaha bertahan dan terus bangkit.

Choirul merintis usaha dari nol. Sebelum terjun sebagai pelaku wisata, dia pernah bekerja di media.

Dia juga pernah membuka usaha cucian mobil. Semua itu, dilalui secara bertahap dan penuh ujian. Bahkan pernah jip miliknya hancur setelah jatuh ke dalam jurang.

Pria kelahiran Probolinggo 2 Maret 1992 itu awalnya menjadi wartawan sebuah perusahaan media cetak lokal di Probolinggo sejak tahun 2013 lalu. Dari situ, dirinya banyak belajar dan kenal dengan orang banyak.

Hingga akhirnya, sekitar tahun 2018, istrinya, Early Alimatul Fahmi menjadi pegawai honorer sebagai bidan desa Karangrejo, Kecamatan Kuripan.

Nah, lokasi tempat istrinya bertugas itu, dikenal dengan medan akses jalannya berbatu dan menanjak.

Dampaknya, kendaraan sulit melintasi jalur tersebut. Sehingga, dirinya pun menjual sepeda motornya dan untuk uang muka membeli mobil. Choirul masih ingtat, mobil pertamanya adalah Taft.

”Saat punya mobil Taft itu, saya tanya-tanya ke teman bengkel yang cocok untuk Taft. Ada teman yang menyarankan bengkel di Lumbang,” kata bapak dua anak itu.

BANYAK KAWAN: Sejumlah Jip Bromo di Lautan Pasir.
BANYAK KAWAN: Sejumlah Jip Bromo di Lautan Pasir.
BERSAMA KELUARGA: Choirul Umam bersama anak-istrinya.
BERSAMA KELUARGA: Choirul Umam bersama anak-istrinya.

Dari situ, dirinya pun membawa mobil Taft-nya ke bengkel di Lumbang. Kemudian, tukang bengkelnya menanyakan, apakah mobilnya mau digunakan angkut penumpang wisata Bromo? Seperti melihat peluang, Choirul mengiyakan.

Dari situlah dia mulai menjadi pelaku wisata. ”Alhamdulillah, saat kunjungan wisatawan Bromo ramai, saya diajak. Bahkan, diajak gabung dalam paguyuban,” ujar pria asal Kedopok Kota Probolinggo itu.

Awal langkah itu, diakui Umam, dirinya harus banyak belajar dari teman-temannya terkait pelaku wisata Bromo.

Awalnya, usaha Jip Bromo itu sebagai sampingan. Dia tetap melakoni pekerjaan utamanya.

Tetapi, perlahan usaha sampingan miliknya yang lebih banyak ditekuni dan menghasilkan. ”Saya sempat punya satu Taft dan dua hartop,” ujarnya.

Itu bukan kisah manis yang dialami Choirul. Saat pandemi Covid-19 datang, sektor pariwisata mati. Begitu juga usaha Jip Bromo yang digelutinya.

Di tengah pandemi Covid-19 itu, dirinya berusaha bertahan dan membuka usaha baru. Mulai menerima jasa cuci sofa, hingga membuka tempat usaha cucian mobil.

”Alhamdulillah, usaha jasa cuci sofa dan tempat cucian mobil sampai sekarang tetap jalan,” terangnya.

Di tengah usahanya berjalan, dirinya sempat mendapatkan ujian. Tahun 2022 lalu, salah satu Jip Bromo miliknya, mengalami kecelakaan.

Mobil hartop long miliknya yang disopiri partnernya, kecelakan dan terjauh ke dalam jurang. Mobilnya rusak parah, sampai tak dapat diperbaiki.

”Mobil hartop milik saya ada yang mengalami kecelakaan dan terjatuh ke jurang. Saya berusaha untuk tetap bertahan. Meskipun, mobil itu dibeli dari hasil pinjam uang ke bank,” ungkapnya. (mas/fun)

Editor : Abdul Wahid
#jip bromo #dampak pandemi #Pandem Covid-19