Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pertengkaran dengan Anak Tiri Jadi Pemicu Perceraian dengan Istri

Fuad Alyzen • Sabtu, 27 Januari 2024 | 16:15 WIB

 

Photo
Photo

Beginilah jadinya, bila tinggal serumah dengan anak tiri.  Kesalahpahaman yang berujung cekcok, pasti akan terjadi. Sebab, masing-masing individu, pasti memiliki perbedaan keinginan.  

 KONDISI itulah yang dialami Rosa, 49 (bukan nama sebenarnya). Rumah tangga wanita yang kini memiliki tiga anak ini, hancur. Penyebabnya, lantaran selalu bertengkar dengan anak tirinya.

Sejatinya, Rosa pernah menikah, ia memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya.

Anak pertama seorang laki-laki yang kini berusia 18 tahun. Sedangkan anak kedua sudah berusia 14 tahun.

Rumah tangga dengan suami pertamanya kandas lantaran faktor ekonomi.

Lima tahun menjanda, Rosa kembali membuka hatinya untuk menikah lagi. Sebab, dua buah hatinya membutuhkan kasih sayang seorang ayah.

Apalagi, ia menginginkan ada seorang laki-laki yang menafkahinya.

Dorongan itu menguat, setelah ada yang meliriknya. Meski wajah Rosa tidak terlalu cantik, namun masih ada yang mampu terpikat olehnya.

Ia dilamar oleh seorang duda, beranak dua. Semuanya perempuan. Yang pertama berusia 32 tahun. Sedangkan yang kedua berusia 20 tahun.

Sebut saja laki-laki itu Reno, 55 (bukan nama sebenarnya). Ia berpisah dengan istri sebelumnya lantaran selalu minta jatah harta.

Wanita yang dinikahinya, selalu menuntut harta dan menekan Reno untuk menjual tanah yang merupakan harta warisan dari orang tuanya.

“Wanita (istri mantan suaminya) itu dari Surabaya. Katanya, waktu mantan suamiku cerita, tidak cocok karena selalu menghabiskan hartanya,” kata Rosa.

Setelah dilamar, Rosa pun menikah dengan Reno. Rosa membawa kedua anaknya untuk tinggal di rumah Reno, di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Rumah berukuran 6 x 15 meter itu pun ditinggali mereka berenam.

Awalnya, pernikahan itu disambut baik oleh masing-masing kedua anak pasutri ini. Di dalam rumah itu, mereka layaknya seperti keluarga. Harmonis, tenteram, saling tolong-menolong. Meski awalnya masih canggung.

“Pas awal di rumah (Rumah Reno), anak-anak masih sungkan. Tidak menyapa kalau tidak ada keperluan. Soalnya anak saya laki-laki, sedangkan anak mantan suami perempuan,” ujarnya.

Namun, keharmonisan itu tidak bertahan lama. Setelah empat bulan pernikahan, suasana sudah tidak membaik, usai anak kedua Reno iri pada anaknya. Anak Reno merasa, dirinya dicampakan oleh ayahnya.

Salah satu permasalahannya adalah pemberian uang pada anak-anaknya. Meski uang dari Reno terbagi rata sesuai kebutuhan dan usia, anak si Reno tidak terima.

Awalnya, Reno dan Rosa menganggap itu permasalahan kecil. Sebab, yang bertengkar adalah anak di bawah umur. Menurut mereka hal itu sudah wajar-wajar saja terjadi di sebuah keluarga.

“Anak pertama (anak Reno) sudah menikah, ia ikut ke rumah suaminya. Sebelum menikah, ia sudah menjadi anak tiriku. Tinggal anak keduanya,” katanya.

Namun, perkiraan Rosa dan Reno yang menganggap pertengkaran anak kecil salah besar. Justru itu awal perselisihan antara Rosa dan anak kedua Reno. Sejak itulah, anak Reno dendam pada ibunya.

Ia marah karena merasa permasalahannya diabaikan. Anak kedua si Reno malah berubah drastis.

Ia semakin brutal. Selalu keluar malam dan tidak pulang beberapa hari ke rumahnya.

Bahkan, pernah kepergok beberapa kali menenggak miras bersama teman laki-lakinya di tempat sepi dan gelap.

Reno pun kesal dan mencoba menasihati anak perempuannya itu. Bukannya berubah, malah semakin parah. Bahkan, sampai menggila dengan mengonsumsi pil koplo.

Rosa dan Reno frustasi, bagaimana menghentikan perilaku anak tersebut. Reno mencoba berbicara dari hati ke hati. Ternyata, alasannya lantaran ibu tiri serta anak-anaknya tinggal di rumahnya.

Anak perempuan itu malah terang-terangan mengatakan hal yang tak pantas di hadapan Rosa dan anak-anaknya dengan suara lantang penuh dengan kebencian. Namun, Rosa waktu itu berusaha meredam emosi anak Reno.

Meski di dalam hatinya, ia tidak terima anaknya dikatain yang tidak-tidak.

“Ya dikatain personal. Juga begini, laki-laki kok tidak kerja. Jangan tidur terus. Karena di rumah ini butuh harta untuk mencukupi kebutuhan. Bukan malah tidur lalu minta uang,” kata Rosa sambil menirukan perkataan anak Reno.

Sejak itu, keretakan rumah tangga mereka semakin parah. Bahkan, anak si Reno mengadu pada Reno, jika yang membuatnya rusak adalah Rosa dan anak-anaknya.

Mendengar itu, Reno pun memarahi Rosa dan anak-anaknya. Anak Reno berhasil membuat Rosa dan anak-anaknya selalu terpojok. Sehingga, Reno pun kesal dan mengurangi uang bulanan untuk Rosa.

“Masak satu bulan dikasih Rp 200 ribu. Pekerjaan rumah saya semua yang ngerjakan,” katanya sembari menangis kesal di depan Jawa Pos Radar Bromo.

Untuk menafkahi anaknya, Rosa memutuskan berdagang. Ia jualan rujak di depan rumahnya. Ia memanfaatkan uang dari suaminya Rp 200 ribu untuk bertahan selama sebulan.

Dan itu terjadi selama empat tahun lamanya. Sampai pasutri ini dikaruniai seorang anak perempuan yang saat ini berusia 4 tahun. Pertengkaran anak dan ibu tiri ini selalu terjadi.

“Saya sudah berkali-kali pulang ke rumah (di Kademangan) dan dijemput oleh suami,” ujarnya.

Rosa mengaku sudah tidak kuat, setelah anak Reno mengatakan tentang anaknya yang tidak-tidak.

Selama bertahun-tahun selalu terjadi begitu. Dirinya memutuskan untuk pulang ke rumahnya untuk selama-lamanya dan tidak akan kembali lagi.

Pernah dirinya dijemput oleh suaminya untuk rujuk. Namun, sakit hati ini, sudah tidak bisa terelakan. Saat mencoba merujuk, suaminya mengaku menyesal lantaran di rumahnya kondisinya tidak karuan.

Di mana cucian yang banyak dan urusan rumah tangga lainnya tidak bisa diatasi. Kata Reno, di rumah itu butuh sosok seorang ibu untuk anak-anaknya.

“Dia saya suruh nikah lagi. Urusan anak yang berusia 4 tahun, biar saya urus. Saya lebih baik pisah,” katanya. (zen/one)

Editor : Abdul Wahid
#anak tiri #perceraian