Pribadi Sutrisno (bukan nama sebenarnya), 55, dikenal sebagai pendekar. Sayang, keahliannya itu kerap digunakan demi memperoleh ketenaran. Nyalinya yang besar dimanfaatkan untuk mendapatkan sesuatu berdasarkan nafsu.
SUTRISNO sebenarnya bukan keturunan orang biasa. Kedua orangtuanya sama-sama menguasai bela diri. Dia mewarisi ilmu bela diri itu dari ayahnya. Sedangkan sang ibu bisa menyembuhkan orang sakit.
Nama kedua orangtuanya memang dikenal sangat berani. Itupun digunakannya untuk membela kebenaran. Membebaskan penindasan rakyat biasa dari orang-orang yang menzdolimi.
“Kata bapak, dulu (zaman penjajahan dan PKI) memang sering konflik. Oleh kakekku, bapak tak hanya dibekali ilmu seperti di sekolah. Namun juga bela diri,” kata Sutrisno.
Zaman dulu yang namanya ilmu pasti akan diturunkan pada anaknya. Tujuannya untuk melindungi diri. Begitupun dengan Sutrisno. Sang ayah memberinya pesan, ilmu bela diperluka apabila saudaranya ditindas orang lain.
Namun di zaman Sutrisno muda, penindasan sudah tidak lagi. Bahkan jarang terjadinya konflik antar manusia. Sebab zaman waktu itu sudah berubah.
Sementara lingkungan sekitar Sutrisno keras. Ia hidup di pesisir Pasuruan bagian timur, tepatnya di Kecamatan Nguling. Kultur Madura pendalungan masih kental. Termasuk ada tumpah darah jika perkelahian terjadi.
Bagi Sutrisno, seseorang dianggap pengecut apabila tak bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Demi mempertahankannya Sutrisno mempelajari ilmu dari ayahnya untuk membela diri.
“Kalau bapak saya bukan hanya membela diri. Tapi membela orang lain demi kemaslahan saudara kita. Berbeda dengan saya. Malah kebalikannya,” katanya.
Sutrisno menceritakan pengalaman gelapnya. Katanya, dulu kalau dipikir-pikir hidupnya seperti hewan. Untuk diakui sebagai orang terkuat, dirinya harus mengalahkan orang yang berkuasa disuatu wilayah.
Celakanya, itu dilakukannya hanya untuk mencari ketenaran. Sebab jika sampai mengalahkan lawan, maka itu menjadi “prestasi” baginya.
Alasan itulah yang membuatnya belajar bela diri. Namun Sutrisno tetaplah manusia, yang punya rasa takut jika menghadapi orang duel.
Namun Sutrisno harus melawan ketakutannya. Sebab lagi-lagi harga diri yang harus ditinggikan.
Pernah suatu ketika, di momen dia berduel dengan seorang laki-laki, dia bertarung menggunakan celurit. Dan pada akhirnya, ia memenangkan pertarungan itu. Musuhnya meninggal sehari setelah dibacok di bagian perut dan lehernya. Sedangkan dirinya hanya mendapat luka bacok dibagian tangannya. Itupun hanya kulit yang sobek.
Untuk menghindari kejaran hukum, ia harus pergi menjauh dari tempat tinggalnya. Waktu itu pergi ke Jakarta sembari bekerja disana. Ia hidup disana selama 9 tahun. “Tidak disini (tempat tinggalnya) gak disana (Jakarta) sama saja. Hidupku selalu bertarung,” ujarnya.
Setelah 9 tahun, Sutrisno kembali lagi ke tempat tinggalnya. Tidak lama kemudian, ia mengenal seorang perempuan. Lalu ia menyukainya. Singkat cerita, keduanya menikah.
Setelah beberapa tahun menikah, dua kali berturut-turut gagal memiliki anak. Awalnya Sutrisno tidak menyadari mengapa istrinya sulit untuk hamil. Dia hanya berpikir, mungkin sang istri kelelahan. Dia menganggapnya musibah.
Padahal Sutrisno menginginkan keturunan dari istrinya. Singkat cerita, istri Sutrisno kembali hamil. Sutrisno sudah melarang istrinya agar tak kecapekan. Sang istri juga diberi makanan sehat.
Ujung-ujungnya tetap gagal. Ia sampai frustasi menghadapi itu. Sutrisno berpikir, mungkin sang istri selalu keguguran karena sikapnya selama ini. Sok jagoan dan selalu angkuh. Apalagi dia terbilang jauh dari sang pencipta.
Malah, Sutrisno pernah meguru ke dukun. Dia belajar ilmu tentang kekebalan. Ilmu hitam yang dia yakini menjadi ajimat. Ilmu hitam yang membuatnya tak pernah lagi mengingat sang pencipta.
“Sudah banyak yang saya alami di dunia hitam. Sampai-sampai, saya pernah tertidur di jalanan waktu itu. Saya dikira meninggal. Banyak orang yang sudah menangis. Namun dalam tidurku itu saya diperlihatkan api besar. Di dalam api itu banyak wanita dibakar hidup-hidup,” bebernya.
Setelah itu, dirinya ketakutan dan menangis ditempat salat menghadap kiblat. Mengobrol layaknya orang berbicara sendiri. Meminta ampunan pada Tuhan Allah. Dan tidak mengulanginya lagi.
Pelan-pelan pintu tobat Sutrisno terbuka. Dia mulai menanggalkan kebiasaan buruknya. Dia rajib ibadah. Ajaibnya, istrinya langsung hamil ketiga kalinya.
Setelah istrinya melahirkan, dia beruntung karena anaknya dikeluarkan dengan mudah tanpa ada kendala apapun.
Sutrisno pun bersyukur karena sampai kini ia sudah tidak mengamalkan ilmu itu. Dia telah kembali ke jalan yang benar.
Saat ini usia anaknya sudah 15 tahun. “Sekarang lebih senang salat berjamaah di masjid. Paling utama usahakan itu dimanapun saya berada,” ujarnya. (zen/fun)
Editor : Ronald Fernando