Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Penjual Jamu Keliling yang Rela Makan Sekali Sehari demi Kuliah Anak Tuntas

Achmad Arianto • Sabtu, 2 Desember 2023 | 14:45 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Semua orang tua memiliki keinginan agar anak-anaknya memiliki hidup yang lebih baik. Mulai dari pendidikan hingga ekonominya. Demikian juga Hasanah (bukan nama sebenarnya), 44. Sehari-hari berjualan jamu keliling untuk menguliahkan anaknya hingga lulus. Bahkan hanya makan sekali sehari demi kiriman anaknya lancar.

 

SETIAP pagi setelah salat subuh, Hasanah selalu pergi ke Pasar Sebaung untuk membeli beberapa bahan jamu tradisional. Usai membeli bahan jamu tersebut, ia lantas pulang dan menaruhnya di dapur.

Bahan-bahan itu kemudian diolah menjadi minuman jamu yang kemudian dijajakannya.

Warga Kecamatan Gending ini tergolong keluarga yang hidup serba pas-pasan. Suaminya bekerja serabutan. Tentu tiap harinya hanya mendapatkan upah sedikit dari hasil bekerja.

Pendapatan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi jika ada anggota keluarga yang sakit. Otomatis suami tidak bisa memberinya uang belanja. Karena itulah Hasanah membantu suaminya berjualan jamu keliling.

 

 

Keterampilan membuat jamu diperolehnya secara otodidak.

Mulanya ia belajar pada saudaranya yang ahli membuat jamu tradisional. Setelah keterampilan tersebut dikuasainya, Hasanah kemudian menjual jamu berkeliling sekitar rumah dan beberapa desa yang tak jauh dari rumah.

Tidak seperti penjual jamu seperti biasanya. Dirinya menjajakan jamu menggunakan sepeda pancal yang dibelinya dari pasar loak. Sepeda yang dikendarainya jauh dari rasa nyaman.

“Hanya ada sepeda jengki kondisinya tidak bagus. Tapi masih bisa dikendarai dan kuat diberi rak jamu diboncengannya,” katanya mengawali cerita.

Hasanah ingin menjadi ibu yang memiliki semangat tinggi untuk memberikan pendidikan tinggi kepada kedua putrinya. Betapa tidak. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mimpinya agar anak-anaknya dapat pendidikan layak, harus terwujud.

Hasil jualan dan upah yang diperoleh suaminya juga digunakan untuk biaya pendidikan kedua putrinya. Selama bertahun-tahun pekerjaan ini dijalankannya dengan ikhlas.

 

 

Kedua putrinya memiliki jarak kelahiran yang berdekatan. Putri pertamanya lahir tahun 1999. Sementara putri kedua lahir tahun 2002.

Pendeknya jarak kelahiran berpengaruh pada masa masuk pendidikan. Saat anaknya lulus SD. Hasanah memondokkannya di pondok pesantren (ponpes). Saat itulah beban biaya pendidikan yang harus dikeluarkan cukup besar.

Hasil penjualan bersih dari jualan jamu dalam sehari, tidak banyak. Hasanah hanya memperoleh Rp 20 - 50 ribu. Sementara suaminya memperoleh upah Rp 30 - 80 ribu setiap harinya.

Dengan jumlah pendapatan yang minim, tentu dirinya harus pintar benar-benar menghemat kebutuhan. Sebab sebagian pendapatan tersebut harus disisihkan untuk kiriman anaknya.

“Anak saya mondok di ponpes berbeda. Sesuai dengan keinginan anak. Anak yang pertama mondok di Paiton dan yang kedua mondok di Tegalsiwalan. Setiap minggunya saya kirim,” ucapnya.

Hasil jualan dan bekerja suami yang tidak pasti, membuat keduanya harus puasa Senin-Kamis. Ini dilakukan keduanya tanpa sepengetahuan kedua putrinya. Hasanah berdalih agar putrinya bisa fokus berlajar dan semangat di ponpes.

Pengeluaran keluarga Hasanah semakin banyak saat kedua putrinya lulus SMA dan keluar dari ponpes. Kemudian melanjutkan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Putri pertama mengambil jurusan kesehatan. Sementara Putri kedua mengambil jurusan pendidikan.

 

 

Hasanah menyadari, jika menguliahkan anaknya di Perguruan Tinggi, maka ada konsekuensinya. Dengan kondisi ekonomi yang jauh dari kata cukup, memang sangatlah berat.

Dia harus menggunakan uang untuk membeli sembako. Dia juga harus memberi kiriman bulanan anaknya.

Tapi Hasanah tak menyerah. Walau banyak ada omongan orang lain yang kerap meremehkannya. Bahkan cukup membuat telinga Hasanah merah.

Namun Hasanah tidak mempedulikan hal itu. Sebab dirinya yakin jika ada niat baik pasti ada jalan. Hal ini terbukti, dirinya mampu menguliahkan kedua putrinya.

“Selama putri kuliah, kami memang sering makan sekali sehari. Yang penting kiriman untuk anak kuliah tersedia. Putri saya sudah lulus, baru saja diterima di jadi tenaga medis di Rumah Sakit. Sementara yang kedua tinggal semester akhir,” pungkasnya. (ar/fun)

Editor : Ronald Fernando
#Tanah Warisan Dijual #warisan orangtua