FAREL (nama samaran), 35 dan Yadi (juga nama samaran), 36, sebenarnya sudah kenal sejak lama. Sama-sama berasal dari Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan.
Keduanya sering ngopi bareng. Tapi, Farel mendadak harus memanggil Yadi dengan sebutan ayah. Sejak saat itu, dia tak boleh lagi njambal.
Sehari-hari Farel adalah karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Hanya saja wilayah kerjanya ada di Pasuruan Raya.
“Pekerjaan saya di lapangan dan menuntut untuk mengenal banyak orang. Tapi, menyenangkan,” kata Farel.
Ketika masih bujang, Farel hafal betul dengan daerahnya. Dia mengenal banyak orang. Baik pejabat ataupun penjahat. Dia tak punya sekat. Fleksibel dan bisa berkawan dengan siapa saja.
Begitupun di desanya tempat dia tinggal. Farel bahkan dianggap sebagai tokoh pemuda. Aktif di berbagai kegiatan ormas, hingga menjadi panutan di karang taruna desanya.
“Terkadang juga olahraga, terutama sepak bola. Saya tidak pernah kekurangan. Selalu ada kawan di belakang,” beber Farel.
Suatu ketika, dia berkenalan dengan Yadi. Kawan sepantarannya itu kerap ngopi bareng. Bahkan, pernah beberapa kali menjalin hubungan bisnis. Karena bagi Farel, kawan itu juga menjadi penghubung tali rezeki.
“Kami akrab. Bahkan pernah suatu ketika Yadi tersandung masalah narkoba. Selama dia di penjara, saya menyambanginya dan memotivasi agar dia keluar dari dunianya itu karena tak ada gunanya,” kata Farel.
Begitu Yadi bebas, Farel pun tetap berkawan dan tidak menjauhi Yadi. Karena dia yakin Yadi salah langkah. Ada waktunya manusia itu khilaf. Dan Ketika khilaf, sesaat, seorang kawan harus bisa mendampingi.
“Waktu itu kami berdua belum menikah. Supaya tidak salah langkah lagi, saya menyarankannya agar membangun keluarga,” kata Farel.
Saran itu rupanya didengarkan Yadi. Tak berselang lama, Yadi akhirnya menikah. Tapi, Farel tak mengenal betul siapa istri Yadi. Yang dia tahu, Yadi menikahi seorang janda. Dan semenjak menikah itu pula, Farel mulai jarang bertemu Yadi.
Waktu terus berjalan. Farel yang hidup membujang, lama-lama juga banyak ditinggal kawan-kawannya. Sehingga, Farel lebih sering berada di rumah. “Pulang kerja, sudah jarang nyangkruk,” katanya.
Kondisi ini rupanya diketahui orang tuanya. Ibunya Farel mulai gelisah karena hanya anaknya yang belum menikah, di antara kawan-kawan maupun tetangga desanya. Di sisi lain, sang ibu juga mendambakan punya cucu.
Singkatnya, sang ibu berinisiatif. Entah mengapa ibunya mencoba mencarikan Farel jodoh. Dengan memanfaatkan kenalannya, ibu Farel lalu dikenalkan seorang wanita yang sebut saja namanya Gita. Seorang santriwati yang usianya masih 16 tahun. Ibu Farel langsung cocok ke Gita karena dianggap tahu tata krama.
Tanpa banyak basa-basi, Farel kemudian diminta untuk berkenalan dengan Gita. Mulanya, Farel enggan. Dia berpikir, untuk apa sang ibu mencarikan jodoh. Farel merasa seperti tidak laku saja.
“Awalnya saya menolak. Tapi, karena ini yang berkeinginan adalah ibu, saya tak kuasa menolak,” kata Farel.
Sebagai serang laki-laki, tentu saja Farel sempat kepo dengan Gita. Seperti apa sosok wanita yang ingin ibunya kenalkan ke dia. Farel mencoba mencari tahu lewat sosial media.
Tapi, upaya itu tak menemui hasil. Sebab, Gita tak pernah bermain sosial media. Dari situ, Farel makin penasaran.
“Saya mencari tahu tempat tinggalnya. Tapi, tak tahu alamat persisnya. Ibu hanya bilang, arek Kraton. Tanpa memberi tahu nama desanya, apalagi nama dusun hingga RT/RW-nya,” kata Farel.
Segala pencarian Farel tak berhasil. Sementara sang ibu mendesaknya agar menemui Gita bersama sang ibu. Di situlah Farel akhirnya mau. “Ya hitung-hitung seperti taaruf lah. Ibu berkeinginan mengenalkan saya, tapi didampingi,” kata Farel.
Hingga akhirnya, pertemuan itu diatur. Gita diminta datang ke suatu tempat. Farel dan ibunya kemudian menyusul. Nah, saat itulah Farel mengetahui, ternyata Gita adaah gadis yang rupawan. “Mungkin ini yag katanya orang, jatuh cinta di pandangan pertama,” beber Farel.
Setelah berkenalan dengan Gita, Farel justru menggebu. Dia ingin cepat-cepat menikahi Gita yang saat itu statusnya sudah lulus dari sekolah. Hanya saja, pernikahan itu harus melalui rintangan karena perlu izin dispensasi menikah lantaran usia Gita baru 17 tahun.
Saat mengurus izin dispensasi menikah itulah, Farel harus datang ke rumah Gita dan menemui keluarganya. Di momen inilah Farel dibuat terkejut.
“Kebetulan saat itu, ibu menyarankan agar kami sekeluarga datang untuk meminta. Istilahnya lamaran. Acara sudah disusun. Dan begitu tiba di depan rumah Gita, saya kaget bukan kepalang,” kata Farel.
Saat mau masuk ke rumah Gita, dia disambut oleh sesosok lelaki yang pernah dia kenal. Dia adalah Yadi, teman nyangkruk-nya dahulu. “Saya sempat nanya ke dia (Yadi, red). Lagi ngapain di rumah Gita. Dia lalu bilang, lho mbokne Gita iku seng tak rabi,” beber Farel menirukan Yadi.
Tentu saja ada perasaan bingung sekaligus lucu. Farel berpikir, kenapa ceritanya mirip sinetron.
Tapi, pertemuan itu akhirnya menjadi jalan jodohnya untuk menikah dengan Gita. Semenjak menikah dengan Gita, Farel tentu harus memanggil Yadi dengan sebutan ayah. Sama seperti Gita memanggil ayah sambungnya. (fun)
Editor : Ronald Fernando