Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kawin Muda dan Telantarkan Istri, Menyesal setelah Bercerai

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 28 Oktober 2023 | 16:00 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

 

Kisah asmara Tejo (bukan nama sebenarnya) begitu mengiris. Di usianya yang berumur 19 tahun, dia harus menyandang status duda. Ia ditinggalkan Wati (juga bukan nama asli) istrinya, yang saat itu berumur 18 tahun.

 

RUMAH tangga Tejo dan Wati bubar bukan karena orang ketiga. Bukan juga faktor ekonomi. Wati meninggalkan Tejo lantaran merasa kekurangan perhatian. Sebab Tejo pada saat itu kerap tak pulang ke rumah. Dia lebih memilih menginap di rental Play Station (PS).

Tejo yang asli warga Kabupaten Probolinggo, dan Wati yang berasal dari Kabupaten Situbondo, hanya membangun asma selama 5 bulan.

“Mantan istri saya ikut ke rumah. Memang sudah disiapkan rumah oleh orang tua saat saya menikah. Jadi pisah rumah dengan orang tua saya. Lokasinya masih berdempetan dengan rumah orang tua,” kata Tejo.

Pernikahannya, diungkap Tejo, berawal dari pertemuan di media sosial di akhir 2011 lalu. Hingga akhirnya mereka pun berpacaran, dan beberapa kali bertemu di dunia nyata.  “Singkat pertemuan yang terjadi. Umur pernikahannya kok juga ikut-ikut singkat pada akhirnya,” katanya.

Hingga akhirnya pada awal tahun 2012, Wati meminta Tejo untuk meminang lantaran desakan orang tua nya. “Orang tuanya cukup religius. Jadi, saat pacaran, Wati memang sering bilang kalau mau ketemu saya. Hingga akhirnya orang tuanya minta saya untuk menseriusi anaknya,”ujanya.

Permintaan Wati, dituruti Tejo. Hingga akhirnya pernikahan mereka berdua berlangsung. Walau saat itu Tejo mengaku dirinya masih belum siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Di usianya yang cukup belia saat itu, Tedjo mengaku bahwa dirinya masih suka bermain-main dengan teman sebayanya.

“Sebenarnya gak siap untuk menikah kala itu, namun karena sudah didesak oleh orang tuanya akhirnya menikah. Meski masih ingin menikmati masa muda bersama teman-teman,” ujarnya.

Di bulan-bulan pertama, hubungan Tejo bersama Wati masih sangat mesra. Seperti pada hubungan pegantin baru pada umumnya.

Namun 3 bulan sampai 4 bulan ke belakang hubungannya pun mulai terganggu.

Sebab Tejo jarang pulang ke rumahnya. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya, untuk nongkrong jalan-jalan dan bermain PS.

“Saat keluar bareng teman, sering dimarahi oleh istri saat itu. Namanya lelaki yang masih muda, akhirnya emosi. Tidak boleh itu sama halnya harus dilakukan. Hingga akhirnya istri tidak kerasan di rumah dan pulang ke rumah orang tuanya,” ujarnya.

Kejadian ini terus berulang berkali-kali. Padahal Tejo telah diberi kesempatan oleh istrinya untuk bisa berubah. Istinya juga beberapa kali balik dan pulang kembali ke rumah orang tuanya yang ada di Situbondo.

“Namanya anak muda pada saat itu tidak memikirkan hal yang panjang. Meski istri sudah memberikan kesempatan, beberapa kali kabur ke rumah orang tuanya dan balik lagi ke rumah. Saat itu saya masih suka nongkrong dengan teman-teman dan main PS,” ujarnya.

Hingga akhirnya gugatan cerai dilayangkan Wati pada dirinya. Mediasi yang dilakukan antar keluarga tak menemukan titik terang. Bahkan pada saat di pengadilan.

“Karena keluarga istri dan istri pada saat itu juga sudah untuk berpisah, saya dan keluarga di sini pun tidak bisa apa-apa,” jelasnya.

Awalnya Tejo tak mengambil pusing setelah bercerai. Dia masih melakukan aktivitasnya bersama teman-temannya seperti biasa.

Sampai akhirnya ia sadar bahwa kelakuan terhadap istri sudah melampaui batas. Ia pun menyadari bahwa sikapnya sangat kekanak-kanakan. Hingga akhirnya ia pun menyesal terhadap perceraian yang terjadi.

“Nangis, sampai peluk orang tua dan minta maaf. Penyesalan tinggal penyesalan. Nasi sudah menjadi bubur. Saat itu saya berpikir karena kelakuan kekanak-kanakan saya hal yang serius yang membuat luka hati mendalam bagi mantan istri saya harus terjadi. Dari hal sepele menyebabkan kejadian fatal,” kata Tejo.

Sampai saat ini penyesalan masih terbayang di angan-angannya. Bahkan di usianya yang saat ini 26 tahun ia tak bisa move on. Lebih dari itu ia pun takut untuk menikah.

“Sekarang bukan persoalan punya calon atau tidak. Namun lebih pada keberanian, rasa takut mengecewakan seorang wanita terus terngiang-ngiang. Entah sampai kapan bayangan ketakutan ini bakal terus menghantui. Yang jelas penyesalan terlalu mendalam. Bayangkan karena sering nongkrong main PS sampai cerai,” katanya. (mu/fun)

Editor : Ronald Fernando
#kawin muda #nikah dini