LINGKUNGAN ikut menjadi faktor seseorang untuk tumbuh. Dari lingkungan itulah orang bergaul. Jika salah lingkungan dan pergaulan, bisa menjerumuskan ke hal negatif. Jarot (bukan nama sebenarnya) sudah merasakannya. Kebiasannya mencuri sejak kecil, membuat Jarot menjadi maling saat besar. Bahkan kini menjadi pekerjaan untuk menafkahi diri.
Jarot sebenarnya bukan klepto. Tapi semenjak kecil, dia sudah sering mengambil barang yang bukan haknya. Pria asal Kabupaten Pasuruan ini sudah pernah mencuri HP saat dia masih kecil. Jarot masih ingat, saat itu dia masih menduduki sekolah dasar SD di kelas dua
Dia tak peduli barang itu milik siapa. Apalagi saat posisinya kepepet. Tidak punya uang atau ada kesempatan, ia pasti melancarkan aksinya.
Karena berkali-kali mencuri, dia pernah tidak naik kelas Karena Jarot sering mencuri barang milik orang di lingkungan sekolahnya. Sampai pendidikan yang ia tempuh tidak selesai.
“Ambu saya pas. Panbrempan kaleh tak onggeh. Ye karna ngicok jiah (Berhenti saya, sudah berapa kali tak naik kelas kaerna sering mencuri, red),” kata Jarot yang saat ini berusia 29 tahun.
Di sekolahnya, kata Jarot, sebenarnya tak terlalu jauh. Bahkan hanya sepelemparan batu. Sehingga Jarot hafal betul dengan warga lingkungan sekolahnya. Entah itu guru atau pegawai di sekolah.
Taopi dasar Jarot memang nakal. Saat masih sekolah, sudah tak terhitung dia mengambil jajanan di kantin, tanpa membayarnya. Dia menyelinap masuk dan mengambil kesempatan saat melayani banyaknya pembeli.
Ia mengaku sering ketahuan oleh warga dan melaporkan ke sekolah. Meski hanya makanan dan minuman, namun entah kenapa itu membuatnya puas jika melakukan dan mendapatkannya.
Mengapa begitu? Penyebabnya adalah lingkungan. Di sekitar rumahnya, rata-rata bekerja menjadi maling. Menurutnya, mungkin karena terpengaruh hal itu. Karena saat berhasil mencuri dan diketahui oleh maling lainnya, itu merupakan “prestasi” besar.
Misalkan mencuri barang yang lebih besar dan harganya mahal seperti motor dan lainnya, itu menjadi kebanggan tersendiri. Apalagi jika bisa mengalahkan maling senior. Rasanya semakin bangga.
Inilah yang mendorongnya tak pernah berhenti mencuri. Hingga akhirnya mengenali sejumlah maling di Kabupaten Pasuruan, khususnya di wilayah timur. Semenjak itu juga dia banyak mengenal kawan-kawannya yang menjadi pencuri yang sering beraksi hingga diluar Pasuruan.
Dia jadi ikut-ikutan dan terbawa arus. “Mencuri hingga ke kota lainnya mengendarai mobil sebagai pengangkut sapi,” katanya.
Jarot menceritakan pengelamannya. Pernah suatu ketika, dirinya mengendarai mobil bersama keempat temannya. Tujuannya bukan liburan. Melainkan mencuri. Ia menyebutnya bekerja.
Beberapa kali dia berhasil. Tapi pernah juga ketahuan. Itu terjadi saat dia bersama ketiga temannya, mencari sasaran. Ketika beraksi, dia dicurigai warga. akhirnya warga merancang penangkapan dengan mengepung di setiap sisi lintasan di wilayah itu.
Warga mencoba menyabetnya dengan celurit, namun tidak mengenai tubuh temannya. Lantas sejumlah teman termasuk dirinya pergi ketempat yang sudah dijanjikan. Mereka melarikan diri dari kejaran warga. Setelah berhasil dan masuk ke mobil, mereka Jarot pasrah ke kawannya yang kebagian mengemudi mobil.
Jarot dan kawan-kawannya berupaya menghindari. Mencoba kabur. Tapi rupanya sejumlah warga sudah menghadang di depannya. Waktu itu mengarah ke utara.
Warga yang menghadap dirinya keluar dari jendela sembari mengarahkan celurit. Kawannya yang mengemudikan mobil, menambah kecepatan dan berusaha menerobos warga yang saat itu juga sudah siap membuat tameng dengan motor.
“Biasanya kalau sudah apes pasangan mencurinya berbeda. Biasanya ada tapi waktu itu sedang tidak bisa,” ujarnya sembari meminum kopi.
Setelah itu lolos. Biasanya pasangan atau kelompok dengan orang berbeda pasti akan apes. Banyak temannya yang masuk penjara. Begitu juga yang tewas lantaran terkena masa.
Karena itulah Jarot kini mencari pekerjaan yang tenang dan enak. Karena menjadi maling taruhannya adalah nyawa. Pendapatannya juga tidak berkah. Jarot sudah merasakan. Hasil dari mencuri selalu cepat habis.
“Jangan sekali-kali menyentuh pekerjaan ini. Sebab teman sesama maling bisa saling membunuh jika dalam suatu pekerjaan tidak jujur,” tuturnya. (zen/fun)
Editor : Ronald Fernando