Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tetap Setia Menemani Istri yang Sakit Stroke

Inneke Agustin • Sabtu, 12 Agustus 2023 | 15:45 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

USIA pernikahan Mahmud (nama samaran), 51 dan Sholeha (nama samaran), 53, tak lagi muda. Pernikahan pasutri ini telah memasuki usia perak karena sudah 27 tahun. Mereka sudah dianugerahi seorang anak perempuan. Namun 6 tahun lalu, kesetiaan Mahmud diuji.

Bukan karena istrinya selingkuh atau meminta cerai. Namun Sholeha tiba-tiba saja terserang stroke. Nyaris saja Sholeha menjadi kembang amben. Karena sehari-hari dia hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.

Cerita itu terjadi di bulan Agustus 2017. Stroke membuat badan Sholeha lumpuh separo. Bagian kanan tubuhnya tak dapat digerakkan. Bahkan Sholeha sempat kesulitan berbicara ini. Praktis semua aktivitasnya hanya bisa dilakukan di tempat tidur.

Mahmud dan anaknya sempat uring-uringan. Bingung harus bagaimana. Mahmud tak pernah menghadapi seseorang yang sakit hingga tak berdaya. Dalam sekejap mata ia menerima cobaan yang begitu berat baginya.

Mahmud menangis dan bertanya pada istrinya. “Kamu kenapa kok bisa seperti ini? Yang sakit yang mana?” sambil berlinang air mata. Sedang Sholeha hanya terdiam dan dan brebes mili.

Mahmud berkata, “Malam itu rasanya saya ingin cepat pagi. Saya ingin segera membawa istri saya berobat. Saya tak tega melihatnya. Orang yang biasanya ceria, aktif bergerak kamana-mana. Tiba-tiba jadi seperti ini”.

Semenjak itu, Mahmud bukan hanya sebagai bapak rumah tangga. Tugasnya tak hanya mencari nafkah. Tapi dia harus bisa mengurus rumah tangga seperti seorang istri.

Ia bekerjasama dengan anaknya dalam merawat istrinya. Ia membantu mencuci baju dan memasak makanan. Sedang anaknya membersihkan rumah dan menjemur pakaiannya.

“Karena istri saya tidak dapat berdiri untuk ke kamar mandi. Bahkan dia harus pakai diapers. Entahlah semenjak stroke, berat badannya juga menyusut. Sekalipun pakai diapers size terkecil, itu masih longgar. Akhirnya saya lakban biar tidak geser dan bocor. Per hari saya ganti tiga kali. Sampahnya pun saya yang bereskan, saya yang buang”, kata Mahmud.

Tabungan yang dia miliki, dia bongkar semuanya. Katanya, uang bisa dicari lagi. Yang penting istrinya sembuh dulu.

“Saat itu anak saya saat itu mau masuk perguruan tinggi. Terpaksa saya batalkan karena uangnya saya pakai untuk biaya berobat istri saya dulu. Untung ada para tetangga yang juga membantu meringankan. Segala cara saya upayakan demi istri saya,” katanya mengenang.

Segala upaya pengobatan dia lakukan. Mulai dari medis hingga nonmedis. “Obat dari medis hingga yang tradisional semua kami coba. Terapi dua kali sehari, mulai dari akupuntur, bekam, pijat terapi. Apapun itu intinya saya ingin istri saya bisa kembali seperti semula”, katanya.

Mahmud juga bercerita bahwa dirinya dan istri juga pernah tertipu terapi bodong dan obat-obatan yang dijual juga hampir kadaluarsa. Padahal jumlahnya cukup banyak. Tapi Mahmud tetap tabah.

“Tidak apa-apa, semoga nanti ada rezeki lain. Yang penting bukan kami yang berbuat demikian ke orang lain. Kalau orang lain mau berbuat seperti itu, ya itu urusan orang tersebut”, ucapnya.

Mahmud mengaku, tidak pernah terbersit di benaknya untuk meninggalkan Sholeha. “Sekalipun istri saya stroke, saya tidak akan meninggalkan dia. Walau kata orang saya ini masih bisa cari istri lagi. Tapi tidak. Dari awal saya memilih istri saya karena memang saya cinta. Saya tidak pernah menyesali keadaan ini, ya namanya keluarga pasti ada cobaan. Tidak ada keluarga yang tidak pernah diuji. Kebetulan ujian bagi saya mungkin ini. Keluarga itu saling melengkapi. Kalau ada yang salah, ya diperbaiki. Bukan malah ditinggal pergi. Inget dulu pas masih manis-manisnya, masa sekarang karena sakit begini mau dilupakan”, katanya sambil senyum-senyum ke Sholeha.

Tahun demi tahun, kesehatan Sholeha kembali pulih. Ia mulai bisa melakukan aktivitas ringan lagi. Ini berkat ketelatenan suaminya dalam merawatnya.

“Saya bersyukur punya suami seperti dia. Walaupun agak ngeselin kadang-kadang, tapi dia baik. Dia masih mau merawat saya. Entahlah kalau bukan dia orangnya, bagaimana nasib saya sekarang. Bisa saja saya tidak ada yang merawat, anak saya juga tidak terawat. Untung suami saya bisa beberes rumah, bantu pekerjaan saya juga”, katanya.

Setelah berjuang bersama selama enam tahun, kini Sholeha bisa berjalan kembali walau tertatih dan tak secepat dahulu. Mahmud sering mengajaknya berjalan-jalan keliling lingkungan rumahnya.

“Saya bawa jalan-jalan agar tidak jenuh di rumah. Cuma ya tidak bisa cepat-cepat. Harus pelan-pelan takut jatuh. Jalannya masih belum sepenuhnya balik sempurna. Tapi tidak apa-apa, tetap saya jaga kesehatannya. Terapi juga tetap. Saya wanti-wanti untuk tidak makan sembarangan,” kata Mahmud.

Dia berharap, istrinya tetap semangat untuk sembuh. Mahmud memotivasi terus, supaya semangat terus.

“Kalau sudah ada semangat sembuh. Inshaallah bisa sembuh. Sebab orang sakit itu bukan hanya butuh pengobatan. Tapi juga butuh support dari orang-orang yang dicintainya”, jelas Mahmud sambil senyum-senyum. (mg/fun)

Editor : Ronald Fernando
#setia ke istri #sakit stroke