Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Butuh Kesabaran Punya Ibu Mertua yang Jahat

Fahrizal Firmani • Sabtu, 5 Agustus 2023 | 17:24 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi
 

Memiliki hubungan yang baik dengan mertua adalah impian setiap wanita. Namun, berbeda dengan yang dialami Lita (bukan nama sebenarnya). Bertahun-tahun ia harus hidup dengan ibu mertua yang jahat.

 

LITA tidak menyangka jika ibu mertuanya, Desi (bukan nama sebenarnya), memiliki karakter yang kurang baik. Sebelum menikah, ia sempat berpacaran selama tiga tahun dengan suaminya, Anton (bukan nama sebenarnya).

Sebulan sekali, ia main ke rumah mertuanya di Kabupaten Situbondo. Anton juga sering datang ke rumahnya di Kabupaten Probolinggo. Bisa dibilang kedua keluarga sudah saling mengenal. Apalagi, ibu mertunya adalah sepupu dari ibunya. Sehingga, ibunya pun sering main ke Situbondo.

Selama itu pula tidak pernah ada masalah. Setiap kali datang, ia selalu diajak makan bersama. Pulangnya, ia dibawakan oleh-oleh untuk ibunya.

“Karena penerimaan ibu suami saya baik selama pacaran, saya langsung mengiyakan saat dilamar sama Mas Anton,” katanya.

Awal pernikahan mereka sangat harmonis. Sebagai lulusan S-1 manajemen sebuah universitas tahun 1978, karier Anton sangat cemerlang. Ia langsung diterima di sebuah perbankan swasta di Surabaya.

Di tahun 1984, ia sudah diangkat menjadi manajer dan memilih membangun rumah di wilayah elit di Sidoarjo. Lita diajak tinggal di sana. Desi dan ibunya Lita sering datang berkunjung.

Lama-kelamaaan, karena Anton sering ke luar kota untuk urusan kantor, Desi memilih untuk menginap di rumah mereka. Tentu Lita tidak keberatan karena ia bisa memiliki teman mengobrol.

“Saya memang sudah dekat dengan ibu mertua sejak masih pacaran. Suami sering pergi sampai berhari-hari, makanya saya senang,” jelas Lita.

Di awal Desi tinggal di Sidoarjo, hubungan Desi dan Lita tidak berbeda. Mereka sering keluar bersama untuk berbelanja. Saat akhir pekan, Lita sering mengajak mertuanya jalan-jalan.

Namun, usai sebulan tinggal di sana, Desi tampak menjadi sosok yang berbeda. Saat melihat Lita sedang duduk menonton televisi, Desi menyodorkan kain pel padanya. Padahal, Lita sudah mengepel rumah itu.

Namun, karena itu adalah ibu suaminya, ia pun mengiyakan. Ia langsung mengepel seluruh rumah sesuai permintaan Desi. Terkadang, dalam sehari, Desi bisa meminta Lita mengepel rumah sebanyak tiga kali. Padahal, saat itu ada pembantu.

“Cuma saya selalu mengiyakan karena dia ibu saya juga. Saya harus hormat padanya. Dia yang telah melahirkan suami,” jelasnya.

Namun, kesabaran Lita malah menjadi bumerang. Pernah suatu waktu, saat Lita hendak mencuci pakaian, ia menanyakan pakaian kotor pada Desi. Namun, Desi bilang jika dia tidak memiliki pakaian kotor.

Saat Lita hampir selesai mencuci dan tinggal membilas pakaian untuk dijemur, Desi datang membawa tumpukan pakaian kotor miliknya. Bahkan, Desi sempat melempar dan mengenai wajah Lita.

“Saya sedih rasanya waktu itu. Sosok ibu mertua yang saya idamkan tiba-tiba menghilang. Ibu mertua berubah menjadi sosok lain,” jelas Lita.

Meski begitu, Lita tidak pernah menyampaikan perbuatan Desi pada suaminya. Setiap Anton pulang, Desi selalu berubah baik. Ia tidak pernah menyuruh Lita melakukan pekerjaan rumah secara sewenang-wenang.

“Kalau saya sampaikan belum tentu suami juga percaya. Selain itu, dia ibu saya juga. Takut dikira menjelek-jelekkan ibu sendiri,” katanya.

Pada suatu waktu, ayah mertuanya yang datang dari Situbondo. Namun, ternyata, keadaan tidak berubah meski ayah mertuanya datang. Justru lebih parah. Desi selalu melarang Lita untuk memasak nasi sebelum Anton datang.

Alasannya, agar nasinya bisa dimakan oleh Anton dalam kondisi hangat. Karena tidak berani, ia pun diam saja. Sehingga, ia harus menahan lapar dari pagi sampai malam. Sebab, Anton sering pulang pukul 20.00.

“Saat suami datang, saya senang bisa makan. Ternyata suami sudah makan di luar. Tahu suami makan di luar, mertua menyimpan lauk ke kulkas,” tuturnya.

Pernah pula saat Desi pergi keluar untuk berbelanja, Lita secara diam-diam memasak nasi goreng menggunakan nasi sisa masak kemarin. Namun, saat baru makan sesuap, Desi datang. Dia pun memarahi ayah mertuanya.

“Saya sampai kasihan sama bapak. Sebab, bapak juga lapar. Ini karena saya tidak boleh memasak nasi kalau suami belum datang,” kata Lita.

Kondisi ini dialami oleh Lita selama enam tahun hingga tahun 1990. Ibu mertuanya berubah tidak lagi menjadi sosok sewenang-wenang padanya saat mereka pindah ke Kota Malang.

Namun, sikap dikator ibu mertuanya masih tetap ada. Desi tidak mau makan masakan Lita, jika masakan pesanannya tidak dibuat. Meski, yang diminta oleh mertuanya tidak ada.

“Kalau tidak ada gitu, saya yang repot. Jadi disuruh beli masakan di luar. Itu pun harus penjualnya A, kalau B tidak mau,” tuturnya.

Meski begitu, ia mengaku sudah memaafkan ibu mertuanya. Saat ia menceritakan kejadian ini pada Anton di awal 2000-an, suaminya kaget. Ia tidak menyangka jika Desi menjadi seperti itu.

“Kata suami kalau saya bilang pasti ibunya akan disuruh pulang. Saya bilang tidak apa, saya ikhlas. Menyenangkan hati ibu itu pahala,” katanya tersenyum. (riz/fun)

Editor : Ronald Fernando
#mertua jahat