------------------------------------------------------------------------------------------------------
SEJAK kecil Rachmad Hidayat memang dikenal nakal. Ia kerap harus berpindah-pindah sekolah. Gara-garanya, terlibat aksi penganiayaan. Tidak hanya memukuli teman sebayanya. Tapi juga, terlibat pemukulan terhadap gurunya.
Lelaki kelahiran 17 Agustus 1973 silam itu mengaku pindah-pindah sejak duduk di bangku SD. Dia masih ingat, saat itu Hidayat berebut makanan dengan temannya. Rebutan makanan tersebut berujung pada perkelahian. Sampai-sampai, teman sebayanya itu pingsan. Gara-garanya sang kawan mendapatkan bogem mentah darinya.
Ulahnya itu, membuat pihak orang tua temannya tidak terima. Ia akhirnya sempat dijebloskan ke tahanan meski hanya semalam. “Kebetulan, bapak dari anak yang saya pukul itu adalah anggota polisi. Saya akhirnya diamankan. Sempat menginap di penjara,” kisah dia.
Hal itu tak membuatnya jera. Meski sempat dikeluarkan dari sekolah, kenalakannya tak berubah. Di tempat sekolahnya yang baru, ia kembali berulah. Akhirnya ia kembali dikeluarkan dari sekolah.
“Saya memang merasa jadi jagoan. Tidak kapok meski dikeluarkan dari sekolah. Saya pindah-pindah sekolah saat SD, kurang lebih empat kali,” aku suami dari Ika Hendun Dewi Zulaikha ini.
Begitu juga saat ia duduk di bangku SMP. Kenakalannya masih sama. Bahkan bukan sekedar menghajar temannya. Tetapi guru juga dipukulnya.
Pemicunya, ada kesalahan dari sang guru yang membuatnya marah. Ketika guru tersebut hendak melempar penghapus ke teman di sebelahnya, justru penghapus itu mengenai wajahnya. Dayat-sapaan Rachmad Hidayat yang emosi, langsung mendatangi gurunya tersebut. Dia memukul wajah dari sang pengajar.
Kontan hal itu membuat pihak sekolah tidak menerimakan persoalan itu. Ia pun akhirnya dikeluarkan dari sekolah. “Bukan sekali. Tapi tiga kali. Saya pindah-pindah SMP,” tandasnya.
Saat di SMA pun kondisinya tak berbeda. Sempat bersekolah di SMA Penerbangan di Singosari, Malang. Namun hanya bertahan dua pekan. Gara-garanya, ia sering menjadi sasaran pengeroyokan teman-temannya.
Ia yang kalah kandang, memilih untuk bersekolah di tempat lain. Ia pun pindah ke STM Trisakti Sidoarjo. Tapi ia merasa tak betah. Akhirnya, memilih untuk bersekolah di SMA Nasional Bangil waktu itu.
Lulus SMA, lika-liku kehidupan di dunia kerja dimulainya. Kala itu, ia memilih untuk menjadi bodyguard seorang juragan emas di Sidoarjo. Hal itu dilakoninya, setelah mendapatkan tawaran. Track record-nya yang memang kerap badung di sekolah, ternyata membawanya ke pekerjaan tersebut.
Hanya saja, hal itu tak berlangsung lama. Cuma empat bulan. Karena, ia memilih untuk pindah kerja. Ada tawaran yang lebih menarik baginya. Menjadi security di Angkasa Pura.
Meski badung, Dayat memiliki pemikiran untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Karenanya, tahun 1992, ia memilih untuk melanjutkan studi kuliah dan mengambil jurusan Informatika.
Perkenalannya dengan perempuan keturunan Tionghoa mengubah hidupnya. Karena dari perempuan itulah, ia terlecut untuk melanjutkan studinya. “Saya dibiayai untuk kuliah. Sampai akhirnya, saya memilih untuk menikahinya di bawah tangan tahun 1995 silam,” ungkap putra dari pasangan Abdul Munib dan Hj. Sutami yang lulus kuliah tahun 1996 itu.
Tapi, kisah asmaranya tidak bertahan lama. Hanya dua tahun berselang. Keduanya memilih untuk berpisah.
Usai pisah dari perempuan keturunan Thionghoa itu, cintanya berlabuh pada seorang bidan. Tapi, lagi-lagi tak bertahan lama. Hanya dua tahun satu bulan.
Menurut Dayat, pada 1997 ia sempat bergonta-ganti pekerjaan untuk mendapatkan cuan. Pernah menjadi sales lencana polisi. Hingga kemudian memilih hijrah ke Bandung. Di sana, ia bekerja sebagai juru parkir di kawasan Ciberem Bandung.
Kisah kelamnya pun dimulai ketika ada temannya mengajaknya pergi. Semula, ia mengira teman-temannya itu mengajaknya untuk makan-makan. Tapi ternyata, mereka mengajaknya merampok sebuah toko emas yang ada di Bandung.
Bukan hanya sekali aksi perampokan itu dilakukan. Karena di momen berikutnya, ia kembali diajak teman-temannya. “Tapi, selalu gagal. Karena, ada polisi yang berpatroli,” kenang Dayat.
Dayat sadar apa yang dilakoninya salah. Sehingga dia memilih pergi meninggalkan Bandung dan tinggal di Jakarta. Sama halnya dengan Bandung, ia memilih untuk bekerja sebagai tukang parkir.
Kehidupan menjadi tukang parkir di Jakarta tidaklah mudah. Tak jarang ia harus berkelahi, gara-gara rebutan lahan. Bahkan, ia pernah dipukul balok, gara-gara persoalan lahan parkir.
Kelamnya kehidupan Jakarta bukan hanya di situ. Ia pernah menjadi sasaran tembak anggota polisi. Gara-garanya, ia tak mau menunjukkan teman-temannya yang merampok di Jakarta.
“Saya tahu kalau teman-teman saya merampok. Tapi, saya tidak ikut-ikutan. Persoalannya, saya malah yang jadi sasaran. Saya dipaksa mengaku dan menujukkan orang-orang yang merampok tersebut. Sempat ditembak di kaki karena bungkam waktu itu,” kisahnya.
Kejamnya kehidupan ibu kota membuatnya tidak tahan. Ia pun memilih pulang kampung ke Bangil tahun 2000 silam. Pulang kampung, tak membuatnya lantas mendapatkan pekerjaan.
Baru 2001 kemudian dia mendapatkan jalan untuk menjadi supplier pengadaan seragam dan catering ke perusahaan di PIER. Tapi, tak lama. Karena tahun 2004 kemudian, kerja sama tersebut berakhir.
Dayat yang menikah tahun 2004 tersebut, sempat dibuat pusing gara-gara harus menganggur. Hingga ada tiga pilihan hidup yang dilakoninya. Pertama, cari pesugihan di gunung Kawi. Kedua, mengebom Hotel Tamrin, dengan bayaran Rp 1,2 miliar oleh temannya. Terakhir adalah tirakat selama 41 hari.
“Saya memilih yang terakhir. Saya tirakat selama 41 hari. Ketimbang saya ngebom Tamrin waktu itu,” ungkap bapak yang dikarunia dua anak dari pernikahannya dengan Ika Hindun tersebut.
Belum genap menjalani tirakat 41 hari, ia mulai mendapatkan wangsit. Dia mendapat petunjuk agar pergi ke tambak. Ia pun menyanggupi dan bertemu dengan penjaga tambak.
Saat pertemuan tersebut, ia diminta untuk membantu menjaga tambak. Ia mendapatkan bagian 25 persen untuk jaga tambak tersebut. Bukan hanya itu, ia juga mendapatkan rezeki yang lain. Karena bertemu dengan orang kaya di Bangil, alm Hanif Kamaludin untuk menjadi satpam.
Bahkan, ia juga mendapatkan job proyek untuk sebuah perumahan. “Padahal, tirakat yang saya lakoni, belum genap 41 hari. Tapi banyak job yang saya dapatkan. Semua itu saya ambil,” tutur dia.
Dari situlah, pundi-pundi rupiah mengalir. Cuan demi cuan yang dihimpun, digunakannya untuk memulai usaha. Semula, ia hanya menyewa tambak. Lambat laun, ia membeli tambak tersebut. Bahkan saat ini, ia memiliki kurang lebih 21 hektare lahan tambak.
Keberhasilannya tidak hanya dari sektor perikanan. Ia juga menggeluti bisnis property. Bahkan, juga persewaan bentor hingga saat ini.
Bisnis penyewaan bentor itu, dimulainya tahun 2017 silam. Ketika itu, ada rekannya mantan napi, sambat kepadanya. Ingin mendapatkan pekerjaan agar tidak kembali ke dunia hitam.
Ia pun mencari solusi. Hingga akhirnya, menyewakan bentor kepadanya. Sehari, rekannya itu, cukup membayar Rp 10 ribu. “Bahkan, saya juga membantu istri rekan saya untuk membuka toko. Saya modali,” cerita pria yang rutin menggelar santuan kepada anak yatim piatu ini.
Berangkat dari situ, ia memperbanyak bentornya. Karena, semakin banyak temannya yang datang untuk sambat pekerjaan. Terutama, mereka yang merupakan bekas pesakitan.
Semula, hanya beberapa bentor yang disewakannya. Sekarang, sudah ada 390 bentor yang dimilikinya. “Sebagian besar, dioperasikan oleh mantan napi. Ada eks narkoba, hingga pelaku kejahatan lainnya,” sambung dia.
Ia pun bersyukur, kehidupannya berubah. Bahkan, ia bisa mengubah kehidupan orang lain. Khususnya, kalangan napi. Dengan harapan, mereka tidak lagi terjun di dunia hitam. (one/fun) Editor : Ronald Fernando