------------------------------------------------------------------------------------------------------
BIDUK rumah tangga pasutri Subroto-Syafira banyak menemui rintangan. Saudara sepupu yang akhirnya dihalalkan melalui akad nikah ini harus menjalani rumah tangga dengan penuh pura-pura.
Syafira selalu berpikir pernikahannya tidak akan harmonis. Ia mengaku tidak ada kecocokan dengan suaminya. Namun, keputusan kedua orang tua pasutri ini tidak bisa dibantah. Pernikahan sepupu ini pun terjadi.
Syafira menikah dengan Subroto sudah lama. Sejak 1989. Keduanya keturunan tuan tanah, kaya. Memiliki lahan sawah berhektare-hektare. Mendapat warisan dari sang kakek yang seorang pebisnis tebu. Kekayaannya menurun kepada orang tua Subroto dan Syafira.
Ternyata, pernikahan sepupu ini bagian dari rencana sang kakek. Alasannya, nasab keturunannya jelas. Sama-sama keturunan dari keluarganya. Keluarga ini merupakan keluarga yang takdim terhadap orang tua. Keputusan orang tua selalu yang terbaik. Orang tua Subroto dan Syafira juga tak bisa membantah orang tuanya.
Syafira berusaha menentang. Menurutnya, mendapatkan suami dari luar keluarganya akan menambah banyak saudara. Yang terpenting adalah kecocokan dari kedua calon pasangan. Namun, alasan ini hanya ada di angan-angan. Pada akhirnya, ia tetap harus patuh kepada keputusan orang tuanya.
Memang tidak ada rasa cinta, Syafira mengaku tidak bisa menerima Subroto sebagai suaminya. Di benaknya hanya ada saudara. Karena itu, meski sudah halal dan jelas berpahala, pasangan suami istri sangat jarang melakukan hubungan intim layaknya suami istri.
Bahkan, keduanya baru dikarunia momongan setelah 15 tahun menikah. Tepatnya pada 1999. Kini, anaknya sudah berusia 24 tahun. “Berhubungan intim dengan saudara tidak terlalu bergairah,” ujar Syafira seperti diceritakan temannya, Puspitasari.
Meski sudah dikarunia anak, prinsip Lho... lho..., gue... gue..., masih terus dipegang pasutri ini. Lama sama-sama memendam bara, pada 2000 meluap. Terjadi pertengkaran hebat. Sampai keduanya pisah ranjang. Masalahnya, Syafira menolak ketika diajak berhuhungan intim.
Keduanya semakin cuek. Tidak seperti keluarga pada umumnya. Bahkan, Syafira semakin nekat. Ke mana-mana tak pernah minta bersama sang suami. Memilih bareng teman-temannya. Ketika Subroto ke ladang, Syafira memilih main bersama temannya.
Namun, keduanya tetap tercatat sebagai suami istri. Keluarga bergelimang harta. Rumah bagus bagaikan istana. Punya banyak mobil dan motor. Anehnya, meski keluarga pasutri ini tak harmonis, kedua orang tua mereka sama-sama tidak tahu. Padahal, rumah mereka bersebelahan.
“Syafira curhat, katanya pisah ranjang selama 15 tahun. Namun, kekuatan seorang anak yang sampai saat ini menyatukan mereka,” kata Puspita.
Ketika orang tua Syafira mulai sakit-sakitan, pasutri ini mulai menyambung komunikasi. Mereka merawatnya bersama-sama. Tahun kemarin, ajal menjemput ayah Syafira.
Sebulan setelah meninggalnya ayah Syafira, kehidupan sebenarnya keluarga pasutri ini terungkap. Masalahnya harta. Anak yang sudah beranjak dewasa, meminta bagian.
Sang ayah, Subroto menahannya. Alasannya, sang anak belum cukup umur. Ia meminta anaknya untuk banyak-banyak mencari ilmu dulu sebelum mengolah lahan pertanian. Namun, anaknya tetap kekeh. Menuntut harta.
Sampai akhirnya antara bapak dan anak ini bertengkar. Syafira mencoba mendamaikan keduanya. Namun, Subroto malah naik pitam. Ia menonjok wajah istrinya. Pas di bagian mata. Mendapati itu, Syafira makin kesal. Makin tak peduli terhadap Subroto. Namun, keduanya tetap mempertahankan rumah tangganya demi sang anak. (zen/rud) Editor : Ronald Fernando