Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tobat Togel Keluar dari Penjara, tapi Kini Keranjingan Main Slot

Ronald Fernando • Sabtu, 4 Maret 2023 | 16:11 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI
Era tahun 2000-an judi totoan gelap (togel) pernah diminati banyak orang. Tak sedikit orang yang keranjingan. Salah satunya Sukri, 55, (nama samaran). Pria asal Kecaamatan Purworejo ini pernah mendekam di penjara sekitar setahun lamanya karena jadi pengecer.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

SELAMA dipenjara, Sukri praktis mengandalkan Misti (juga nama samaran), 50, istrinya. Mistilah yang mencari nafkah dan memberi makan anak-anaknya, dari pekerjaan menjadi asisten rumah tangga.

“Sebelum ditangkap dan dipenjara, saya dan anak-anak sudah sering mengingatkan supaya tinggalkan kebiasaan nombok. Tapi dasar ingin cari uang instan, rupane mbeler,” kata Misti.

Rumahtangga Misti dan Sukri sebenarnya sudah kurang. Sukri sudah lama tidak bekerja. Lebih sering kluyuran. Bekerja pun serabutan dan hasilnya, selalu dipakai untuk nombok togel. “Entah kenapa suami saya percaya, bisa kaya dari togel. Saya sampai geregetan,” kata Misti.

Sampai sekitar tahun 2002, akhirnya Sukri ditangkap di rumahnya. Barang buktinya dua lembar rekapan togel yang mau disetor ke bandar. Saat itu Misti sebenarnya tak kesusahan. Justru dia merasa senang. Paling tidak, setelah dihukum, Sukri dianggapnya bisa tobat.

Selama dipenjara, Misti juga tidak memanjakan sang suami. Biasanya saat berkunjung, dia hanya membawakan makanan. “Sesekali rokok, tapi tidak banyak. Biar dia (Sukri) jera. Kalau uang tidak pernah. Khawatir dipakai yang enggak-enggak,” kenang Misti.

Di dalam penjara, Sukri rupanya menyesal. Buktinya saat bebas, dia langsung sujud di depan Misti sembari berjanji tidak akan main judi. Janji itu bahkan diucapkan di depan anak-anaknya.

Pernah menjadi narapidana, tak membuat Sukri malu. Untungnya dia masih mau bekerja. Mencoba peruntungan dengan membuka usaha mebeler.

Tapi sepertinya sifat Sukri masih sama. Bahkan dia merasa, sang istri tak perlu dinafkahi. Sebab, selama dia dipenjara, anak-anaknya masih bisa bertahan dari penghasilan Misti.

“Bukan pelit, tapi seperti merasa sudah keenakan. Gak pernah menafkahi saya. Selama tidak pernah diberi, saya sendiri yang membayari segala keperluan rumahtangga sampai biaya sekolah anak,” kata Misti.

Sempat dalam rumahtangganya, Misti ingin bercerai dari suaminya. Tapi anak bungsunya melarangnya. “Lha yo opo. Itungane lanang nunut urip. Tapi saya kasihan ke anak saya yang paling kecil. Dia mau di rumah tetap ada sosok ayah,” beber Misti.

Hingga berjalannya waktu, usaha Sukri bangkrut. Untungnya sang anak diterima bekerja, setelah lulus sekolah kejuruan.

Dasar Sukri memang malas. Setelah anak bungsunya sudah bekerja, sifat pemalas Sukri makin jadi. Dia makin ogah-ogahan mencari nafkah. Malah jadi berani minta jatah ke anak bungsunya. Dan hari-hari Sukri dilewati dengan klayapan. Pagi, siang dan malam, kerap nongkrong di warung kopi.

Sampai suatu ketika, anak bungsunya kasihan kepada Sukri. Dia lalu diajari untuk berjualan online. Berdagang baju. “Modalnya dari anak. Suami juga diberi handphone dan disuruh belajar,” kata Misti.

Celakanya, smartphone yang paket datanya juga dibelikan dari anak itu, membuat Sukri kenal dengan permainan slot. Segala keuntungan, justru dipakai untuk bertaruh. “Haduh, rasa-rasanya mau marah, tapi kok gak pantas karena kami sudah punya cucu,” sambat Misti.

“Hobi” baru Sukri ini sebenarnya juga sudah diketahui sang anak. Semenjak itupula, sang anak juga berhenti membelikan paket data. “Tapi dasar sudah jadi hobi. Paket data gak punya, larinya ke warung kopi untuk ngampung wifi,” kata Misti kesal. (mg/fun) Editor : Ronald Fernando
#judi slot