Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Suryono Pane Pernah Mengamen di Jalan hingga Jadi Lawyer

Ronald Fernando • Sabtu, 11 Februari 2023 | 16:09 WIB
JALUR HUKUM: Suryono Pane dengan rekan sesama pengacara di kantornya. (Foto: dok Pribadi)
JALUR HUKUM: Suryono Pane dengan rekan sesama pengacara di kantornya. (Foto: dok Pribadi)
Siapa yang tak mengenal Suryono Pane. Nama pria asal Gununggangsir ini, sudah tak asing di telinga masyarakat Kabupaten Pasuruan. Namun, siapa yang menyangka, kalau sebelum meraih kesuksesan seperti sekarang, ia pernah hidup susah. Dari ngamen saat sekolah hingga pernah nyaris menggelandang ketika sudah menikah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

HIDUP di tengah keluarga yang sederhana, H. Suryono Pane sudah dididik untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan. Ibu dan ayahnya merupakan seorang petani. Namun, jangan harap untuk bisa makan nasi setiap hari.

Ia dan keluarganya cenderung makan jagung untuk menu harian. Kalaupun ada nasi, masih harus menunggu saat panen padi tiba. “Makanya, makan nasi, menjadi sesuatu yang istimewa bagi saya dan keluarga saya. Karena hal itu memang jarang kami lakukan saat kecil. Beras adalah barang yang langka untuk bisa kami dapati,” ungkap Pane-sapaannya.

Meski hidup susah, ia tak mengeluhkan dengan keadaannya. Justru, ia bertekad untuk mengubah nasibnya. Beruntung, kala itu dia memiliki otak yang cukup brilian. Sehingga, saat sekolah, ia rutin mendapatkan beasiswa.

Dengan cara itulah dia tidak lagi harus memikirkan biaya sekolah. “Saya bisa sekolah, karena mendapatkan beasiswa. Bahkan, ketika SMK, full beasiswa saya dapatkan,” kenang alumni SMKN 1 Lumajang tersebut.

Saat duduk di bangku SMK, ia memilih tinggal di asrama. Hal itu dilakukan untuk menghemat biaya. Serta sebagai persyaratan lain untuk menerima beasiswa tersebut.

Dari kehidupan asrama itulah, jiwa disiplinnya dibentuk. Karakternya juga terasah, dengan keterlibatannya dalam organisasi sekolah, OSIS. “Penerapan disiplin tinggi di asrama waktu itu, memberi manfaat bagi saya dan hal itulah yang saya rasakan sekarang,” ungkap pemilik Cafe Kopi Langit ini.

Hidup di asrama benar-benar tidaklah mudah. Meski makan dijamin, namun namanya remaja, pasti menginginkan sesuatu yang lebih. Hal inilah, yang membuatnya memilih untuk mencari penghasilan saat sekolah. Karena, ia tak mau membebani orang tuanya, untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhannya.

Ia pun memilih “jalanan” sebagai pelarian. Bersama rekannya, dia menjadi pengamen yang manggung di bus-bus kota. Hal itu dilakukannya, ketika pulang dari sekolah. Serta sebelum waktunya masuk jam asrama.

“Saya biasanya ngamen dari jam 16.00 sampai 17.00. Karena, kalau magrib tidak ada di asrama, akan ada hukuman yang kami terima,” tuturnya.

Pane mengamen tidak sendirian. Ia bersama rekan se-asrama melakukannya. Pria kelahiran 14 Mei 1981 ini masih ingat, ketika ia dan rekannya ketiduran di bus. Gara-garanya kecapekan. “Ketika bangun, saya kaget melihat gedung-gedung yang tinggi. Ternyata, saya sudah ada di Surabaya,” ungkapnya.

Ia yang sebenarnya panik, berusaha untuk tetap tenang. Bahkan, kesempatan itupun, ia manfaatkan untuk menyaksikan tinju. Kebetulan saat itu ada PON 1998 di Surabaya. “Begitu pulang, kami distrap oleh pengurus asrama,” kisahnya.

Bukan hanya mengamen. Pane remaja, juga nyambi jualan jamu sachet-an saat hari libur tiba. Ia keliling kampung untuk memasarkan dagangannya. Hal itu dilakoni selama tiga tahun, hingga akhirnya dia lulus sekolah.

Saat lulus sekolah, dia sebenarnya berpeluang menjadi dokter. Karena waktu itu, ia diterima di fakultas kedokteran Airlangga Surabaya melalui jalur prestasi. Bahkan ada orang tua angkat yang bersedia untuk membantunya.

Sempat menempuh pendidikan kedokteran. Namun tidak lama. Karena akhirnya, ia memilih berhenti, karena sesuatu hal yang memberatkan baginya.

Hingga tahun 2001 lalu. Ada penerimaan akademi polisi. Ia pun melakukan pendaftaran. Sayangnya semuanya gagal. Kegagalannya itu, tak lepas dari kecelakaan yang menimpanya.

Waktu itu dia sempat bekerja di PT Iga Abadi di Beji. Nah, di perusahaan kayu itulah, petaka menimpanya. Jempol tangan kanannya terkena mesin potong. Hingga membuatnya cacat fisik. Dia gagal untuk mengikuti seleksi AKPOL.

“Sejak itulah, saya fokus kerja di PT Iga Abadi. Dan menikah, tahun 2003 silam,” tandas Ketua Ikadin Kabupaten Pasuruan tersebut.

Menikah di masa yang belum mapan, membuat kehidupannya semakin mengalami keterpurukan. Tidak punya rumah sendiri. Hanya mampu menyewa kos-kosan untuk ditinggali.

Jangan bayangkan kos-kosan yang ditinggali ber-AC ataupun berdipan yang nyaman. Karena kenyataannya, ia hanya bisa tinggal di kos-kosan murah. Dengan beralaskan tikar saat tidurnya.

Kondisi ekonominya yang pelik itu semakin terasa ketika istrinya hamil anak pertama mereka. Untuk menambah penghasilan, ia memilih menjadi pemain sepakbola tarkam. Meski tak mampu mengangkat perekonomian mereka, setidaknya bisa menambah penghasilannya.

Bahkan dari situpula, biaya persalinan istrinya bisa didapatkannya. Anak pertamanya, Akmal Dafa Pratama lahir di dunia 14 Mei 2004 silam.

Baginya, kelahiran Dafa-sapaan anaknya itu, memberi kebahagiaan tersendiri baginya. Namun, kebahagiannya tak berlangsung lama. Karena, dua hari kemudian, anaknya mengalami masalah kesehatan.

Seringnya tidur di tikar, membuat anaknya yang masih bayi itu, harus dilarikan ke rumah sakit. Ia membawa anaknya tersebut sendirian ke rumah sakit dengan motor pinjaman. Karena istrinya yang baru melahirkan, tak mampu naik motor jauh.

Sayang, dalam perawatan rumah sakit, anak pertamanya itu, meninggal dunia. Kesedihannya pun tak mampu dibendungnya. Namun, ia tak mau bersedih terlalu lama. Karena, masih ada masalah yang harus dihadapinya.

Membawa bayinya pulang ke rumah untuk dimakamkannya. Waktu itu, Pane mengaku, tidak memiliki uang untuk membayar ambulans. Karnanya, ia pun memilih menggendong mayat anaknya dengan  motor hingga sampai rumahnya.

“Saya naik motor pinjaman tetangga untuk mengantar anak saya ke rumah sakit. Tapi nyawanya tak tertolong. Saya akhirnya membawanya pulang, mayat anak saya dengan motor yang sama. Karena, untuk membayar ambulans, apa yang harus saya gunakan,”  sampainya.

Kondisinya semakin terpuruk di tahun 2006 kemudian. Ia di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Ia yang sudah terbiasa hidup susah, mencoba untuk mencari peruntungan dengan menjual pulsa.

Uang pesangon pabrik dan jamsostek waktu itu, digunakannya untuk membuka usaha jual beli pulsa. “Saya buka konter di Gununggangsir waktu itu. Dan itu menjadi penghasilan utama kami. Karena istri saya, juga di-PHK dari pabrik,” cerita Pane.

Pane yang tak mau hidupnya begitu-begitu saja, memilih untuk menyelesaikan pendidikan sarjanahnya. Ya, saat masih bekerja, ia sebenarnya juga melanjutkan kuliah, dengan mengambil sarjana hukum. Hingga 2008 kemudian. Ia lulus sarjana dan melanjutkan profesi advocate di Universitas Airlangga tahun 2008.

Baru 2010 kemudian, ia resmi menjadi advocat. Pane yang juga bergerak di organisasi buruh, mulai menapaki jejak karirnya begitu resmi menjadi advocat. Pengalaman yang dimilikinya dari organisasi perburuhan yang dilakoni, mengasah kemampuannya di lapangan.

Sejumlah kasus ditanganinya. Bahkan, beberapa kasus, yang menyita perhatian publik, pernah ditanganinya. Seperti kasus penolakan tambang di Karanglo, Kecamatan Sukorejo. Atau kasus tambang Salim Kancil di Lumajang. Serta, kasus dugaan korupsi yang melilit Bawaslu Jatim beberapa tahun lalu.

Termasuk kasus migas di Pasuruan. Beberapa kasus yang ditanganinya, berbuah kemenangan. Dengan artian, kliennya tidak terbukti melakukan kejahatan.

Selain menjadi advocate, Pane juga tercatat pernah menjabat sebagai ketua Panwaslu atau yang kini disebut Bawaslu. Saat di Panwaslu waktu itu, ia sempat membongkar kasus suap terhadap caleg dan oknum PPK waktu itu.

Sederet prestasi itulah, yang menjadi titik balik dari kesuksesannya. Ia tak hanya fokus menjadi pengacara, tetapi juga pembuatan legal opinion. Bahkan, tengah mengembangkan berbagai usaha. Termasuk kafe dan properti.

Kini, Pane menjadi salah satu orang kaya di Kabupaten Pasuruan. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai sultan dari Gununggangsir, Kecamatan Beji. (one/fun) Editor : Ronald Fernando
#suryono pane #lawyer pasuruan