Empat tahun setelah menikah, dr Ajeng Putih Sekarningrum harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya, dr Abdi Saputro. Sebab, Abdi sang suami harus sekolah spesialis bedah saraf di Universitas Diponegoro Semarang. Selama itu, sulit dan sangat jarang untuk bisa bertemu dan berkumpul.
Bahkan, saat hari raya Idul Fitri, Ajeng rela boyongan ke Semarang, supaya bisa merasakan Lebaran bersama. Karena suami tidak dapat waktu libur untuk pulang.
Sebelum menikah, Ajeng dan Abdi dipertemukan saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas Brawijaya (FK-UB). Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih serius dan menikah pada 28 Oktober 2013 lalu.
Saat itu, Ajeng maupun Abdi sama-sama diterima dinas di RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo. Kehidupan keluarganya berjalan dengan bahagia. Semua dijalani bersama. Setahun berikutnya, kebahagiaannya tambah lengkap setelah mendapatkan momongan anak pertama.
”Suami pertama dinas sebagai dokter jaga di RSUD dr. Mohamad Saleh. Begitu juga saya,” ujar dokter kelahiran 24 Desember 1987 itu.
Dalam perjalanan, dirinya dan suami mendapatkan motivasi dari salah satu dokter senior Kota Probolinggo. Mau sampai kapan jadi dokter jaga? Dan disarankan untuk sekolah spesialis. Ternyata, pilihan dan keputusan untuk harus sekolah spesialis itu, saat suaminya menjadi Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) tahun 2016. Saat menunaikan ibadah haji di tahun itulah, Abdi terdorong untuk melanjutkan sekolah spesialis.
”Saya dan suami merasakan sendiri, apa yang menjadi doa langsung di tanah suci dikabulkan Allah. Termasuk menjawab keraguan. Semuanya terjawab dan yakin selepas menjadi TKHI itu,” terang dokter yang dinas di Puskesmas Kanigaran itu.
Hingga akhirnya, di tahun 2017, sang suami mendaftar dan ikuti tes sekolah spesialis. Tepat Juli 2017, ada pengumuman yang ternyata diterima. Selang 3 hari berikutnya langsung berangkat ke Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Sejak itu, dirinya harus berjuang menjalani hubungan jarak jauh.
Ajeng di rumah bersama anak dan ibunya. Bahkan, saat lahiran anak kedua, dia harus rela tanpa didampingi suami. Begitu juga saat kehilangan calon bayi anak ketiga tahun 2021 kemarin. Sang suami tidak dapat mendampingi karena memang tidak dapat izin.
”Waktu suami berangkat pendidikan sekolah spesialis, saya kondisi hamil. September 2017 saya pun melahirkan anak kedua. Saat lahiran, suami tidak dapat pulang. Suami dapat izin pulang saat anak sudah usia hampir 1 bulan. Itu pun dapat izin pulang tidak lama dan harus secepatnya kembali ke Semarang,” ungkapnya.
Ajeng mengungkapkan, selama 5,5 tahun lamanya, dirinya menjalani hidupnya dan berjuang sendiri di rumah. Karena, suaminya sedang berjuang sendiri di Undip Semarang. Dia tahu sekolah spesialis itu perjuangannya lebih keras dan berat. Sehingga, dirinya berusaha menyelesaikan apa yang terjadi di rumah. Karena dia tidak ingin membuat suaminya kepikiran dan terbebani masalah yang ada di rumah.
”Paling panik itu saat anak sakit. Meski saya sebagai dokter, tapi saat anak sakit, paniknya berkali-kali lipat. Tapi Alhamdulillah, semua dapat dijalani hingga suami dinyatakan lulus ujian akhir sekolah spesialis bedah saraf akhir Desember 2022 kemarin,” terangnya.
Belum lagi masalah di rumah yang tidak dapat ditangani seorang perempuan. Sehingga, dirinya sering kali dibantu oleh tetangga. Kebetulan tetangga rumahnya di Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, baik-baik. “Selama ini, kami tidak pakai jasa asisten rumah tangga,” terangnya.
Waktu 5,5 tahun diakui Ajeng tidaklah sebentar. Ditambah untuk dapat bertemu dan kumpul dengan suaminya sulit. Karena tidak ada libur panjang bagi suaminya. Ini berlangsung hingga dua tahun pertama. Karena suaminya adalah siswa baru.
Namun, semua itu dapat dilalui dengan kunci komunikasi yang baik dan lancar. Suaminya lebih banyak di kamar operasi saat sekolah spesialis. Selama di kamar operasi seharian, biasanya HP dimatikan. Sehingga, suaminya selalu memberi kabar saat hendak masuk kamar operasi.
“Selama sekolah, selalu komunikasi. Terutama tiap hari dan akan masuk ke kamar operasi. Karena HP akan di-off kan,” ujarnya.
Motivasi dan dorongan paling kuat, tidak lain adalah anak-anaknya. Dia ingin kelak anak-anaknya bisa mendapatkan yang terbaik dari kedua orang tuanya. Selain itu, menjadikan dirinya dan suami menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Ajeng mengatakan, sejak akhir Desember 2022, suaminya sudah boleh pulang. Karena sudah dinyatakan lulus ujian akhir sekolah spesialis. Tinggal menunggu persiapan wisuda yang akan digelar bulan depan.
Nah, selama suaminya di rumah, dirinya merasakan kehidupannya lebih ringan dan tenang. Karena semua tugas yang dikerjakan sendiri, sudah terbantu suaminya. Seperti mulai bagun tidur, ngurus kedua anak dibantu suaminya. “Paling dirasakan saat bangun tidur. Sekarang bisa melihat suami di samping,” ujarnya.
Sang suami akan kembali bertugas dan mengabdi di RSUD dr. Mohamad Saleh. Rumah sakit pertama suaminya bertugas dan mengabdi. Nanti ke depan, dirinya ingin bersama suami dapat membuka klinik yang dapat melayani dan membantu masyarakat dalam bidang kesehatan. Sehingga lebih dirasakan manfaatnya.
Selain itu, wanita yang gemar kopi itu ingin membuka coffee shop yang harganya dijangkau warga menengah ke bawah. Sehingga, mereka dapat menikmati sensasi coffee dengan harga terjangkau. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin