Justru Nindi merasa lebih tenang dan happy. Dia tak lagi harus mentaati perintah atasan. Bangun dan apel pagi. Hidupnya tak lagi diatur-atur dan dia merasa lebih tenang. Dia memilih untuk kabur dari barak.
Semenjak itu, berbagai pekerjaan dilakoninya. Maklum saat itu dia masih belum berumah tangga. Apapun yang bisa jadi duit, dia jalani. Asalkan itu tak melanggar hukum. “Yang pasti tak lebih nyaman daripada hidup di barak,” kata Nindi.
Nindi pernah menjadi makelar berbagai barang yang dibutuhkan orang. Palu gada. Apa lu minta gue ada. Entah itu barang maupun jasa.
Kehidupan yang serba tidak pasti ini, sudah dilakoninya bertahun-tahun lamanya. Meski luntang lantung, Nindi merasa bahagia menjalaninya daripada di barak. Sebab saat hidup di barak, Nindi mengaku tak mampu.
Kisah Nindi yang sempat mencicipi diri sebagai abdi negeri ini, tak lepas dari sosok ayahnya yang seorang purnawirawan TNI. Didikan kerasnya, ”menyeret” dia untuk mengikuti jejaknya. Bukan hanya Nindi. Tetapi, lima saudaranya yang lain, juga menjadi abdi bagi negeri ini.
“Tapi, di antara mereka, aku memang yang paling bandel. Meski perempuan, aku kerap membuat orang tua kesal,” kenang perempuan yang kini memiliki tiga anak tersebut.
Usai lulus dari SMA, Nindi mengikuti seleksi penerimaan tentara. Dia mendaftar di wilayah Bandung. Sekitar tahun 1982 silam, Nindi diterima. Bahkan sempat menjalani pendidikan di sana.
Selepas pendidikan, Nindi kemudian ditugaskan di Malang. Selama bertugas itulah, Nindi merasa tersiksa. Beratnya kehidupan barak, membuatnya merasa di penjara. Seolah tak cocok dengan kehidupannya.
Kehidupan di barak, memang harus disiplin tinggi. Tidak boleh telat apel. Karena kalau terlambat, hukuman berat harus dirasakan. Bukan hanya saat apel. Tapi untuk makan, juga dibatasi jam.
“Hidup terasa tak nyaman. Mandi pun jarang. Bahkan, saat tidur malam, aku memilih mengenakan seragam. Takut kalau sampai telat bangun pagi,” ceritanya.
Hal itulah yang membuatnya memilih untuk kabur dari barak. Dia memilih pulang ke rumah. Tidak kembali lagi ke kesatuan.
Kontan saja saat Nindi tiba di rumah, sang ayah yang saat itu masih aktif menjadi tentara, marah besar. Sang ayah bahkan memukulinya.
Nindi yang ketakutan, akhirnya memilih kabur dari rumah. Hidupnya menggelandang.
Hingga suatu hari, ada yang menawariku untuk pergi ke luar negeri. Menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Selama tiga tahun lamanya, Nindi bekerja di Arab Saudi.
Ngosek WC. Bersih-bersih rumah. Bahkan mengasuh anak majikan. Itu menjadi makanannya sehari-hari.
Tapi Nindi menegaskan, dia tak pernah menyesali itu semua. Nindi malah merasa happy. “Selama tiga tahun, aku berhasil mengumpulkan banyak uang. Pulang ke Indonesia, aku mampu membeli rumah,” kisahnya.
Nindi yang sudah mulai dewasa, tentu juga ingin hidup bahagia dengan berumah tangga. Perkenalannya dengan seorang pria, membuat hatinya berbunga-bunga. Ia pun mengakhiri masa lajangnya, sekitar tahun 1992 silam.
Hal itu membuatnya sangat bahagia. Kebahagiaannya bertambah, dengan dikarunianya tiga anak dari buah pernikahannya tersebut.
Namun namanya rumah tangga, tak selamanya berjalan mulus seperti yang diharapkan. Ada masanya masalah menghampiri. Ketika dia mendapati suaminya, bermain-main dengan hati dan mengkhianati cintanya. Sang suami main dengan perempuan lain.
Hatinya begitu hancur. Nindi sampai harus mencari pelarian. Dengan bersenang-senang. Minuman keras dan tempat-tempat hiburan menjadi persinggahan. Dari situ pula, ia mengenal narkoba. Mulanya, hanya coba-coba. Sampai akhirnya, menjadi kecanduan.
Bahkan ketika dia sudah memaafkan suaminya, dia tetap tak bisa menghilangkan rasa kecanduannya tersebut. Hingga akhirnya, dia pernah digerebek oleh anggota Satresnarkoba. Tepat saat Nindi sedang berpesta.
Mirisnya lagi, saat itu sedang ada rencana penyelenggaraan pernikahan anak terakhirnya. Ia pun hanya bisa mendengarkan kabar pernikahan anaknya tersebut di penjara.
“Aku ditangkap 2010 lalu dan harus menjalani masa penahanan selama kurang lebih delapan bulan,” terangnya.
Keluar dari penjara, Nindi berusaha memperbaiki hidup. Meski memang tak mudah. Karena kehidupan yang ada, memang begitu kerasnya.
Selain berusaha untuk meninggalkan kebiasaan buruk dengan mengkonsumsi narkoba, dia juga berusaha untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang lebih mengarah ke hal positif. Seperti menjadi aktivis dan berbagai kegiatan lainnya.
“Aku tidak mau lagi terjerembab ke kehidupan yang bisa menyeret ke penjara,” akunya. (one/fun) Editor : Jawanto Arifin