Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pria Lanjut Usia Sebatang Kara Ini Cari Udang di Hutan Mangrove untuk Hidup

Jawanto Arifin • Sabtu, 5 November 2022 | 16:55 WIB
SEBATANG KARA: Agus Sugiarto dan gubuknya yang ada di hutan mangrove Mayangan. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
SEBATANG KARA: Agus Sugiarto dan gubuknya yang ada di hutan mangrove Mayangan. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
MESTINYA di usianya yang sudah 76 tahun, Agus Sugiarto sudah paripurna. Tak lagi bekerja. Menimang cucu dan memperbanyak ibadah, seperti lanjut usia umumnya. Tapi itu sulit. Dia masih harus mencari uang demi bisa bertahan.

Agus kini tinggal di sebuah gubuk kecil dari bambu. Lokasinya di tengah-tengah hutan mangrove, Kota Probolinggo. Di gubuk yang ukurannya hanya 2x4 meter itu, Agus hidup sebatang kara.

Gubuk inilah yang menjadi tempat dia berteduh dan istirahat. Di dalam gubuk ini dia tidur beralaskan kasur kecil dan sarung. Mesakne...

Photo
Photo
SEBATANG KARA: Agus Sugiarto dan gubuknya yang ada di hutan mangrove Mayangan. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Walau usianya sudah tua, Agus harus tetap bergerak agar bisa meraup rupiah. Demi memenuhi kebutuhan hidupnya, dia mencari udang dan dijual ke warga di Kecamatan Mayangan. Sesekali dia mendapat kiriman makanan dari warga yang iba.

Agus sebenarnya tak ingin bekerja di usia senja seperti saat ini. Tapi apa daya. Dia tak punya keluarga. Mau kembali ke kampung halamannya di Jogjakarta, juga tidak mungkin.

Agus menceritakan ia telah tinggal di Kota Probolinggo selama 40 tahun. Namun selama ini, ia sering berpindah-pindah lokasi.



Agus masih ingat, dia meninggalkan kampung Jogjakarta sejak tahun 1978. Dia maunya merantau dan mencari kerja yang layak. Tapi lantaran hanya tamatan sekolah dasar (SD), dia memilih untuk menjadi pengamen.

Ia mengais rezeki dengan naik turun kereta api (KA) di Jember, Lumajang hingga Surabaya. Saat mengamen, ia bisa tinggal di kota tersebut selama tiga hari.

Di sela-sela mengamen di suatu kota, ia memilih beristirahat di alun-alun. Namun, kemana pun ia pergi untuk mengamen, ia selalu kembali ke Kota Probolinggo. Saat itu, ia memilih tinggal di dekat lokasi yang menjadi taman wisata studi lingkungan (TWSL) saat ini.

“Saya bisa menginap tiga hari di daerah itu saat mengamen. Sisanya, saya tinggal di Kota Probolinggo. Saat di Probolinggo, saya mengamen saat sore, karena siangnya saya bantu pedagang di pasar dan diberi upah,” katanya.

Pada 1982, ia mendapat kabar jika kedua orang tuanya, Fransiskus Harliharjo Husodo dan Siti Khodijah meninggal dunia. Ia sempat pulang untuk pemakaman mereka. Namun dia langsung kembali merantau dan mengamen.

Dia mengamen sampai 1986. Pada tahun tersebut, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang wanita asal Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Ia memutuskan membuka usaha jasa servis kunci.

Ternyata pernikahannya dengan wanita ini hanya bertahan 10 bulan. Mantan istrinya yang namanya ia tidak ingat lagi itu, memilih pergi dari rumah. Agus pun pasif. Dia membiarkannya dan memilih tidak mencari keberadaan mantan istrinya itu.

“Jasa servis kunci ini saya tekuni selama lima tahun sampai tahun 1991. Saya kembali mengamen di tahun berikutnya. Tapi tidak seperti sebelumnya yang berpindah-pindah lokasi. Waktu itu saya memilih hanya mengamen di Probolinggo,” jelas Agus.



Di tahun 2001 dia berhenti mengamen. Usia yang sudah mulai beranjak tua, membuatnya tak mungkin untuk melompat dari kendaraan umum atu ke lainnya. Celakanya dia tidak memiliki keahlian. Sehingga dia mencoba peruntungan dengan mencari urup-urup.

Urup-urup ini didapatkan dari perumahan di sekitar wilayah Mayangan dan dijual secara kiloan. Per kilonya, ia memperoleh uang Rp 2.000. Namun, karena hasilnya yang tidak menentu dan harga jualnya yang murah, kegiatan ini hanya dilakoni sebentar.

Sejak tahun 2005, ia memilih untuk mencari udang di sekitar hutan mangrove Mayangan dan ditekuninya sampai saat ini. Ia lantas memutuskan membuat gubuk dari bambu sebagai tempat tinggal.

“Memang hasilnya tidak pasti, namun lumayan. Saya bisa dapat Rp 10 ribu untuk udang seberat setengah kilo. Ini saya jual ke kampung dan perumahan,” sebutnya dengan tersenyum.

Agus bilang, dia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Namun, ia tidak mengetahui keberadaan saudaranya itu.

Sehari-hari, untuk mandi atau mencuci baju, ia dapatkan dengan meminta warga terdekat. Uang yang diperolehnya dari mencari udang digunakan untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari. Seperti, mi instan dan beras. Ia memasak dengan menggunakan kompor minyak tanah.

“Warga di sini baik-baik. Saya bisa minta air cuma-cuma. Bahkan kadang saya diberi sabun mandi atau sabun cuci dan baju secara gratis. Saya mandi dan cuci baju ya di utara gubuk,” ungkapnya.

Ia berharap bisa memperoleh penghidupan yang lebih baik di usia tuanya. Ia ingin kembali membuka usaha jasa servis kunci. Namun ia butuh modal yang tidak sedikit. Sekitar Rp 5 juta.



“Kalau setiap purnama, air laut pasang, gubuk ya, tenggelam. Seluruh barang-barang termasuk kompor langsung saya amankan ke atas pohon. Kalau saya berteduh menggunakan bambu di pohon ini,” katanya sambil menunjuk potongan bambu yang diletakkan di pohon mangrove dekat gubuk.

Agus berharap, dia masih bisa dipertemukan dengan adik-adiknya yang saat ini sudah paten obor. Dia pun tak mampu untuk mencarinya di Jogjakarta karena banyak alasan. Semoga sehat selalu di usia senjamu... (fun) Editor : Jawanto Arifin
#kakek sebatang kara #hutan mangrove probolinggo #lansia