Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Panen Duit saat jadi Gigolo, Tobat saat Orang Tua Mati

Jawanto Arifin • Sabtu, 29 Oktober 2022 | 23:16 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
PRIA 39 tahun asal Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo ini sudah dua tahun ia memutuskan berhenti di dunia yang kelam itu. Dia keluar ketika ibunya meninggal dunia.

“Semuanya berawal dari kebutuhanku akan uang. Sulit mencari kerja adalah alasan terkuatku,” kata Andre mengawali kisahnya.

Kehidupan Andre sebenarnya jauh dari kata cukup. Sejak duduk di bangku TK, Andre ditinggal mati ayahnya yang terlibat kecelakaan. Semenjak itu dia hanya hidup dengan seorang ibunya dan juga neneknya.

“Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, saat itu ibu jualan jajanan. Bahkan waktu TK sampai SD, saya sering diejek karena ibu saya jualan,” katanya.

Menginjak SMP hingga SMA , Andre sudah terbiasa hidup mandiri. Bahkan mentalnya sudah terbangun dengan baik. Ia tak lagi tak malu untuk berjualan di sekolahnya.

Setiap jam istirahat, dia selalu menjajakan kue buatan ibunya ke teman sekolahnya. “Jadi memang pilih sekolah STM, karena tujuanya biar nanti segera dapat kerja,” tuturnya

Sayangnya saat lulus sekolah, nasib tak seindah yang dibayangkan. Ia sulit mencari pekerjaan. Melamar kerja sana-sini ditolak. Sehingga ia bekerja serabutan. “Saat itu yang penting dapat pekerjaan. Solanya usia ibu saya juga masuk 55 tahun. Sudah sepuh. Jadi saya sering ikut teman kerja jadi kuli bangunan,” katanya.



Rupanya, bekerja sebagai kuli bangunan membuat tubuhnya terbentuk dengan sendirinya. Postur bawaan yang tinggi membuat dirinya punya tubuh atletis. Kulit hitamnya justru mengesankan dia kekar. Apalagi saat otot-ototnya muncul.

Hingga suatu ketika, dia mendapat garapan proyek di Bali. Kerja borongan. Nah kebetulan mandornya mengajaknya untuk tinggal di pula dewata selama sepekan. Itu kira-kira tahun 2006.

Ketika menjadi kuli bangunan di Bali, ia bertemu dengan teman sekolahnya yang rupanya sudah bekerja dan tinggal di sana. Sehingga dia memutuskan untuk tidak kembali ke Probolinggo. “Saat proyek sudah selesai, saya pamit ke juragan jika tidak pulang. Dan juga saya ngabari ke pihak keluarga jika saya bertemu teman sekolah di Bali dan kerja bersama dengannya. Meskipun waktu itu masih belum dapat kerjaan lagi,” katanya.

Lantaran saat itu ia tidak memiliki pekerjaan, maka ia hanya mengikuti temannya yang bekerja di salah satu kafe. Kebetulan juga kafe menyediakan penginapan.

Di sanalah dia bertemu dengan bule cewek yang tertarik dengannya. “Ada perempuan bule. Usianya sekitar 40-an. Dia bilang ke teman saya pakai bahasa Inggris jika suka dan ingin menghabiskan semalam bersama saya. Karena teman saya sudah lama di sana dan juga mahir bahasa Inggris, dia menyampaikan kepada saya,” terangnya.

Lantaran saat itu dia tidak dapat pekerjaan apapun, maka Andre mengiyakan tawaran itu. Apalagi janjinya adalah uang. “Jika tidak salah Rp 1,5 juta. Dibagi dua dengan teman saya. Saya pun mau. Apalagi, bulenya juga bahenol,” tuturnya.

Mulai dari sanalah Andre rupanya ketagihan. Ibarat kucing diberi ikan. Ia pun tak menolak setiap kali ada tawaran serupa. Bahkan, ia bersama dengan temannya sudah membuat “persekongkolan jahat”. Temannya bertugas menawarkan Andre. Tak hanya ke bule. Tetapi juga wisatawan lokal.



Singkatnya, Andre laris. Pernah dalam sehari dia bisa melayani empat hingga lima orang sekaligus. “Ya biar kuat pakai obat. Di Bali ada ramuanya. Jadi meski, tubuh saya warga Indonesia, namun jangkar saya ukuran orang Eropa. Banyak tante-tante Indonesia juga yang sampai kewalahan,” terangnya.

Selama menjadi gigolo, uang yang dihasilkanya lumayan banyak. Bahkan, ia mampu mengirim orang tuanya yang ada di Probolinggo. “Bahkan, jika permintaannya itu sesama lelaki, bayarannya bisa mahal. Saya juga mau-mau saja. Lha wong sampai Rp 10 juta, hanya kencan semalam dengan pria,” katanya.

Namun dua tahun lalu, ia mendapatkan kabar jika ibunya sakit. Sang ibu sakit tiga hari setelah neneknya meninggal dunia. Sehingga ia memutuskan untuk pulang ke Probolinggo. “Saya jarang pulang. Kadang setahun hanya sekali,” katanya.

Saat perjalanan pulang, entah kenapa dadaya terasa sesak. Seolah ia tak kuasa akan melihat ibunya yang tengah sakit. Bahkan yang ia dengar kondisinya sekarat di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Probolinggo.

Saat tiba di Probolinggo, Andre langsung ke rumah sakit. Saat itu dia masih bisa melihat ibunya yang tengah sekarat. “Entah kenapa, seolah ibu saya ingin berbicara sesuatu kepada saya. Sehingga saya buka alat bantu oksigen yang juga menutupi mulutnya. Ibu saya bilang. Balik pulang saja nak. Pekerjaan di sana tidak bagus. Setidaknya ibu bisa tenang ketika lihat kamu kerja dengan baik di sini. Ndak perlu balik ke sana (Bali, red),” kata Andre mengenang.

Ucapan sang ibu menusuk hatinya. Padahal selama ini, dia menduga ibunya tidak pernah tahu apa pekerjaannya. Bahkan soal pekerjannya itu, dia hanya cerita ke rekan kerja.

Andre hanya bisa menganggukkan kepalanya. Hanya satu kali. Sang ibu langsung mengembuskan napas terakhirnya. “Saya syok. Kaki lemas langsung ndlosor di pinggir tempat tidur ibu,” tuturnya.



Semenajak itu, Andre tiadak pernah balik lagi ke Bali. Dia pun bilang ke temannya yang di Bali jika sudah tobat dan tidak mau bekerja seperti itu lagi. “Penyesalan yang dalam, saya tidak bisa menemani ibu saya di saat masa tuanya, Saya tinggal kerja enak-enak di Bali. Padahal saya anak satu-satunya,” tuturnya dengan nada pelan. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin
#gigolo