Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Berjuang agar Dikaruniai Momongan, Mulai Kiai, Medis hingga Angkat Anak

Jawanto Arifin • Senin, 10 Oktober 2022 | 15:08 WIB
LENGKAP: Wafiq dan Nur Hasanah bersama putra putri mereka. Mereka perlu menanti sembilan tahun untuk bisa memiliki buah hati. (Foto: Istimewa)
LENGKAP: Wafiq dan Nur Hasanah bersama putra putri mereka. Mereka perlu menanti sembilan tahun untuk bisa memiliki buah hati. (Foto: Istimewa)
MEMILIKI buah hati adalah tujuan bagi pasangan suami istri (pasutri). Tapi tak semua pasutri diberi amanah. Bahkan ada yang harus berjuang hingga bertahun-tahun. Seperti halnya pasutri Wafiq Abdul Rohim, 42, dan Nur Hasanah, 41. Pasutri asal Kelurahan Sukoharjo, Kanigaran, Kota Probolinggo.

Sejatinya Wafiq dan Nur Hasanah terbilang menikah muda. Pernikahan keduanya dilakukan tahun 2002 lalu. Saat itu, Wafiq masih berusia 22 tahun dan Nur 21 tahun.

Takdir mempertemukan kedua pasangan itu hingga ke pelaminan. Sama dengan harapan pasutri lainnya, Wafiq dan Nur berharap mendapatkan keturunan setelah menikah. Agar rumah tangga mereka kian bahagia.

”Sejak awal menikah inginnya segera punya anak. Semua yang berkeluarga, pasti ingin langsung punya anak,” kata Wafiq.

Tapi Allah berkehendak lain. Setelah menikah, pasutri ini tidak langsung mendapatkan keturunan. Kondisi itu tentunya membuat perasaan Wafiq gelisah. Karena satu tahun setelah menikah, istrinya belum juga hamil.

”Setahun sesudah menikah belum juga ada tanda-tanda istri hamil, jadi saya usaha sowan ke tokoh masyarakat di Banyuanyar. Dengan harapan, doa dan syarat-syarat dari kiai dijalani, Allah berikan jalan untuk miliki momongan,” terangnya.

Sowan ke tokoh agama itu bagian dari ikhtiar. Mereka diminta untuk bersabar.



Tokoh yang dihampiri mereka juga menyarankan agar dapat pelepah pohon kelapa bagian paling atas.

Saking inginnya punya momongan, dia menuruti saran itu. Kebetulan, orang tua istri (Pramo-Aliya) memiliki pohon kelapa. Pohon itu langsung ditebang. Supaya, dapat diambil bagian ujung atas pohon kelapa itu. Syarat itupun dilakoni Nur, untuk bisa segera hamil. Namun, ternyata Allah masih belum berkehendak memberikan anak.

Ada juga ikhtiar yang dikerjakan, sesuai petunjuk dari saudara dan orang lain. Yaitu memakan hati onta. Saran itu pun dilakoni. Kebetulan, ada saudaranya hendak berangkat haji. Dia langsung titip hati onta.

Meskipun harganya cukup mahal, Wafiq dan Nur berusaha dapat membelinya.

”Setelah pulang haji, dan membawa hati onta, saya bayar. Terus saya masak. Direbus sangat lama. Saat dimakan, ternyata hati onta itu keras. Tidak sama dengan hati hewan lainnya. Tapi karena ingin punya anak, meski sulit dikunyah, tetap saya makan hati onta itu,” ungkap Nur.

Ada juga orang yang menyarankan untuk dibawa ke tukang pijet di daerah desa di pelosok Kabupaten Probolinggo. Saat itu, Wafiq tetap berangkat bersama Nur. Dengan harapan, setelah dipijat Nur dapat hamil dan miliki momongan.

Bukan hanya itu, Ada juga yang sampai menyarankan minum jamu yang begitu pahit. Tapi semua ikhtiar dan doa Wafiq dan Nur saat itu belum juga membuahkan harapan manis.



Nur mengaku, ikhtiar untuk mendapatkan momongan tidak hanya melalui jalan pengobatan tradisional. Usaha medis pun dilakukan. Saat itu, Wafiq membawa Nur ke dokter spesialis kandungan. Dengan harapan, dokter kandungan memberikan terapi ataupun obat, yang dapat menyuburkan pasutri tersebut dan membuahkan momongan.

Bahkan, dokter spesialis kandungan yang didatangi tidak hanya satu orang. Sudah pernah mencoba beberapa dokter spesialis kandungan untuk konsultasi dan terapi secara medis. Namun, semua itu tidak membuat Nur hamil dan miliki momongan.

”Saya dan suami punya pegangan uang Rp 2 juta. Sekali periksa ke dokter kandungan itu bayar Rp 500 ribu. Sampai habis uang itu, tapi tidak ada hasil. Akhirnya, tidak dilanjutkan terapi dan konsultasi ke dokter kandungan itu,” terangnya.

Kondis itu diakui Nur, benar-benar menguras rasa sabar dan kekuatan dalam rumah tangganya. Beruntungnya, suaminya terus menguatkan dirinya. Begitu juga sebaliknya. Meski Wafiq saat itu sempat patah semangat, Nur menguatkan dan menyemangati. Karena, anak atau keturunan itu merupakan anugerah dari Allah.

Hingga saat usia pernikahan mereka memasuki usia 4 tahun, Wafiq dan Nur memutuskan untuk mengambil anak untuk menjadi anak angkat. Katanya, mengangkat anak bisa untuk “pancingan”. Mereka berdua percaya akan hal itu.

Kebetulan, kakak Nur bernama Junaidi, sudah memiliki beberapa anak. Ternyata, istri Junaidi yang bernama Rosa, kembali hamil. Atas kebaikan dan kebesaran hati Junaidi dan Rosa, mereka mengizinkan bayi dalam kandungan Rosa, saat lahir nanti menjadi anak angkat Wafiq-Nur.



Sekitar September 2006, lahir putra dari pasutri Junaidi dan Rosa yang diberi nama Rizki. Selepas pulang dari bidan, Rizki si bayi itupun langsung dibawa pulang Wafiq dan Nur. Harapan besar dalam keluarga Wafiq dan Nur mulai tumbuh dengan hadirnya bayi bernama Rizki tersebut. Meski bukan lahir dari rahim Nur, Wafiq dan Nur menyangi Rizki sama seperti anak kandungnya sendiri.

”Alhamdulillah, waktu itu kakak saya dan istrinya mengizinkan Rizki jadi anak saya. Saya senang dan bahagia. Sejak pulang dari bidan, Rizki langsung kumpul dengan saya di rumah,” ujarnya.

Tapi Wafiq dan Nur harus berduka. Saat Rizki berusia 6 bulan, sedang sakit. Bayi ini sakit radang otak dan paru-paru. Kabar itu, seperti halnya petir di siang bolong.

Wafiq dan Nur yang saat itu sudah sangat sayang pada Rizki, terpukul. Mengetahui Rizki sakit, usaha untuk menyembuhkan Rizki dilakukan. Berbagai cara, usaha dan doa dilakukan. Berharap, Rizki dapat kembali sehat dan sembuh dari penyakitnya.

Lagi-lagi, semua atas takdir dan kehendak Allah. Tahun 2007, tepatnya Rizki usia 8 bulan, Allah mengambil Rizki dari pelukan tangan Wafiq dan Nur. Rizki meninggal setelah beberapa hari menjalani perawatan medis di RSUD dr. Mohamad Saleh.

”Rizki meninggal pas usia 8 bulan. Ini sangat memukul hidup saya dan suami,” ungkapnya.

Nur mengaku, setelah ditinggal Rizki meninggal, dirinya merasa berat untuk menjalani kehidupan tersebut. Namun, suaminya memberikan semangat dan berusaha untuk ikhlas.



Hingga akhirnya, dirinya dan suami kembali ikhtiar melalui pengobatan medis maupun cara tradisional. Dirinya bersama suami, kembali mendatangi dokter spesialis kandungan. Konsultasi, periksa sampai meminta obat yang dapat menyuburkan dan bisa mendapatkan momongan. Tetapi, semua itu belum membuahkan hasil.

Hingga di akhir tahun 2010, ada orang yang menyarankan untuk sowan ke seorang tokoh di wilayah Tongas. Saran itupun diamini oleh suami dan langsung berangkat ke Tongas. Di sana, dirinya tidak dipijat. Tetapi, hanya diberi jamu yang sudah dibacakan doa-doa oleh kiai tersebut.

Kemudian, saat pulang dibawakan jamu untuk diminum di rumah. Meksipun rasa jamunya sangat pahit, tetap diminum seperti biasa. Satu minggu berikutnya, dirinya dan suaminya kembali sowan ke tokoh tersebut di Tongas tersebut. Mereka kembali dibacakan doa dan diberikan jamu.

Ternyata, beberapa minggu setelah itu, dirinya telat datang bulan. Hingga akhirnya, diperiksa dinyatakan positif hamil. Sejak itu, dirinya benar-benar menjaga kehamilannya sampai putri pertamanya lahir pada tahun 2011 lalu. Kemudian, tahun 2015 kembali dikaruni anak kedua laki-laki.

”Saya setelah jalani pengobatan tradisional di Tongas, Alhamdulillah ada hasil dan dinyatakan hamil. Wallahua’lam. Saya ingat, positif hamil itu, dua bulan peringati 1.000 harinya, Rizki meninggal. Semua atas kehendak dan takdir Allah. Kita semua wajib sabar, ikhtiar dan doa,” ungkapnya.

 

Makin Bersemangat Bekerja

Wafiq dan Nur kini memiliki dua putra. Cindy yang kini usia 11 tahun dan sekolah kelas 6 di MI Zainul Hasan Kebonsari Wetan Kecamatan Kanigaran. Kemudian putra keduanya, laki-laki yang diberi nama Zidan, dan duduk kelas II di sekolah yang sama dengan kakaknya. Kebahagiaan Wafiq dan Nur, dirasakan lengkap dengan menjadi keluarga sederhana.



”Alhamdulillah punya dua anak, laki dan perempuan. Lengkap sudah. Semuanya sehat, itu yang buat senang. Semuanya sudah besar dan sekolah MI, alhamdulillah,” kata Nur.

Wafiq yang sehari-hari sebagai tukang bangunan, bekerja dengan penuh semangat. Demi untuk menafkahi dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan, hari Minggu yang harusnya libur untuk istirahat, Wafiq sering tetap kerja lembur.

Pasutri itu pun terlihat saling melengkapi dan menyemangati. Nur kini, di teras rumahnya membuka usaha jual minuman es dan cilok. Tidak hanya mengisi waktu sehari-hari, paling tidak usahanya itu dapat menjadi tambahan pemasukan untuk uang jajan anak-anaknya.

”Alhamdulillah bisa usaha jualan es dan pentol cilok gini. Meskipun hasilnya tidak besar, paling gak bisa buat jajan anak-anak. Terus, anak saya biasa minta uang buat beli jajan ke luar, ini bisa makan jualan saya sendiri,” ungkapnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin
#buah hati #pasutri