Pernikahan Budi dengan Siti (juga nama saraman) sebenarnya bahagia. Pria yang seharinya karyawan di perusahaan swasta di Probolinggo, senang walau Siti adalah seorang janda satu anak.
Siti janda setelah bercerai dengan suami pertamanya. Alasannya, sang suami sering main tangan. Siti sering jadi korban KDRT dan berujung proses hukum dan perpisahan. Setelah menjanda, Siti sebenarnya senang saat Budi PDKT ke dirinya. Apalagi Budi adalah pekerja fighter yang bertanggung jawab.
Di awal pernikahan, orang tua Budi sudah punya feeling. Ayah Budi sempat tidak setuju hubungan tersebut. Karena orang tua Budi melihat keluarga Siti kurang baik.
”Sebenarnya orang tua, khususnya bapak sempat tidak setuju saya dengan dia (Siti). Bahkan bapak sampai sakit saat mendengar saya mau menikah dengan Siti. Tapi ibu melihat kasihan ke saya dan Siti, akhirnya mencoba menenangkan dan bapak. Akhirnya, ibu dan bapak berusaha untuk menyetujui,” kata Budi.
Lantaran melihat Budi dan Siti sudah saling suka, akhirnya orang tua Budi berusaha ikhlas dan merestui hubungan Budi dan Siti. Karena mendapatkan restu dari orang tua Budi, akhirnya orang tua Siti mempercepat pernikahan. Budi dan Siti akhirnya duduk di pelaminan.
Bulan pertama awal menikah, hubungan Budi dan Siti terlihat tampak harmonis. Mereka saling memahami dan mengerti. Hingga dua bulan usia pernikahannya, tampak berjalan baik-baik saja. Sayang saat memasuki bulan ketiga dan keempat, hubungan Budi dan Siti tampak mulai berubah. Sikap Siti pada Budi sering kali berubah-ubah.
Budi yang dari keluarga sederhana, ikut tinggal di rumah istri bersama kedua mertuanya. Entah kenapa beberapa bulan setelah menikah, Siti sering isuk dele sore tempe.
”Beberapa bulan awal pernikahan semua baik baik saja. Kebetulan saya tinggal di rumah istri bersama orang tua istri. Tapi setelah sekitar bulan ketiga dan keempat menikah, sikap istri sering tidak konsisten,” ujarnya.
Budi mengaku berusaha untuk memahami dan bertahan dengan sikap istrinya yang berubah. Ternyata, di balik perubahan sikap istrinya itu, ada campur tangan dari mertuanya. Dirinya merasakan kedua mertuanya terlalu mengatur istrinya. Harus ini dan itu. Bahkan, apa yang disarankan mertua ke istrinya, sudah tidak sejalan dengan aturan agama.
”Sampai-sampai, saya tidak boleh memberi uang pada orang tua saya sendiri. Kalau saya beri uang pada bapak ibu saya, mertua juga harus diberi uang. Padahal, sesuai ajaran agama Islam, anak laki-laki tetap wajib patuh dan memberi pada orang tuanya,” ungkapnya.
Kondisi rumah tangganya yang sudah tidak harmonis, sebenarnya tidak pernah diceritakan Budi pada orang tuanya. Bahkan, sampai-sampai di rumah istrinya seperti tidak diperhatikan dan dianggap. Pagi hari untuk sarapan pun, tidak pernah disuruh untuk makan. Sehingga, dirinya tiap pagi numpang sarapan di rumah orang tuanya. Kebetulan, rumah tinggal orang tuanya dengan rumah istrinya tidak jauh.
”Istri sedang sakit, bukannya tidur di kamar sendiri. Tetapi malah tidur di kamar mertua. Jadinya, saya tidak dapat merawat istrinya. Karena saya sungkan dan tidak berani masuk ke kamar mertua,” ceritanya.
Separo tahun usia pernikahannya, ternyata hubungan Budi tak kunjung membaik. Hingga akhirnya, dirinya pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Budi memberanikan diri cerita semua keadaan rumah tangganya. Celakanya, Siti dan orang tuanya, menganggap ini biasa-biasa saja.
Tentu saja saat mendengar semua cerita Budi, bapak dan ibunya langsung meminta agar Budi mengakhiri rumah tangganya. Alasannya, daripada tersiksa dan tidak dihargai sebagai seorang suami. ”Saya pergi dari rumah istri, tanpa bawa apa-apa. Hanya baju yang saya pakai dan alat kerja. Keluarga langsung mengurus perceraian saya,” ujarnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin